Site icon IAI NEWS

Setahun Apoteker Penyuluh TB Sulsel: di 2025 ‘Apoteker Bertamu’ Jadi Program Kolaboratif Bersama Kampus PSPPA

SETAHUN kepengurusannya, Apoteker Penyuluh TB (Tuberkulosis) Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Sulawesi Selatan (Sulsel) tetap tunjukkan peran dan eksistensinya di masyarakat. Salah satunya adalah melakukan kolaborasi bersama mahasiswa/i calon apoteker dari semua kampus Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) di Sulawesi Selatan yang melaksanakan PKPA di fasilitas pelayanan kesehatan yaitu Puskesmas.

Pengurus Perhimpunan Penyuluh TB PD IAI Sulsel diketuai oleh Dr. apt. Saparuddin Latu, S.Si, M.Kes, yang tetap semangat dan optimis dalam menjalankan program kerja dalam kepengurusannya.

Pengurus Perhimpunan Apoteker Penyuluh TB IAI Sulsel

”Program penyuluh TB ini harus dilaksanakan sebagai tugas kita di perhimpunan PD IAI Sulsel, yang merupakan program pemerintah,” ujar apt. Latu yang merupakan dosen Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker.

Selama kepengurusan ini, para pengurus selalu aktif dalam memberikan penyuluhan di masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan tempat bertugas dan institusi tempat mengajar. Kepengurusan perhimpunan penyuluh TB bukan hanya dari praktisi yang banyak melibatkan apoteker dari Puskesmas Rumah sakit, dan komunitas. Tetapi juga melibatkan akademisi yang berasal  dari beberapa perguruan tinggi di Sulsel sebagai pengurus, yang mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Para akademisi ini di antaranya berasal dari Universitas Hasanuddin, Universitas Mega Buana, Universitas Almarisah Madani, Universitas Muhammadiyah Makassar dan Universitas Mega Rezky.

Apoteker Bertamu

Apoteker Bertamu adalah sebuah program inisiatif yang digagas oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Program ini umumnya melibatkan kunjungan apoteker langsung ke rumah-rumah atau komunitas untuk memberikan edukasi kesehatan, konsultasi, dan pendampingan.

  1. Deteksi Dini dan Edukasi Penyakit Prioritas

Program ini seringkali secara spesifik menargetkan penyakit dengan beban kasus tinggi, seperti Tuberkulosis (TB). Dalam konteks TB, apoteker bertamu dilakukan untuk:

Deteksi dini dan edukasi penyakit prioritas merupakan fokus utama dari program Apoteker Bertamu sebagai Penyuluh TB, yang bertujuan untuk menggerakkan peran apoteker dalam intervensi kesehatan berbasis komunitas. Karena Indonesia menghadapi beban kasus tinggi pada penyakit menular dan tidak menular tertentu, program ini secara spesifik menargetkan masalah kesehatan tersebut.

Apoteker Bertamu oleh apt. Irma, S.Farm selaku Sekretaris penyuluh TB PD IAI Sulsel

Fokus Penyakit Prioritas

Meskipun dapat disesuaikan dengan kebutuhan komunitas, dua penyakit yang paling sering menjadi target utama dalam kegiatan “Apoteker Bertamu” adalah:

  1. Tuberkulosis (TB)

TB adalah salah satu penyakit menular dengan kasus tertinggi di Indonesia. Peran apoteker penyuluh TB sangat vital karena TB memerlukan pengobatan jangka panjang (minimal 6 bulan).

Tujuannya melakukan deteksi dini yaitu menemukan kasus TB baru secara aktif (Active Case Finding) dan mencegah penularan. Kemudian edukasi yang diberikan yaitu meningkatkan kepatuhan pasien minum obat.

Kegiatan Deteksi yaitu  skrining Gejala: Apoteker Penyuluh TB mewawancarai warga tentang gejala utama, terutama batuk berdahak 2 minggu, demam, dan keringat malam. Selanjutnya rujukan: Jika ditemukan gejala, apoteker akan merujuk warga ke Puskesmas/Faskes untuk pemeriksaan dahak (tes cepat molekuler) dan diagnosis lebih lanjut.

Edukasi yang diberikan yaitu pertama pentingnya kepatuhan: Menjelaskan mengapa obat TB harus diminum teratur dan tuntas (untuk menghindari TB Resistan Obat/TB RO). Kedua, TOSS TB: Edukasi tentang pengobatan tuntas dan dukungan sebagai PMO (Pengawas Menelan Obat). Ketiga,  pencegahan: Sosialisasi etika batuk dan pentingnya ventilasi rumah.

  1. Penyakit Tidak Menular (PTM)

PTM seperti hipertensi (darah tinggi), diabetes, dan dislipidemia (kolesterol/asam urat tinggi) menjadi penyebab utama kematian.

Tujuannya melakukan deteksi dini yang dilakukan dengan Skrining risiko PTM untuk intervensi gaya hidup lebih awal. Edukasi yang diberikan yakni memberikan konsultasi farmasi klinis dan manajemen penyakit.

Kegiatan Deteksi. Pertama, pengukuran fisik: Melakukan pemeriksaan dasar seperti mengukur Tekanan Darah, Gula Darah Sewaktu, Kolesterol, dan Asam Urat. Kedua, penilaian risiko: Menilai risiko PTM berdasarkan hasil pengukuran dan faktor gaya hidup (riwayat merokok, diet, dan aktivitas fisik).

Edukasi yang diberikan yakni Informasi Hasil: Menjelaskan arti hasil pengukuran dan apa yang harus dilakukan jika nilainya tinggi (merujuk ke dokter). Edukasi Obat: Bagi pasien PTM, apoteker memberikan konseling tentang cara penggunaan obat rutin yang benar dan bagaimana menghindari interaksi obat/makanan. CERDIK: Mendorong gaya hidup CERDIK (Cek kesehatan, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat, Istirahat cukup, Kelola stres).

Proses Pelaksanaan Deteksi Dini dan Edukasi

Program “Apoteker Bertamu” memiliki keunggulan karena pelaksanaannya dilakukan secara langsung di lingkungan masyarakat, memungkinkan komunikasi tatap muka yang efektif.

  1. Peningkatan Kepatuhan Pengobatan

Apoteker Penyuluh TB memberikan pendampingan intensif kepada pasien yang sedang menjalani terapi jangka panjang, terutama pasien TB (memastikan kepatuhan minum OAT) dan penyakit kronis lainnya. Apoteker memastikan pasien memahami dosis, cara penggunaan, dan efek samping obat.

  1. Implementasi DAGUSIBU

Program ini sering terintegrasi dengan edukasi DAGUSIBU (DApatkan, GUnakan, SImpan, BUang obat) untuk mengajarkan masyarakat cara mengelola obat dengan benar dan aman di lingkungan rumah.

Program ini bertujuan untuk menjadikan apoteker sebagai mitra kesehatan tepercaya di komunitas, berkontribusi langsung pada upaya pemerintah dalam eliminasi penyakit, serta meningkatkan penggunaan obat yang rasional di masyarakat.

Apoteker Penyuluh TB Kolaborasi Mahasiswa/i PSPPA

Pentingnya kolaborasi antara Apoteker Penyuluh TB (Tuberkulosis) dengan Calon Apoteker (Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker/PSPPA) dalam kegiatan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) sangat besar, terutama dalam mendukung program eliminasi TB Nasional.

Kolaborasi ini memastikan calon apoteker mendapatkan pengalaman praktis yang spesifik, sementara program penanggulangan TB di masyarakat mendapatkan dukungan tenaga ahli yang teredukasi.

  1. Peningkatan Kompetensi Klinis Calon Apoteker

Kolaborasi ini memberikan manfaat langsung pada peningkatan kemampuan klinis dan komunikasi calon apoteker:

apt. Irma, S.Farm bersama mahasiswa/i PKPA PSPPA Univeral
  1. Dukungan Terhadap Program Eliminasi TB

Kehadiran calon apoteker dalam PKPA memberikan sumber daya tambahan yang signifikan untuk mendukung program penanggulangan TB di lapangan:

Secara keseluruhan, kolaborasi ini menciptakan: Calon apoteker memperoleh pengalaman klinis esensial, sementara program TB Nasional mendapatkan tenaga penyuluh dan pendamping yang teredukasi dan bersemangat.

Wakil Ketua Perhimpunan Apoteker Penyuluh TB, apt. Yuri Pratiwi Utami mengatakan: ”Program ini akan menjadi program wajib kita di dalam kepengurusan, sehingga kolaborasi bisa memperkuat peran kita sebagai penyuluh dan menjalankan program pemerintah zero TB”.

”Rencana kegiatan apoteker bertamu sebagai penyuluh TB ini akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 2025  di Pusbindu Puskesmas Batua, yang berkolaborasi dengan mahasiswa/i PSPPA Universitas Hasanuddin dan Universitas Almarisah Madani dalam rangka World Pharmacist Day 2025”.–

https://farmalkes.kemkes.go.id/2024/12/atasi-tuberkulosis-farmalkes-optimalkan-peran-apoteker/

https://iainews.net/empati-edukasi-apoteker-kunci-kesembuhan-tb/

Exit mobile version