Di Balik Rak Obat, Ada Takdir yang Sedang Apoteker Jaga] Pernahkah terbayang, di antara tumpukan kotak obat yang apoteker susun setiap hari, ada doa seorang ibu yang sedang mempertaruhkan harapan terakhirnya demi kesembuhan anaknya? Apoteker sebenarnya tidak sedang menghadapi angka dan stok opname ketika melihat rak obat, melainkan sedang memegang potongan takdir manusia yang dititipkan Tuhan lewat tangannya. Pertanyaannya: Apakah apoteker menyambut titipan itu dengan hati yang hadir, atau hanya dengan kalkulator yang dingin?
Sanitasi Hati: Memurnikan ‘Zat Aktif’ Keikhlasan
Ramadan telah tiba, dan ini adalah saatnya apoteker muslim melakukan “sanitasi hati”. Ilmu farmasi mengajarkan, kontaminasi sekecil apa pun bisa merusak stabilitas sediaan, begitu juga dalam ilmu Tauhid; kontaminasi niat bisa membuat lelah apoteker di apotek menguap tanpa sisa. Landasannya jelas, Nabi SAW bersabda, “Innamal a’malu bin niyyat” sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Allah pun menegaskan dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5 bahwa inti dari beragama adalah memurnikan niat. Apoteker yang teliti dalam menimbang miligram serbuk obat agar tidak toksik, pasti bisa juga menakar niatnya: Apakah demi omzet semata, atau demi ridho Yang Maha Kuasa?
Integritas Seujung Pena: Belajar Profesionalisme dari Sang Wali
Mari menunduk sejenak menengok sejarah. Abdullah bin Al-Mubarak, adalah sosok ulama besar yang juga pedagang handal. Beliau pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya untuk mengembalikan sebuah pena yang terbawa secara tidak sengaja. Abdullah bin Al-Mubarak, berpendapat kejujuran profesi adalah cermin kesucian iman, beliau menunjukkan bahwa menjadi “ahli akhirat” tidak berarti harus meninggalkan ketelitian dunia. Urusan seujung pena saja beliau se-integrit itu, bayangkan betapa sakralnya tugas apoteker yang memegang amanah dosis dan nyawa manusia.
Bukan Sekadar Penyerahan Obat, Tapi Penanaman Tauhid
Tugas apoteker lebih dari sekadar menyerahkan bungkusan plastik. Gus Baha pernah mengingatkan bahwa orang yang bekerja itu sebenarnya sedang sujud, asalkan dia tahu pekerjaannya adalah jalan pengabdian. Pasien yang datang dengan wajah cemas, berharap apoteker adalah “muazin” ketenangan. Apoteker saat memberikan obat, bisa berbisik lembut, “Bu, ini obatnya sebagai ikhtiar, tapi moga-moga Gusti Allah yang segera mengangkat sakitnya.” Memberikan ketenangan pada jiwa yang sakit itu seringkali lebih mujarab daripada harga obat paten manapun.
Meja Apotekmu Adalah Mihrab Perjuanganmu
Bagi setiap apoteker yang hari ini masih berdiri tegak di balik meja pelayanan meski perut sedang keroncongan karena puasa: Ingatlah bahwa setiap kali melakukan skrining resep dengan teliti demi keselamatan pasien, apoteker sebenarnya sedang menjalankan perintah cinta dari Allah dalam QS. Al-Maidah ayat 32; bahwa menjaga satu nyawa manusia, pahalanya sama dengan menjaga seluruh umat manusia, jadikanlah setiap lembar etiket yang Anda tulis sebagai saksi di hadapan Rabb-mu kelak.
Sebutir Obat Meredakan Nyeri, Niat yang Tulus Menjemput Ridho Illahi
Pada akhirnya, Ramadan ini bukan tentang seberapa banyak multivitamin yang apoteker jual, tapi tentang seberapa banyak keberkahan yang kita alirkan. Obat mungkin bisa menyembuhkan raga, namun niat yang tulus itulah yang akan menyelamatkan jiwa apoteker saat pulang ke hadapan-Nya nanti. Selamat menata hati di hari pertama Ramadan, wahai para penjaga amanah syifa!

