Yogyakarta, IAINews – Apoteker masa depan harus siap menjadi pemimpin, manajer, dan agen perubahan di era digital. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam forum kepemimpinan farmasi yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMFA) Universitas Islam Indonesia.)
Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMFA) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Indonesia (UII) sukses menyelenggarakan kegiatan tahunan University Pharmaceutical Leadership Forum (UPLF) 2025. Acara ini bertujuan menggembleng kompetensi kepemimpinan calon Apoteker, berlangsung pada Minggu, 7 Desember 2025 , bertempat di Gedung Kuliah Umum (GKU) UII.
Narasumber utama, Romo Sukir Satrija Djati, hadir memberikan materi kunci, yaitu “10 Stars Pharmacist” , dengan mengangkat tema besar “Strengthening Collaborative Leadership and Professional Excellence”. Romo Sukir memaparkan evolusi peran Apoteker dari konsep awal WHO menuju 10 kompetensi ideal yang dituntut oleh Federasi Farmasi Internasional (FIP).
Menjadi Apoteker Multifaset
Romo Sukir menekankan bahwa Apoteker abad ke-21 wajib menguasai spektrum peran yang luas, melampaui keahlian teknis farmasetika. Sepuluh peran kunci yang harus diintegrasikan oleh mahasiswa meliputi:
- Pilar Klinis & Edukasi: Sebagai Caregiver (Pemberi Pelayanan) dan Decision-Maker (Pengambil Keputusan) yang bertanggung jawab, serta Communicator (Juru Komunikasi) dan Teacher (Pendidik) yang andal.
- Pilar Manajerial & Kepemimpinan: Menjadi Manager (Manajer), Leader (Pemimpin), dan Life-Long Learner (Pembelajar Seumur Hidup) yang terus beradaptasi.
- Pilar Inovasi & Perubahan: Berperan sebagai Researcher (Peneliti), Entrepreneur (Wirausahawan) yang menciptakan nilai, dan puncaknya, menjadi Agent of Positive Change yang membawa reformasi dalam sistem kesehatan.
Dorongan untuk Aksi Nyata dan Integritas Profesi
Peserta kegiatan ini diharapkan tidak hanya menyerap teori, tetapi segera menerjemahkan 10 kompetensi tersebut ke dalam aksi nyata. Romo Sukir mendorong agar mahasiswa tidak hanya fokus pada pencapaian nilai akademik, namun aktif membangun soft skill melalui organisasi dan kegiatan praktik. Mahasiswa ditantang menjadi Apoteker yang holistik, berintegritas, visioner, dan siap memberikan kontribusi signifikan terhadap kualitas pelayanan kesehatan nasional.
“Peran Apoteker telah bergeser drastis. Kami berharap mahasiswa memanfaatkan masa studi ini untuk mengasah kepemimpinan etis dan semangat inovasi. Apoteker masa depan harus menjadi penggerak perubahan, bukan sekadar pelaksana rutin,” tutup Romo Sukir.
Antusiasme HIMFA: Peta Jalan untuk Mahasiswa
Fakhri, Ketua Panitia Pelaksana, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya event penting ini. Fakhri menjelaskan, UPLF 2025 sangat esensial sebagai peta jalan bagi mahasiswa. Kegiatan ini memastikan mahasiswa mendapatkan wawasan tentang standar global yang harus dipenuhi sebelum terjun ke dunia profesi.
“Kami ingin mahasiswa siap menghadapi era pharmaceutical care yang intensif dan tantangan digital. Acara ini memberikan fondasi yang kuat. Kami berharap para peserta nantinya menjadi apoteker yang cerdas secara akademik, profesional yang berintegritas, manajerial, dan visioner,” ujar Fakhri.
Acara yang diprakarsai oleh HIMFA FMIPA UII ini sukses menumbuhkan antusiasme tinggi, menandakan kesiapan calon-calon Apoteker UII untuk menjadi profesional multifungsi di masa depan.

