Sleman, IAINews – Bicara soal “Ras Terkuat di Muka Bumi”, jangan bayangkan pahlawan super di film bioskop. Tengoklah ke dapur-dapur di Dusun Blekik, Sardonoharjo, Sleman, DIY, para ibu—yang kita sebut sebagai “Manajer Peradaban”—sedang berjihad di depan penggorengan. Siapa sangka bahwa di sana rahasia kebahagiaan rumah tangga dan keluarga sakinah ternyata bisa dimulai dari sebuah istilah laboratorium yang mentereng: Saponifikasi.
“Apoteker Dapur” yang disayang Allah
Ibu-ibu bukan sekadar tukang goreng bakwan atau ayam geprek. Merekalah aktris intelektual yang membuat ekonomi keluarga berputar. Romo Sukir dalam tausiahnya di halaman Masjid Al Huda, menegaskan bahwa tangan yang terkena cipratan minyak saat menyiapkan gizi keluarga adalah tangan yang dicintai Allah.
“Jangan merasa ‘hanya’ ibu rumah tangga. Ibu-ibu adalah pilar iman sekaligus ekonomi, jika ibu-ibu cerdas mengelola dapur, maka kokohlah peradaban bangsa ini,” ujar Romo Sukir yang disambut anggukan mantap puluhan ibu-ibu KUBE Blekik.
Fiqih Jelantah: Manakala Minyak Bekas Tak Boleh Jadi “Mantan” yang Menyakitkan
Persoalannya, setiap ada ayam geprek yang lezat, selalu ada “dosa” yang tertinggal: Minyak Jelantah. Selama ini, jelantah sering dianggap seperti ‘mantan’; sudah tidak dipakai, tapi kalau dibuang sembarangan malah bikin pusing.
Romo Sukir mengingatkan bahwa membuang minyak bekas ke selokan atau tanah adalah bentuk Ifsad (perusakan) terhadap bumi. “Selokan bisa kena ‘serangan jantung’ karena lemak jelantah yang mampet. Padahal, Allah melarang kita berbuat rusak di bumi (Al-A’raf: 56). Peran Khalifah (manajer) di bumi itu dimulai dengan memastikan jelantah tidak mengotori air sumur anak cucu kita,” pesannya dengan nada jenaka namun menancap di hati.
Resep “Saponifikasi”: Mengajak Minyak untuk Bertaubat
Para dosen dari Farmasi UII memastikan keajaiban ilmu Farmasi masuk dan berperan di sini. Bersama Dr. apt. Viviane Annisa, apt. Siti Zahliyatul Munawiroh, Ph.D., serta pakar optimasi apt. Fajar Aji Lumakso, M.Pharm.Sci., minyak jelantah diajak untuk “bertaubat” melalui proses Saponifikasi.
Saponifikasi adalah proses kimiawi di mana minyak yang kotor dan lengket diubah wujudnya menjadi sabun pembersih. Berikut adalah tips jitu dari tim Farmasi UII agar minyak sampah jadi berkah:
- Proses “Istighfar” (Penjernihan): Sebelum diproses, jelantah harus dibersihkan “hatinya” (kotorannya) dengan direndam arang aktif semalam. Untuk menghilangkan bau “mantan” yang membandel, minyak dipanaskan dengan irisan jahe, sereh, atau daun jeruk.
- Reaksi Inti (Saponifikasi): Minyak yang sudah jernih dicampur dengan larutan basa kuat (Kalium Hidroksida untuk sabun cair, atau Natrium Hidroksida untuk sabun padat).
- Transformasi: Dari 1 liter jelantah, para ibu bisa menghasilkan 2-3 liter sabun cuci piring yang ampuh melibas lemak. Sesuatu yang tadinya sumber penyakit, berubah menjadi alat pembersih yang hemat biaya.
Keluarga Sakinah: Hemat di Kantong, Berkah di Akhirat
Kenapa bisa bikin makin disayang suami? Bayangkan, biaya belanja sabun cuci piring bisa dipangkas, dapur makin bersih, dan selokan kampung tidak lagi mampet. Suami mana yang tidak bangga punya istri kreatif yang mampu mengubah limbah menjadi peluang ekonomi keluarga?
“Ilmunya sangat bermanfaat. Selama ini jelantah cuma dibuang, ternyata bisa jadi barang berguna dan bisa membantu ekonomi keluarga,” ungkap Ibu Sugiyah, perwakilan KUBE Blekik dengan wajah berseri.
Pengabdian dari Tetangga untuk Tetangga
Program yang didukung oleh Hibah Unggulan Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII ini bukan sekadar workshop biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa Jurusan Farmasi UII adalah “tetangga yang baik” bagi masyarakat Sleman.
Farmasi UII tidak hanya sibuk dengan mikroskop di laboratorium, tapi juga turun ke lapangan untuk memastikan ilmu pengetahuan memberikan manfaat langsung. Mengolah jelantah menjadi sabun bukan hanya soal kimia, tapi soal cinta pada alam, pengabdian pada umat, dan cara cerdas menuju surga melalui pintu dapur yang bersih.
Dusun Blekik kini bersiap menjadi dusun percontohan. Dusun di mana para wanitanya bukan hanya Ras Terkuat, tapi juga Ras Tercerdas dalam menjaga bumi. Jelantah: Dari Sampah Jadi Berkah!

