Luwu Utara, IAINews – Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Luwu Utara bersama Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) ikut menyemarakkan Hari Apoteker Sedunia pada Ahad, 28 September 2025. Acara digelar pada saat Car Free Day di depan Rumah Jabatan Bupati Luwu Utara. Hari Apoteker Se-dunia (World Pharmacists Day, WPD) yang diperingati setiap 25 September, tahun ini mengambil tema “Think Health, Think Pharmacist”.

Kegiatan dimulai dari senam bersama, dilanjutkan sambutan sekaligus membuka acara oleh Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim.
“Semoga ke depan Apoteker dan tenaga vokasi farmasi berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat terutama dalam penggunaan antibiotik, serta menyambut baik inisiatif Koperasi Merah Putih dan berperan penting di dalamnya,” ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan edukasi tentang bijak menggunakan antibiotik dan DAGUSIBU. Kegiatan lainnya yaitu pemeriksaan gula darah dan asam urat, serta donor darah yang menghadirkan 154 orang peserta.
”Semoga apoteker tetap dan akan selalu profesional dalam menjalankan tugasnya,” harap apt. Sabra, S.Si, Ketua PC IAI Luwu Utara yang ditemui IAINews di lokasi.
“Terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih baik bagi masyarakat, baik melalui peningkatan pengetahuan, pengembangan inovasi, maupun pelayanan yang lebih optimal dalam menjaga kesehatan melalui penggunaan obat yang aman dan efektif,” lanjutnya.
Edukasi penggunaan antibiotik yang bijak
Para apoteker Luwu Utara menunjukkan peran dan eksistensinya di WPD 2025 dengan penyuluhan ”Cermat” menggunakan antibiotik, jaga masa depan kesehatan kita.
Membuka dengan membahas mengenali musuh kita -resistensi antibiotik- dengan tujuan menarik perhatian audiens tentang bahaya antibiotik. Kemudian menjelaskan apa itu antibiotik, yaitu obat yang melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
“Ingat, antibiotik bukan obat dewa yang bisa menyembuhkan semua penyakit,” jelas salah seorang apoteker.
Edukasi dilanjutkan dengan topik tentang resistensi Antibiotik yaitu ”kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik yang seharusnya membunuhnya”. Sehingga resistensi antibiotik berbahaya sebab penyakit infeksi yang tadinya mudah diobati jadi sulit/tidak bisa disembuhkan, masa perawatan di rumah sakit jadi lebih lama, biaya pengobatan meningkat drastis dan bahkan bisa berujung pada kematian.
Serba serbi semarak WPD 2025 bersama PC IAI Luwu Utara
Perlu diketahui bahwa ada ”tiga kunci penggunaan antibiotik” yaitu
- Tidak semua sakit perlu antibiotik
Antibiotik HANYA bekerja melawan bakteri. Untuk infeksi akibat virus, seperti flu, antibiotik tidak berguna dan justru merugikan karena membuat bakteri baik di tubuh Anda ikut mati dan meningkatkan risiko resistensi.
- Hanya didapatkan dari tenaga kesehatan profesional
Jangan pernah membeli antibiotik tanpa pemeriksaan dan resep dari dokter.
- Patuh aturan: Patuhi aturan ”Tuntas”
Dosis dan waktu konsumsi antibiotik harus dipatuhi, sehingga jika mendapatkan resep dari dokter yang harus dilakukan yakni
- Minum TEPAT WAKTU: Ikuti jadwal yang dianjurkan, misal, setiap 8 jam, agar kadar obat dalam darah stabil dan efektif membunuh bakteri.
- Minum TUNTAS/HABIS: Ini adalah aturan terpenting. JANGAN BERHENTI minum antibiotik meskipun gejala sudah membaik atau hilang. Jika berhenti menggunakan antibiotik sebelum waktunya, maka bakteri yang lemah akan mati, tapi bakteri yang paling kuat/tangguh (yang berpotensi menjadi resisten) akan tetap hidup dan berlipat ganda. Anda harus menghabiskan obatnya untuk mematikan semua bakteri bandel ini.
Tindakan nyata yang harus dilakukan agar bijak menggunakan antibiotik yaitu dengan menerapkan 4 ”Tidak” :
- TIDAK menggunakan antibiotik untuk penyakit karena virus, seperti batuk pilek.
- TIDAK membeli antibiotik tanpa resep dokter.
- TIDAK berhenti minum antibiotik sebelum TUNTAS/ HABIS sesuai anjuran dokter.
- TIDAK menyimpan sisa antibiotik atau memberikannya kepada orang lain.
“Penggunaan antibiotik yang bijak hari ini adalah investasi untuk kesehatan kita dan generasi mendatang. Mari jaga efektivitas obat ini agar tetap menjadi pahlawan saat kita benar-benar membutuhkannya” pungkas apoteker dalam penyuluhan edukasi penggunaan antibiotik yang bijak.
Penyuluhan DAGUSIBU, Pemeriksaan Kesehatan Gratis (Gula darah dan asam urat) dan Donor Darah
DA (DAPATKAN) – Asal Obat yang Benar. Tujuan: Memastikan obat yang Anda beli aman, bermutu, dan legal.
- Beli ditempat resmi yaitu di Apotek atau toko obat berizin. Jangan beli obat keras (berlogo lingkaran merah) di warung atau toko kelontong.
- Cek kemasan dengan perhatikan izin edar (BPOM) dan tanggal kedaluwarsa, jika lewat tanggal jangan dibeli dan digunakan.
- Resep atau non resep seperti obat keras harus dengan resep dokter. Tanyakan apoteker, jika ada resep tanyakan bagaimana cara pakainya.
GU (GUNAKAN) – Cara Pakai yang Tepat. Tujuan: memastikan obat bekerja maksimal dan aman.
- Baca aturan pakai dengan mengikuti semua petunjuk di kemasan atau etiket, terutama dosis (jumlah) dan frekuensi (jam minum). Gunakan sendok takar obat yang disediakan, bukan sendok makan biasa.
- Jika mendapatkan resep obat antibiotik, maka WAJIB DIHABISKAN walaupun sudah sembuh. Jika tidak habis, bakteri bisa kebal (resisten).
- Waktu minum, sesudah makan (setelah suapan pertama) atau sebelum makan (30-60 menit sebelumnya). Tanyakan Apoteker! Minum tepat waktu agar efek obat optimal.
SI (SIMPAN) – Tempat Obat yang Aman. Tujuan: menjaga kualitas obat agar tidak rusak.
- Jauhkan dari Anak-Anak. Simpan di tempat yang aman dan tidak terjangkau anak-anak. Ini untuk mencegah keracunan!
- Sesuai Petunjuk. Kebanyakan obat cukup disimpan di tempat kering, sejuk, dan terhindar dari sinar matahari langsung. JANGAN simpan obat di dalam mobil atau kamar mandi (lembab dan panas).
- Kemasan Asli. Simpan dalam kemasan asli. Agar anda bisa membaca nama, aturan pakai, dan tanggal kedaluwarsa.
BU (BUANG) – Buang Obat Rusak atau Kedaluwarsa.
- Obat rusak atau kedaluwarsa. Jangan gunakan obat yang sudah kedaluwarsa, berubah warna, bau, atau bentuk fisik. Obat cair yang sudah dibuka lebih dari 1 bulan juga harus dibuang!
- Cara Membuang (Tablet/Kapsul). Keluarkan dari kemasan (strip/botol), campur dengan tanah atau air, bungkus rapat dengan plastik, lalu buang ke tempat sampah.Hancurkan dulu obatnya!
- Cara Membuang (Cair/Sirup) Buang isinya ke saluran air/toilet, lalu rusak kemasan botolnya (copot label/hancurkan botol) sebelum dibuang ke tempat sampah.Pastikan tidak bisa disalahgunakan lagi!
Ingat selalu DAGUSIBU. Dengan menerapkan 4 langkah sederhana ini, kita menjamin obat yang kita konsumsi aman, berkhasiat, dan lingkungan kita pun terjaga. Pesan Kunci: “Tanya Obat? Tanya Apoteker!”
Foto bersama setelah perayaan WPD 2025 PC IAI Luwu Utara



















