Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Puasa Ramadan Ditinjau dari Sains: Autofagi, Metabolisme, dan Mikrobiota Usus

Penulis: apt. Aulia Yahya, S.Farm (Tim Media Nasional IAI/PD IAI Sulawesi Selatan)
banner 120x600
banner 468x60

BAGI ilmuwan gizi dan biologi sel, puasa Ramadan adalah contoh dry fasting unik: tidak makan dan minum sejak subuh hingga magrib.

Selama satu dekade terakhir, penelitian global mencatat pola ini memicu rangkaian mekanisme biologis yang mensupport kesehatan seluler, metabolik, dan mental.

Iklan ×

Ketika puasa berlangsung 12–16 jam, sel mengaktifkan autofagi—proses ‘memakan’ komponen rusak dan protein beracun. Yoshinori Ohsumi memenangkan Nobel Kedokteran 2016 untuk riset ini.

Jurnal Cell Metabolism mencatat autofagi terpicu puasa berkala terkait pencegahan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

Studi di Journal of Applied Physiology melaporkan peningkatan sensitivitas reseptor insulin selama puasa, membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Baca Juga  Miras Oplosan, Racikan yang Mematikan

Data klinis Ramadan menunjukkan penurunan HbA1c dan resistensi insulin setelah 30 hari. Meta-analisis Journal of the American Heart Association menambahkan manfaat lipid: LDL dan trigliserida turun, HDL naik, serta tekanan darah sistolik-diastolik berkurang akibat asupan garam dan aktivitas simpatis yang menurun.

Nature Communications memuat temuan bahwa puasa Ramadan mengubah mikrobiota usus—meningkatkan bakteri baik Akkermansia muciniphila yang mendukung metabolisme sehat.

Penanda inflamasi C-Reactive Protein turut menurun, memungkinkan sistem imun fokus pada patogen eksternal.

Otak Ikut Mendapat ‘Pupuk’

Peneliti mencatat kenaikan BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor) saat puasa; protein ini merangsang pertumbuhan neuron dan diduga berperan dalam perbaikan suasana hati serta penurunan kecemasan—sejalan dengan ketenangan spiritual Ramadan.

Baca Juga  Batas Minimum - Maksimum Konsumsi Air Minum

Intinya, puasa Ramadan bukan sekadar ritual. Ia menggabungkan disiplin waktu makan dengan efek biologis: autofagi, perbaikan metabolik, restrukturisasi mikrobiota, dan dukungan neurotropik.

Para ahli mengingatkan hasilnya optimal bila buka-dan sahur tetap bergizi seimbang, bukan berlebihan gula atau lemak.

Dengan pola itu, Ramadan bisa menjadi momentum tahunan ‘reset’ fisiologis yang dibuktikan jurnal internasional.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90