Site icon IAI NEWS

Semaglutide Harapan Bagi Penderita Obesitas

JAKARTA, IAINews –  Saat ini di dunia terdapat 764 juta penduduk yang mengalami obesitas. Di Indonesia sendiri 1 dari 3 penduduk mengalami obesitas. Sayangnya banyak pihak salah kaprah dalam menangani masalah obesitas dan tidak menganggapnya sebagai sebuah penyakit.

‘’Padahal para ahli sepakat, bahwa obesitas merupakan sebuah penyakit kronis, karena menjadi pintu gerbang munculnya berbagai penyakit lain yang membahayakan jiwa, ungkap Dr dr Gaga Irawan Nugraha, M.Gizi, Sp.GK, Subsp. KM, staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.

Dr Gaga Irawan menyampaikan hal itu dalam webinar bertajuk ‘Integrating Semaglutide in Obesity Management Beyond Weight Loss’ yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) bekerjasama dengan PT Pharma Tekno Solusi dan didukung PT Novo Nordisk Indonesia, Sabtu, 6 Desember 2025 lalu.

Dr dr Gaga Irawan Nugraha menyampaikan materi dipandu apt. Yulianto ‘Romo Sukir’, M.P.H.

‘’Karena itu obesitas harus mendapatkan penanganan memadai dengan pengobatan yang tepat,’’ tutur dr Gaga Irawan Nugraha.

Menurut dr Gaga Irawan, obesitas akan berkaitan dengan kemunculan berbagai penyakit, yakni penyakit yang berkaitan dengan masalah kardiovaskuler seperti stroke, dislipidemia, hipertensi, emboli paru, diabetes tipe 2, infertility dan non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), gollstone, thrombosis dan gout.

Penyakit lain yang berawal dari obesitas berkaitan dengan fungsi tubuh seperti backpain, GERD, asthma incontinence, ostearthritis dan sleep apnoea. Selain itu obesitas juga menjadi pintu gerbang ke masalah depresi dan kecemasan.

‘’Karena tidak dianggap sebagai penyakit, maka penderita obesitas tidak mendapat jaminan di BPJS maupun asuransi swasta. Tapi kita bersyukur bahwa Menteri Kesehatan telah mengeluarkan KMK No. HK.01.07-Menkes-509-2025 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa,’’ tutur dr Gaga Irawan.

Di Asia Pasifik, cut off untuk obesitas adalah untuk orang dengan IMT lebih dari 25,0 kg/m2. Selain indikator berdasar Indeks  massa tubuh (IMT), dr Gaga menyampaikan indikator lain, yaitu pengukuran lingkar pinggang serta rasio pinggang-tinggi dan rasio pinggang-pinggul.

Untuk laki-laki dengan lingkar pinggang lebih 90 cm dan perempuan lebih dari 80 cm sudah dikatagorikan obesitas. Sedang rasio pinggang-tinggi  lebih dari 0,5 dan rasio pinggang-pinggul lebih dari 0,9 untuk laki-laki dan 0,85 untuk perempuan sudah termasuk obesitas.

‘’Pengukuran rasio pinggang-tinggi ini dapat digunakan untuk mengkorelasikan obesitas dengan masalah kesehatan. Sementara rasio pinggang-pinggul berkaitan dengan risiko penyakit metabolik,’’ jelas dr Gaga Irawan.

Penyebab Obesitas dan Cara Mengatasinya

Menurut dr Gaga Irawan, salah satu penyebab obesitas adalah keinginan makan yang dikontrol sebenuhnya oleh otak. Otak lah yang mengontrol keinginan untuk makan, baik homeostatic eating yang dikontrol oleh endokrin, hedonic eating (saat lapar, makan dan muncul rasa kenyang) maupun cognitive feedback.

Cognitive feedback ini merupakan self-regulatory processes influencing eating, keinginan makan yang dapat dikendalikan oleh diri sendiri.

‘’Cognitive feedback inilah yang harus kita perhatikan, bagaimana kita mengatur otak agar keinginan makan dapat ditekan. Hal itu sudah biasa dilakukan saat seseorang menjalani puasa,’’ terang dr Gaga.

‘’Karena behaviour, ketika dimotivasi untuk tidak makan, maka bisa diatur untuk tidak makan,’’ lanjut dr Gaga Irawan.

Dari pengalaman klinis dr Gaga Irawan sendiri, 52 persen pasien melaporkan berat badannya kembali naik, bahkan lebih tinggi dari berat awal setelah 6 bulan diet.

Hal itu terjadio karena saat penurunan berat badan dengan pengaturan asupan makan dan peningkatan latihan, bersamaan dengan itu terjadi penurunan hormon kenyang, amylin, leptin, PYY, insulin dan GLP-1. Hal ini mengakibatkan rasa lapar meningkat, di sisi lain menurunnya hormon leptin menyebabkan kebutuhan energi menurun, sehingga dengan pola makan yang sama, berat badan jadi lebih mudah naik.

Padahal dari berbagai literatur dan pengalaman klinis, penurunan berat badan mampu menurunkan prevalensi berbagai penyakit.

Berat badan yang turun 5 persen menurunkan hipertensi dan hiperglikemia, BB turun 5 – 10 persen menghambat diabetes tipe 2, PCOS, dislipedia dan NAFLD). Bila BB turun 10 – 15 persen akan mempengaruhi, menyembuhkan dan mengurangi penyaki cardiovascular, GERD urinary stress incontinence, osteoarthritis dan sleep apnea.

Ketika BB turun lebih dari 15 persen bisa meremisi diabetes tipe2, menurunkan kematian akibat penyakit cardiovascular dan HBSAc-1 menjadi normal kembali.

Persoalannya adalah, tidak semua orang mampu mempertahankan berat badan yang telah diperoleh dengan pola asupan makan dan aktivitas fisik yang telah dilakukan.

‘’Biasanya orang sulit mempertahankan berat badan yang telah diperoleh. Disinilah perlu dilakukan tindakan farmakoterapi,’’ tutur dr Gaga Irawan.

Dr Gaga Irawan kemudian memperkenalkan semaglutide, sebuah peptida yang meniru GLP-1 (glucagon-like peptida-1) yang merupakan hormon yang berperan dalam meregulasi berat badan.

GLP-1 ini disintesa di otak  dan sel L di usus dan dieskpresikan di otak, jantung, saluran cerna, pankreas, paru-paru dan otot. GLP-1 dikeluarkan sebagai respon setelah seseorang mengkonsumsi makanan.

GLP-1 akan mengurangi energi intake, rasa lapar dan meningkatkan rasa kenyang saat waktu makan berikutnya.

Semaglutide merupakan analog GLP-1 yang dimodifikasi strukturnya dengan menambahkan asam amino di rantai 8 dan 34 serta spacer di rantai 18. Hasil modifikasi tersebut adalah memperpanjang halftime menjadi 1 minggu.

Semaglutide akan mengurangi asupan energi, rasa kapar dan frekeuensi keinginan untuk makan. Disamping itu juga meningkatkan rasa kenyang yang menyebabkan orang tidak ingin makan dalam jangka waktu lama, sehingga berat badan turun.

Berdasarkan riset yang dilakukan selama 2 tahun di berbagai negara, pasien yang menerima semaglutide turun berat badan lebih dari 20 persen dalam 68 minggu pemakaian.

Dengan mengkonsumsi semaglutide dan terjadi penurunan berat badan, maka akan mengurangi risiko tingkat kefatalan akibat serangan jantung, menurunkan lingkar pinggang hingga 13,5 persen, tekanan darah sistolik turun 6,2 mmHg, diastolik turun 2,8 mmHg, kolesterol LDL turun 3 persen dan trigliserida turun 22 persen.

Disamping itu pasien yang menggunakan semaglutide mengalami reverse diabetes sebanyak 84 persen, dindikator gula darah membaik dan meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan fungsi fisik dan masalah jantung.

Sebagaimana obat lainnya, semaglutide tentu juga memiliki risiko efek samping. Efek samping yang timbul tergolong ringan hingga sedang, seperti mual, muntah. Karena itu pemberian dosis semaglutide harus secara bertahap dari yang paling ringan yakti 0.25 mg hingga 2,4 mg.

‘’Pada intinya, semaglutide aman digunakan untuk lansia, remaja diatas 12 tahun, namun jangan digunakan pada wanita hamil dan menyusui. Juga harus diperhatikan interaksi obat yang membutuhkan absorpsi cepat, karena semaglutide mengurangi absorpsi berbagai obat,’’ tegas dr Gaga Irawan.

Menurut dr Gaga Irawan, semaglutide merupakan obat yang kini tengah ditunggu masyarakat yang memiliki masalah dengan obesitas.

‘’Semaglutide telah lama ditunggu, dan menjadi harapan bagi penderita obesitas,’’ tuturnya.

Selain dr Gaga Irawan, hadir pula sebagai pembicara apt. Rahmat Hidayat Syah, S.Farm, M.Sc seorang influencer yang membawakan materi ‘101 Semaglutide in Obesity Treatment for Pharmacist’, webinar dipandu apt. Yulianto ‘Romo Sukir’, M.P.H..***

Exit mobile version