Semarang, IAINews — Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI) Wilayah Joglosepur (Jogja, Solo, Semarang, Purwokerto) sukses menggelar webinar bertajuk “Pharmapreneur in Action: Opportunities and Challenges in Pharmaceutical Entrepreneurship” pada Sabtu, 14 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa farmasi untuk mengasah potensi kewirausahaan berbasis ilmu kefarmasian di tengah dinamika industri kesehatan yang terus berkembang.
Diselenggarakan secara daring melalui Zoom Cloud Meeting, webinar ini dipandu oleh MC Syaza Qanita dan dibuka langsung oleh Ketua ISMAFARSI Wilayah Joglosepur, Tiyanto Dwi Zafaron. Dalam sambutannya, Tiyanto menegaskan bahwa mahasiswa farmasi perlu mulai melampaui pola pikir karier konvensional dan berani mengambil peran sebagai pelaku usaha di bidang kesehatan.
“Dunia farmasi terus berkembang pesat. Mahasiswa harus berani melihat peluang dan menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui inovasi bisnis kesehatan,” ujar Tiyanto.
Memasuki sesi pertama, apt. Dwi Ismayati, M.Clin.Pharm., membawakan materi bertajuk “Building the Pharmapreneur Mindset for Success in Era 5.0” yang dimoderatori oleh Sri Utami Solihat. Ia menekankan bahwa seorang apoteker di era Society 5.0 dituntut memiliki pola pikir kreatif, inovatif, dan adaptif.
Menurutnya, personal branding menjadi salah satu kunci penting dalam membangun kepercayaan publik dan membuka peluang kolaborasi. Mahasiswa farmasi didorong untuk aktif mengedukasi masyarakat melalui media sosial sebagai bagian dari strategi membangun identitas profesional.
“Apoteker yang memiliki branding akan lebih dipercaya dan lebih mudah menjalin kolaborasi strategis,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa langkah awal menjadi seorang pharmapreneur bukan sekadar menentukan produk yang akan dijual, melainkan berangkat dari kemampuan mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan di masyarakat.
Sesi kedua menghadirkan apt. Wiji Julian, S.Farm., M.Sc., yang mengulas peluang digital dalam bisnis farmasi dengan moderator Muhammad Afif Ilham. Dalam paparannya, ia menyoroti peran teknologi dalam mentransformasi layanan kefarmasian, mulai dari pengembangan startup kesehatan hingga efisiensi distribusi obat.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa inovasi digital harus tetap berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap regulasi kefarmasian serta menjunjung tinggi etika profesi.
“Transformasi digital adalah peluang besar, tetapi integritas profesi dan kepatuhan regulasi tidak boleh dikompromikan,” tegasnya.
Webinar yang diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ini berlangsung interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan sesi tanya jawab yang menggali lebih dalam tantangan serta peluang di dunia kewirausahaan farmasi.
Melalui kegiatan ini, ISMAFARSI Joglosepur berharap dapat mendorong lahirnya generasi apoteker muda yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga memiliki daya saing dalam bidang bisnis dan inovasi, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. (TMN)













