Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Sabar dan Syukur: Dua Sayap Apoteker dalam Melayani Umat

Penulis: apt. Yulianto, M.P.HEditor: apt. Yulianto, M.P.H
banner 120x600
banner 468x60

Menemukan Makna Sabar di Balik Keluhan Pasien Apoteker sering kali berhadapan dengan pasien yang datang dalam kondisi emosi tidak stabil akibat rasa sakit yang diderita. Menghadapi situasi tersebut, kesabaran bukan sekadar kemampuan untuk menunggu, melainkan kemampuan menjaga sikap saat sedang diuji. Apoteker muslim meyakini bahwa setiap detik kesabaran dalam memberikan penjelasan obat merupakan bentuk ibadah yang luhur. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153: “Ya ayyuhalladzina amanu-sta’inu bish-shabri wash-shalah, innallaha ma’ash-shabirin” (Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar).

Syukur sebagai Energi Penggerak Pelayanan

Iklan ×

Syukur adalah kunci yang mengubah beban pekerjaan menjadi sebuah kenikmatan. Apoteker yang pandai bersyukur tidak akan mengeluh meski tumpukan resep menggunung di atas meja. Ia menyadari bahwa profesinya adalah pilihan Allah untuk menjadi perantara kesembuhan bagi hamba-hamba-Nya yang lain. Syukur ini sejalan dengan janji Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7 bahwa Dia akan menambah nikmat bagi mereka yang bersyukur. Rasulullah SAW juga bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, dan itu pun baik baginya” (HR. Muslim).

Baca Juga  Durian Sibolga, Rasa yang Memeluk Lelah Relawan

Teladan Keteguhan Al-Razi dalam Ilmu dan Layanan

Kita dapat meneladani sosok Abu Bakar Al-Razi, seorang dokter dan apoteker muslim legendaris yang dikenal sangat penyabar. Beliau menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meneliti efektivitas obat sembari melayani pasien miskin dengan cuma-cuma. Al-Razi tidak pernah menunjukkan kejenuhan dalam mendengarkan keluhan pasien, karena beliau menganggap setiap keluhan adalah pintu ilmu dan jalan pengabdian. Spirit inilah yang harus diwarisi oleh apoteker Indonesia: melayani dengan kecerdasan intelektual sekaligus ketulusan emosional.

Mutiara dan Hikmah Sabar

Jalaluddin Rumi pernah berkata, “Sabar bukan berarti diam dan menahan sakit, sabar adalah melihat hasil akhir dari sebuah proses. Sabar adalah melihat mawar saat hanya ada duri di depan mata.” Bagi apoteker, mawar itu adalah kesembuhan pasien. Sementara itu, Gus Baha sering mengingatkan dalam logikanya yang khas: “Ibadah itu paling gampang adalah merasa senang bahwa kita masih bisa berguna untuk orang lain.” Maka, saat apoteker merasa lelah, ingatlah bahwa rasa lelah itu adalah bukti bahwa kita sedang bermanfaat. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur selama kita masih diberi kesempatan untuk menjadi “tangan kanan” Tuhan dalam menyalurkan obat.

Baca Juga  Gaya Hidup Sehat, Kunci Cegah dan Atasi Banyak Penyakit

Mengintegrasikan Sabar dan Syukur di Ruang Praktik

Apoteker yang mengintegrasikan sabar dan syukur akan memancarkan aura positif yang menenangkan pasien. Pelayanan yang diberikan tidak lagi terasa seperti transaksi dagang, melainkan sebuah simfoni kebajikan. Apoteker tersebut akan teliti dalam skrining resep karena sabar, dan akan ramah dalam edukasi karena syukur. Pada akhirnya, dua sayap ini akan membawa profesi apoteker terbang tinggi mencapai derajat kemuliaan di hadapan manusia maupun di hadapan Sang Khalik.

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90