JAKARTA, IAINews – Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu tantangan kesehatan global yang semakin mendapat perhatian. Apoteker perlu memiliki strategi khusus dalam menjawab tantangan di era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).
PPOK adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok penyakit paru kronik yang melibatkan gejala utama seperti sesak nafas, batuk kronis dan peningkatan produksi dahak.
‘’Dua bentuk paling umum dari PPOK adalah bronkhitis kronik dan emfisema, meskipun seringkali keduanya terjadi bersamaan,’’ tutur apt. Dra Tresnawati, Direktur Operasional PT Pharma Tekno Solusi (PharmaQ).
Apt. Tresnawati menyampaikan hal itu sejalan dengan rencana digelarnya webinar ‘Menjawab Tangan PPOK di Era JKN melalui Akses dan Ketersediaan Obat’ yang digelar pada Sabtu, 12 September 2026 mulai pukul 09.00 – 12.00 wib daring melalui zoom.
Webinar akan menghadirkan narasumber Dr dr. Alfian Nur Rosyid, Sp.P(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya dan apt. Fitri Nurhayati, S.Si, M.Farm. dari RSUP Persahabatan, Jakarta dengan moderator apt. Indri Mulyani Bunyamin, S.Farm, MARS dari Dinas Kesehatan Prov DKI Jakarta.
Dikatakan, penyakit ini berkembang secara progresif dan dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup yang signifikan.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 3 juta orang meninggal setiap tahun akibat PPOK dan diperkirakan akan menjadi penyebab utama kematian ketiga di seluruh dunia pada tahun 2030.
‘’Hal ini menggarisbawahi pentingnya upaya pencegahan dan pengelolaan yang efektif,’’ lanjut apt. Tresnawati.
Pengelolaan PPOK melibatkan pendekatan beragam yang mencakup perubahan gaya hidup, terapi farmakologi dan rehabilitasi paru.
Merokok adalah salah satu faktor risiko utama, dan penghentian merokok adalah langkah kunci perubahan gaya hidup dalam menghentikan progresivitass penyakit.
Terapi farmakologi melibatkan bronkodilator dan kortikosteroid untuk mengendalikan gejala.
Selain itu, rehabilitasi paru dan program olahraga juga telah terbukti membantu memperbaiki kualitas hidup pasien.
Dalam webinar yang diselenggarakan atas kerjasama PharmaQ, Ikatan Apoteker Indonesia, Badiklat IAI, Kemenkes RI dan PT. Anugrah Pharmindo Lestari (APL) ini, narasumber akan menjelaskan secara rinci langkah-langkah yang akan diambil untuk memahami lebih lanjut tentang PPOK.
Hal rinci yang akan dibahas termasuk penelitian epidemiologi, pengembangan metode diagnosis yang lebih baik dan perbaikan terapi yang ada.
‘’Webinar dikemas dalam bentuk lecture, diskusi, serta case study bersama pakar di bidangnya, dan akan melibatkan peserta dalam pembahasan tipik menarik dan teraupdate,’’ ungkap apt. Tresnawati lebih jauh.
Upaya ini diharapkan dapat membantu mengurangi beban global PPOK dan meningkatkan kualitas hidup individu yang terkena dampaknya.
Di sesi pertama, selama 60 menit, dr Alfian Nur Rosyid akan membahas materi ‘Optimalisasi bronkodilator sebagai terapi utama PPOK dan era JKN’.
‘’Di sesi ini ada beberapa topik yang akan saya sampaikan, yaktiu diagnosis PPOK memerlukan evaluasi medis yang cermat. Pemeriksaan fisik, tes fungsi paru dan gambaran radiologi digunakan untuk mengonfirmasi diagnosis,’’ jelas alumni FK Unair tersebut.
Disamping itu, topik yang akan dibahas dr Alfian adalah tes fungsi paru yang meliputi spirometri yang mengukur kapasitas paru dan aliran udara. Selain itu, kriteris diagnosis juga mencakup riwayat gejala pernafasan yang kronis, seperti batuk, produksi dahak dan sesak nafas.
‘’Saya juga akan menjelaskan terapi farmakologi melibatkan bronkodilator dan kortikosteroid untuk mengendalikan gejala PPOK,’’ lanjut dr Alfian Nur Rosyid.
Sementara itu, di sesi kedua, apt. Fitri Nurhayati akan menyampaikan materi ‘Strategi Akses dan Cost Effectiveness: Kunci Keberhasilan Terapi PPOK’.
‘’Di sesi kedua ini, saya akan membahas dua hal pokok yang harus diketahui oleh sejawat apoteker, yakni peran apoteker dalam mengedukasi pasien PPOK dan bagaimana pasien dapat mematuhi terapi yang diberikan,’’ tutur apt. Fitri Nurhayati.
Bahasan kedua adalah PIO, konseling dan monitoring yang penting dilakukan oleh apoteker dalam memastikan pasien mendapatkan terapi yang tepat serta cara menggunakan inhalernya dengan tepat.
Melalui webinar ini diharapkan meningkatnya kolaborasi multi-stakeholders untuk berkontribusi dalam mengatasi masalah PPOK di Indonesia, melalui peningkatan pemahaman Farmasi (apoteker dan tenaga vokasi) terkait strategi efektif dalam optimalisasi terapi di era JKN sesuai GOLD.
Melalui webinar, peserta diharapkan akan memahami pentingnya inhalasi bronkodilator sebagai backbone therapy untuk PPOK, serta memahami bahwa terapi inhalasi tergantung inhale ability pasien (teknik inhaler: faktor alat dan faktor pasien).***
