<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JANGAN SEMBARANG MENGKOMBINASI OBAT &#8211; IAI NEWS</title>
	<atom:link href="https://iainews.net/tag/jangan-sembarang-mengkombinasi-obat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://iainews.net</link>
	<description>Portal Berita Ikatan Apoteker Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Jan 2024 02:08:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.6</generator>

<image>
	<url>https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/03/cropped-Untitled-1-32x32.jpg</url>
	<title>JANGAN SEMBARANG MENGKOMBINASI OBAT &#8211; IAI NEWS</title>
	<link>https://iainews.net</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jangan Sembarang Mengkombinasi Obat, Hati Hati. Kenali Interaksi Yang Merugikan</title>
		<link>https://iainews.net/jangan-sembarang-mengkombinasi-obat-hati-hati-kenali-interaksi-yang-merugikan/</link>
					<comments>https://iainews.net/jangan-sembarang-mengkombinasi-obat-hati-hati-kenali-interaksi-yang-merugikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas IAI]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jan 2024 01:42:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Apoteker Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Dampak interaksi obat]]></category>
		<category><![CDATA[Interaksi obat]]></category>
		<category><![CDATA[JANGAN SEMBARANG MENGKOMBINASI OBAT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://berita.iai.id/?p=1462</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Ditulis oleh: Dr. apt. Lusy Noviani, MM (Praktisi, Trainer dan Dosen FKIK Universitas Katolik...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Ditulis oleh: Dr. apt. Lusy Noviani, MM (Praktisi, Trainer dan Dosen FKIK Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>TAHUKAH anda, bahwa dua atau lebih obat yang diberikan pada waktu bersamaan dapat mempengaruhi efek masing-masing atau saling berinteraksi.</p>
<p>Interaksi tersebut dapat bersifat potensiasi atau antagonis satu obat oleh obat lainnya, atau kadang dapat memberikan efek yang lain.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-1471" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/01/pexels-dids-1424538.jpg" alt="" width="700" height="467" /></p>
<p>Dengan kata lain, efek interaksi obat dapat menguntungkan atau merugikan terapi (Baxter, 2010).</p>
<p>Meskipun potensi interaksi tidak selalu berdampak pada gejala klinik yang dapat diamati, potensi terjadinya interaksi sebaiknya diminimalkan dan dicegah.</p>
<p>Berbagai faktor dapat mempengaruhi kerentanan pasien terhadap interaksi obat. Pasien yang rentan terhadap interaksi obat antara lain:</p>
<ul>
<li>Pasien lanjut usia</li>
<li>Pasien bayi dan anak</li>
<li>Pasien yang minum lebih dari satu macam obat</li>
<li>Pasien yang mempunyai gangguan fungsi hati dan ginjal</li>
<li>Pasien dengan penyakit akut</li>
<li>Pasien dengan penyakit yang tidak stabil</li>
<li>Pasien yang mempunyai karakteristik genetik tertentu</li>
<li>Pasien yang dirawat lebih dari satu dokter</li>
</ul>
<p>Efek obat dapat bertambah kuat atau berkurang karena interaksi ini.</p>
<p>Akibat yang tidak dikehendaki dari peristiwa interaksi ini ada dua kemungkinan.</p>
<p>Yakni meningkatnya efek toksik atau efek samping obat atau berkurangnya efek klinis yang diharapkan.</p>
<p><strong>Bagaimana dampak bila terjadi interaksi obat?</strong></p>
<p>Potensi keparahan interaksi sangat penting dalam menilai risiko dan manfaat terapi alternatif.</p>
<p>Dengan penyesuaian dosis yang tepat atau modifikasi jadwal penggunaan obat, efek negatif dari kebanyakan interaksi dapat dihindari.</p>
<p>Tiga derajat keparahan  interaksi dapat dikategorikan sebagai berikut:</p>
<figure id="attachment_1473" aria-describedby="caption-attachment-1473" style="width: 1600px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-1473 size-full" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/01/IMG-20240123-WA0001.jpg" alt="" width="1600" height="775" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/01/IMG-20240123-WA0001.jpg 1600w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/01/IMG-20240123-WA0001-768x372.jpg 768w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/01/IMG-20240123-WA0001-1536x744.jpg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption id="caption-attachment-1473" class="wp-caption-text">Gambar 1. Dampak Interaksi Obat</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kombinasi obat apa saja yang berinteraksi dan sering digunakan secara bersamaan?</strong></p>
<p>Beberapa obat yang sering dikombinasikan dalam satu resep sehingga berpotensi menimbulkan interaksi satu sama lain seperti tercantum dalam tabel  dibawah ini.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-1474" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/01/IMG-20240123-WA0002.jpg" alt="" width="1002" height="677" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/01/IMG-20240123-WA0002.jpg 1002w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/01/IMG-20240123-WA0002-768x519.jpg 768w" sizes="(max-width: 1002px) 100vw, 1002px" /></p>
<p>Selain obat yang diresepkan, interaksi juga terjadi pada obat resep dengan obat bebas, dan obat herbal</p>
<p><strong>Bagaimana Strategi penatalaksanana interaksi obat?</strong></p>
<p>Ada beberapa strategi dalam penatalaksanaan interaksi obat meliputi (Fradgley, 2003):</p>
<p><strong>1).</strong> <strong>Menghindari kombinasi obat yang berinteraksi</strong></p>
<p>Jika risiko interaksi pemakaian obat lebih besar daripada manfaatnya maka harus dipertimbangkan untuk memakai obat pengganti.</p>
<p>Pemilihan obat pengganti tergantung   pada   apakah   interaksi   obat   tersebut   merupakan   interaksi   yang berkaitan dengan kelas obat tersebut atau merupakan efek obat yang spesifik.</p>
<p><strong>2).</strong> <strong>Penyesuaian dosis obat</strong></p>
<p>Jika  interaksi  obat  meningkatkan  atau  menurunkan  efek  obat  maka  perlu  dilakukan  modifikasi  dosis  salah  satu  atau  kedua  obat.</p>
<p>Modifikasi dosisi ini untuk  mengimbangi  kenaikan  atau  penurunan  efek  obat  tersebut.</p>
<p>Penyesuaian  dosis  diperlukan  pada  saat mulai atau menghentikan penggunaan obat yang berinteraksi.</p>
<p><strong>3).</strong> <strong>Pemantauan pasien</strong></p>
<p>Jika   kombinasi   yang   saling   berinteraksi   diberikan,   maka   diperlukan   pemantauan  pasien.</p>
<p>Keputusan  untuk  memantau  atau  tidak  tergantung  pada  berbagai  faktor,  seperti  karakteristik  pasien,  penyakit  lain  yang  diderita  pasien,  waktu   mulai   menggunakan   obat   yang   menyebabkan   interaksi   dan   waktu   timbulnya reaksi interaksi obat.</p>
<p><strong>4).</strong> <strong>Melanjutkan pengobatan seperti sebelumnya</strong></p>
<p>Jika  interaksi  obat  tidak  bermakna  klinis  atau  jika  kombinasi  obat  yang  berinteraksi  tersebut  merupakan  pengobatan  optimal,  pengobatan  pasien  dapat diteruskan.</p>
<p>Apoteker    perlu berkolaborasi dengan dokter dan tenaga kesehatan lainnya selama pemberian terapi.</p>
<p>Kajian diperlukan lebih mendalam, terutama pada kajian literatur yang digunakan, mekanisme interaksi dan manajemen yang dilakukan untuk mengurangi potensi yang terjadi, terutama  ketika  interaksi  tersebut  dapat  diantisipasi  dan  dicegah.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-1470 size-full" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/01/strategi-petalaksanaan-obat.png" alt="" width="700" height="409" /></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bagaimana peranan Apoteker untuk mencegah potensi terjadinya interaksi obat?</strong></p>
<p>Interaksi obat dapat terjadi pada kondisi pasien yang memiliki patologik yang berbeda sehingga menjadi tidak mudah memprediksi hasil akhir dari interaksi.</p>
<p>Tantangan terbesar untuk menjamin keamanan terapi yang diberikan adalah memahami kondisi penyakit, memilih terapi yang tepat dan mengurangi kombinasi obat yang mengakibatkan munculnya reaksi obat yang tidak diharapkan.</p>
<p>Apoteker memiliki peranan yang sangat vital untuk membantu pemilihan terapi yang aman dan mencegah potensi terjadinya interaksi.</p>
<p>Beberapa strategi yang dilakukan untuk mencapai tujuan keamanan dan efektivitas terapi antara lain</p>
<ul>
<li>Melakukan pengkajian kondisi klinis, hasil pemeriksaan penunjang dan rencana terapi</li>
<li>Melakukan kolaborasi antar profesional tenaga kesehatan mulai dari peresepan, pemberian obat sampai dengan monitoring kondisi pasien</li>
<li>Melakukan rekonsiliasi untuk memastikan obat yang diberikan tidak berinteraksi dengan obat sebelumnya atau obat yang biasa digunakan pasien</li>
<li>Membuat catatan terintegrasi terkait kondisi pasien</li>
<li>Meningkatkan kompetensi dengan terus mengupdate pengetahuan terkait keamanan obat dengan membaca literatur/referensi yang menjadi acuan dalam praktek.</li>
</ul>
<p>Teman sejawat dapat memperoleh modul lengkap panduan interaksi obat yang dapat diakses pada  laman https://mimseducation.com/id/course?association_id=4, yang terbit di bulan November 2023</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Armahizer M, Kane-Gill SL, Smithburger PL dkk (2012). Comparing drug-drug interactions severity for clinician opnion to proprietary data bases. Adc Pharmacoepidem Drug Saf. 1: 4</p>
<p>Baxter, K. (2010). Stockley’s Drug Interaction. A source book of Interaction, their mechanisms, clinical importance and management. 9<sup>th</sup> ed. London Pharmaceutical Press, UK</p>
<p>Leone R, Magro L, Moretti U dkk (2010) Identifiying adverse drug reactions associated with drug drug  interactions: data mining of a spontaneous reporting database in Italy.</p>
<p>Phansalkar S, Desa A, Choksi A dkk (2013) Criteria for assessing high priority drug-drug interactions for clinical decision support in electronic health records. BMC Med Inform decision Making.***</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/jangan-sembarang-mengkombinasi-obat-hati-hati-kenali-interaksi-yang-merugikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
