Site icon IAI NEWS

Prof. Firzan Nainu Dorong Mahasiswa Farmasi Teliti Penyakit Lewat Drosophila si Lalat Buah, Kolaborasi Unhas–Queensland–Cambridge

MAKASSAR, IAINews – Webinar Fly Research Group Outreach 2026 Selasa, 10 Februari 2026 mengangkat Drosophila melanogaster bukan sebagai hama meja laboratorium, melainkan model biologis strategis untuk skrinning penyakit manusia.

Di depan sekitar 100 mahasiswa dan 13 dosen dari 11 perguruan tinggi, Prof apt. Firzan Nainu SSi PhD  dari Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin menekankan fakta kunci: 75 persen gen manusia terkait penyakit memiliki pasangan fungsional pada lalat buah, dengan kesamaan struktur, fungsi biologis, dan mekanisme seluler.

“Program genetik evolusioner yang mengendalikan rencana tubuh itu terkonservasi lintas spesies,” ujar Prof. Firzan Nainu.

Artinya, eksperimen pada Drosophila dapat menyingkap jalur kanker, gangguan metabolik, penyakit degeneratif, bahkan inflamasi relevan untuk manusia.

Acara dua hari via zoom ini digagas Unhas Fly Research Group (UFRG) sebagai Thematic Research Group.

Ketua panitia Mukarram Mudjahid SSi MSi Apt menjelaskan Outreach 2026 bagian dari penguatan jejaring Unhas–The University of Queensland–University of Cambridge.

Kegiatan ini  mempertemukan empat peneliti Drosophila berpengalaman untuk berbagi protokol genetika, biologi perkembangan, hingga skrinning terapi.

Peserta diajak merancang proyek partisipatif sehingga mahasiswa sarjana bisa mencoba riset nyata, bukan sekadar teori.

Firzan menambahkan, keunggulan Drosophila terletak pada siklus hidup pendek dan biaya rendah, memudahkan uji coba gen atau senyawa obat awal sebelum masuk model mamalia.

Ia berharap TRG UFRG melahirkan kolaborasi lintas kampus berkelanjutan—dari skrining senyawa antikanker hingga studi metabolik—yang memperkuat kapasitas riset S1 Indonesia.

Dengan minat peserta tinggi, Outreach 2026 bukan seminar satu arah. Perwakilan dosen dan mahasiswa menyusun rencana kerja bersama untuk publikasi dan prototipe penelitian lalat buah tahun depan.

Jika terwujud, lalat kecil itu akan menjadi jembatan mahasiswa farmasi menuju kontribusi riset kesehatan manusia.***

Exit mobile version