Antara Ikhtiar di Meja Apotek dan Ketetapan di Langit Pasien sering kali berucap secara spontan, “Pak Apoteker, kalau saya tidak minum obat ini, saya tidak bisa sembuh.” Kalimat sederhana tersebut merupakan alarm tauhid bagi seorang apoteker muslim. Apoteker memegang tanggung jawab ganda di balik meja pelayanan: memastikan pasien patuh menjalani medikasi, sekaligus menjaga agar hati pasien tetap bergantung kepada Sang Maha Penyembuh.
Menyeimbangkan Syariat Obat dengan Hakikat Kesembuhan
Gus Baha sering mengingatkan pentingnya menghindari sikap “mensyirikkan” sebab. Obat hanyalah sebab, sedangkan penyembuh sejati adalah Allah. Ilmu farmakologi mengajarkan apoteker mengenai mekanisme aksi obat pada reseptor secara detail, namun keimanan menuntun pada petunjuk Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara ayat 80: “Wa idza maridhtu fahuwa yasyfiin” (Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku). Apoteker bertugas menjadi jembatan yang menjelaskan bahwa obat merupakan “ikhtiar syar’i” sebagaimana perintah Nabi SAW dalam hadits shahih: “Tadawau ‘ibadallah…” (Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya).
Ibnu Sina: Sang Panutan Pengobat yang Selalu Bersujud
Ibnu Sina (Avicenna) patut menjadi teladan bagi apoteker masa kini. Beliau merupakan bapak kedokteran dan farmasi modern yang menemukan hukum penularan penyakit, namun beliau tidak pernah merasa ilmunya sebagai penentu tunggal kesembuhan. Sejarah mencatat bahwa setiap kali menemui kesulitan dalam memecahkan masalah medis atau meracik formula obat, Ibnu Sina akan berwudhu dan mengerjakan shalat dua rakaat di masjid. Praktik tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual farmasi harus tunduk di hadapan kebesaran Allah. Laboratorium dan mihrab merupakan dua entitas yang tidak terpisahkan dalam pandangan Ibnu Sina.
Apoteker: Pemandu Spiritual di Garis Depan
Penyerahan obat oleh apoteker bukan sekadar menjalankan aturan standar Pemberian Informasi Obat (PIO). Momen tersebut merupakan kesempatan berharga untuk menyentuh aspek spiritual pasien. Penjelasan dosis akan terasa lebih bermakna jika disertai kalimat pengingat: “Obat ini diminum secara teratur, semoga menjadi jalan yang diredai Allah untuk kesembuhan Ibu.” Kalimat tersebut membantu apoteker dalam menjaga tauhid pasien. Apoteker tidak sedang meremehkan khasiat obat, melainkan sedang memuliakan obat sebagai perantara rahmat Allah di dunia.
Menjadi Penyembuh yang Melayani dengan Cinta
Apoteker merupakan profesi mulia karena bersentuhan langsung dengan harapan manusia. Jalaluddin Rumi dalam syairnya mengatakan, “Cinta adalah obat dari segala obat.” Pelayanan yang dilandasi cinta dan niat menjaga akidah pasien akan mengubah setiap detik aktivitas apoteker di apotek menjadi bentuk sujud yang panjang kepada Allah.

















