PESAWARAN IAINews — Ramuan tradisional Suku Lampung yang memanfaatkan tanaman lokal seperti herba katang-katang (Ipomoea pes-caprae) dan daun legundi (Vitex trifolia L.) menjadi salah satu warisan kearifan lokal yang terus didorong untuk dipertahankan dan dikembangkan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Pemula (PkM-P) tahun 2026 yang dilaksanakan oleh Tim Dosen Pengabdi Universitas Lampung (Unila) di Desa Hurun, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Sabtu, 18 Juli 2026.
Kegiatan PkM-P dari Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran (FK) Unila tersebut melibatkan tim dosen pengabdi yang terdiri atas Atri Sri Ulandari, M.Farm.; apt. Okta Puspita, M.Clin.Pharm.; apt. Muhammad Fitra Wardhana Sayoeti, M.Farm.; dan apt. Nurma Suri, M.Biomed.Sc., M.K.M. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Program Studi S-1 Farmasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap kesehatan masyarakat.
Kegiatan yang menyasar kader PKK Desa Hurun ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat melalui edukasi serta demonstrasi pemanfaatan herba katang-katang dan daun legundi sebagai bahan obat tradisional dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) farmasi terkini.
Berdasarkan sejumlah kajian pustaka, katang-katang dan legundi diketahui memiliki potensi sebagai tanaman obat, antara lain dalam membantu mengatasi peradangan dan menurunkan demam.
Ketua tim pengabdi, apt. Zulpakor Oktoba, S.Si., M.Farm., dari Jurusan Farmasi FK Unila, menjelaskan bahwa katang-katang memiliki sejumlah kandungan yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan, antara lain membantu mendukung sistem kekebalan tubuh, meredakan peradangan, mengurangi stres, serta membantu melindungi tubuh dari kerusakan oksidatif.
“Ramuan herbal dengan memanfaatkan herba katang-katang yang dalam bahasa Lampung dikenal dengan nama ‘kekatang’ dan daun legundi yang dikenal dengan istilah ‘lagun’, telah dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat Suku Lampung dan digunakan secara empiris sebagai ramuan tradisional,” tutur Zulpakor.
Menurutnya, selama ini katang-katang lebih banyak dikenal sebagai tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar pantai. Sementara itu, legundi juga kerap dijumpai tumbuh liar di semak belukar maupun di tepi jalan.
“Padahal, kedua tumbuhan tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan bagi kesehatan dan dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku obat modern asli Indonesia (OMAI),” jelas Zulpakor kepada tim media IAI.
Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdi memberikan demonstrasi pengolahan simplisia katang-katang dan legundi. Prosesnya dimulai dari pencucian, pemotongan, pengeringan, hingga pengolahan dan peracikan menjadi berbagai bentuk sediaan obat tradisional, seperti seduhan, pilis, dan obat balur.
Demonstrasi pembuatan ramuan di hadapan masyarakat Desa Hurun dipandu oleh Atri Sri Ulandari, M.Farm. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan secara teori, tetapi juga membekali masyarakat dengan keterampilan praktis.
“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat memiliki keterampilan dalam meramu kedua tumbuhan obat tersebut menjadi ramuan herbal yang dapat diaplikasikan secara tepat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Atri.
Selain edukasi mengenai pemanfaatan tanaman obat, tim juga memberikan edukasi mengenai swamedikasi kepada masyarakat Desa Hurun. Materi tersebut disampaikan oleh apt. Okta Puspita, M.Clin.Pharm.
Menurut tim pengabdi, pemahaman mengenai swamedikasi menjadi bagian penting agar masyarakat dapat menggunakan obat maupun ramuan tradisional secara tepat, aman, dan bertanggung jawab. Edukasi tersebut diharapkan dapat mendukung upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
Kedatangan tim PkM Unila mendapat sambutan antusias dari para kader PKK Desa Hurun. Kepala Desa Hurun, Aminudin, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut karena dinilai memberikan manfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat.
“Kami berharap dapat mengaplikasikan hasil sosialisasi ini untuk membuat produk unggulan desa yang bisa diproduksi serta dimanfaatkan untuk kebutuhan kesehatan sehari-hari,” ujar Aminudin.
Pada akhir kegiatan, Zulpakor Oktoba berharap para kader PKK Desa Hurun dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan PkM tersebut, khususnya dalam pemanfaatan tanaman obat sebagai salah satu upaya preventif bagi kesehatan keluarga.
“Melalui edukasi dan simulasi demonstrasi pemanfaatan herba katang-katang dan daun legundi dalam pengobatan tradisional, kami ingin memastikan masyarakat mampu memanfaatkan potensi tanaman lokal untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen dan mahasiswa FK Unila tersebut merupakan salah satu bentuk implementasi Tridarma Perguruan Tinggi. Selain berfokus pada pengembangan akademik, perguruan tinggi juga memiliki peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Zulpakor menjelaskan, kegiatan PkM tersebut melibatkan sebanyak 25 peserta yang terdiri atas kader PKK dan anggotanya. Kegiatan juga dihadiri Kepala Desa, Sekretaris Desa, serta sejumlah perwakilan aparatur Desa Hurun.
“Dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, kami berharap dapat menciptakan dampak yang signifikan dan berkelanjutan,” tutup Zulpakor.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilakukan tim dosen dan mahasiswa Unila tersebut diharapkan dapat menjadi contoh nyata pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk mengangkat kembali potensi kearifan lokal.
Melalui edukasi, inovasi, dan kolaborasi, warisan pengetahuan mengenai tanaman obat tradisional Suku Lampung diharapkan tidak hanya tetap lestari, tetapi juga dapat dikembangkan secara ilmiah dan bertanggung jawab untuk mendukung kesehatan serta kesejahteraan masyarakat.

