Site icon IAI NEWS

Sinergi Lintas Sektor, PC IAI Wajo Gelar FGD Pengendalian Resistensi Antimikroba

SENGKANG, IAI News — Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (PC IAI) Kabupaten Wajo menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) lintas sektor bertajuk “Penggunaan Antibiotik yang Rasional di Kabupaten Wajo: Membangun Kesepahaman Implementasi Kebijakan Antibiotik” di Aula Sipakalebbi, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kabupaten Wajo, Jumat (3/7/2026).

Kegiatan ini merupakan upaya PC IAI Wajo untuk memperkuat penggunaan antibiotik secara rasional sekaligus mendukung pengendalian resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR) melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Wajo.

Sambutan dan Sekaligus Membuka Kegiatan FGD : “Penggunaan Antibiotik yang Rasional di Kabupaten Wajo: Membangun Kesepahaman Implementasi Kebijakan Antibiotik.” Oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab Wajo Dr. drg. Hj. Armin A.R., M.Kes.

Ketua PC IAI Kabupaten Wajo, apt. Rahmah Mustarin, S.Farm., M.PH, menjelaskan bahwa FGD tersebut bertujuan mengidentifikasi berbagai tantangan di lapangan, menghimpun masukan dari lintas sektor, serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi acuan pemerintah daerah dalam pengendalian penggunaan antibiotik.

“Resistensi antimikroba merupakan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Melalui kolaborasi ini, kami ingin membangun kesepahaman agar implementasi kebijakan terkait pengawasan dan penggunaan antibiotik di Kabupaten Wajo dapat berjalan lebih optimal, terukur, dan tepat sasaran,” ujar apt. Rahmah.

FGD menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, organisasi profesi, pengawas obat, legislatif, dan akademisi. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pengurus Daerah (PD) IAI Sulawesi Selatan, apt. Andi Alfian, S.Si., M.Si., Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Wajo Fery Surachmat, S.E., S.Farm., M.AP, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo drg. Hj. Armin A.R., M.Kes. yang didampingi apt. Sri Muntani, S.Si., M.AP, serta perwakilan Loka POM, Sabaruddin, S.Si.

Selain itu, diskusi juga diikuti oleh perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Wajo, Perhimpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) PD IAI Sulawesi Selatan yang diwakili apt. Ridwan, S.Si., serta akademisi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Almarisah Madani (UNIVERAL), dan Universitas Mega Buana (UMB) Palopo bersama jajaran pengurus PC IAI Wajo.

Forum yang berlangsung sejak pukul 08.00 WITA tersebut membahas berbagai isu strategis, mulai dari pola peresepan antibiotik, pengawasan distribusi obat, hingga pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan antibiotik secara bijak dan bahaya self-medication tanpa indikasi yang tepat.

Hasil pembahasan akan dirumuskan menjadi dokumen rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Kabupaten Wajo, khususnya Dinas Kesehatan dan DPRD, dalam memperkuat regulasi serta pengawasan penggunaan antibiotik di daerah.

Foto Bersama Pada Kegiatan FGD “Penggunaan Antibiotik yang Rasional di Kabupaten Wajo : Membangun Kesepahaman Implementasi Kebijakan Antibiotik.”

Dalam forum tersebut, para peserta juga menekankan pentingnya sinergi antarinstansi dalam menghadapi tantangan resistensi antimikroba. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, pengawas obat, tenaga kesehatan, dan akademisi dinilai menjadi faktor penting untuk mewujudkan sistem pengawasan penggunaan antibiotik yang lebih efektif dan terintegrasi.

Sebagai bentuk komitmen bersama, kegiatan ditutup dengan penandatanganan Pakta Integritas oleh seluruh perwakilan instansi yang hadir. Penandatanganan tersebut menjadi simbol komitmen lintas sektor dalam mendukung implementasi kebijakan penggunaan antibiotik yang rasional di Kabupaten Wajo.

Menutup kegiatan, apt. Rahmah Mustarin menegaskan bahwa FGD dan penandatanganan pakta integritas merupakan langkah awal dari upaya berkelanjutan dalam pengendalian resistensi antimikroba di Kabupaten Wajo.

“FGD dan pakta integritas yang kita tandatangani hari ini merupakan fondasi awal. Selanjutnya, tim perumus dari IAI bersama akademisi akan menyusun rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Wajo sebagai bahan penyusunan regulasi daerah,” jelasnya.

Ia berharap kolaborasi lintas sektor yang telah terbangun dapat terus berlanjut sehingga penggunaan antibiotik yang rasional semakin terwujud dan masyarakat Kabupaten Wajo memperoleh perlindungan yang lebih baik dari ancaman resistensi antimikroba.

Exit mobile version