Kebumen, IAInews – Obat paling ampun di dunia pun bisa gagal jika digunakan dengan salah karena ketiadaan komunikasi efektif dari apoteker. Ketua Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Gombong (PSPA UNIMUGO) apt. Ayu Nisa Aiinni, M.Farm mengambil langkah progresif dalam mengatasi hal ini. Pada Selasa, 23 September 2025, PSPA UNIMUGO membekali mahasiswa Angkatan IV yang bersiap melakukan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Puskesmas dengan komunikasi persuasif sebagai bagian komunikasi efektif.
Kunci yang Mengubah Persepsi Pasien
Pilar utama dalam pembekalan yang disampaikan oleh Romo Sukir Satrija Djati adalah kutipan legendaris dari Theodore Roosevelt: “Patients don’t care how much you know until they know how much you care.” Pasien tidak peduli dengan gelar dan ilmu farmasi yang rumit, yang dicari pasien adalah rasa aman dan kepercayaan, Apoteker UNIMUGO dipersipakna dengan baik untuk menjadi mitra pasien yang tulus mendengarkan dan merespon dengan komunikasi yang baik serta memikat hati pasien
Obat Hanya “Separuh Jalan”
Romo Sukir menekankan konsep : “Obat hanya separuh jalan.”, tanpa kesediaan dan kepatuhan pasien, obat terbaik di dunia pun bisa gagal. Komunikasi persuasif adalah katalis yang mengubah ilmu menjadi kesembuhan optimal, fokusnya pada pembangunan motivasi agar pasien tidak hanya ‘iya, iya’ di hadapan apoteker, tetapi benar-benar berkomitmen pada pengobatannya. Inilah pentingnya memastikan mahasiswanya mampu menguasai seni mendampingi pasien, bukan sekadar memberikan instruksi.

Tiga Jurus Emas Apoteker UNIMUGO
Pembekalan yang berangsung menarik dan interaktif ini, membuat mahasiswa memahami tiga langkah praktis yang menjadi kunci kesuksesan membangun hubungan dengan pasien:
- Validasi (Membangun Empati): Kunci pertama untuk merebut hati pasien adalah empati. Pasien yang ragu atau takut, tidak langsung diberi ceramah ilmiah, namun divalidasi terlebih dulu perasaanya: “Saya mengerti kekhawatiran bapak/ibu, wajar sekali merasa takut dengan efek samping.” Apoteker UNIMUGO kini tahu, sebelum mengedukasi, mereka harus mendengarkan.
- Edukasi yang Kuat (Mendefinisikan Manfaat): kekhawatiran pasien yang telah teratasi, dilanjutkan pemberian edukasi dengan penekanan pada dampak yang jauh lebih besar. Apoteker UNIMUGO dilatih untuk menjelaskan obat dengan bahasa sederhana dan menekankan, manfaat nyata bagi kesehatan atau hidup pasien, misalnya: “Obat ini akan mencegah memburuknya penyakit dan fatal di masa depan.”
- Garansi (Menawarkan Kemitraan): Apoteker hebat adalah yang menawarkan dukungan berkelanjutan. Apoteker UNIMUGO dibekali janji kemitraan: “Kita hadapi ini bersama-sama. Jika ada masalah, jangan ragu hubungi saya.” Ini mengubah hubungan apoteker-pasien menjadi hubungan mitra-klien, dan ini adalah kunci kepatuhan jangka panjang.
PSPA UNIMUGO Mencetak Apoteker Empatik
Pembekalan ini adalah bukti komitmen UNIMUGO dalam menghasilkan Apoteker yang memiliki integritas dan kepekaan tinggi. Apoteker UNIMUGO kini memiliki rumus sukses:
Obat (Ilmu) + Komunikasi (Seni) = Hasil Optimal Kesehatan Pasien
Bekal ini membuat mereka siap untuk PKPA di Puskesmas, tidak hanya sebagai penyuplai obat, namun juga sebagai mitra terpercaya yang mampu mengubah kepatuhan pasien. Inilah yang membuat Apoteker lulusan UNIMUGO berbeda dan berharga di mata pasien, mereka peduli, dan kepedulian itulah yang menjadi obat pertama dan terpenting.



















