Site icon IAI NEWS

‘Modul Batuk dan Pilek’, Mudahkan Apoteker Beri Konsultasi Masyarakat

JAKARTA, IAINews – Bekerjasama dengan Ikatan Apoteker Indonesia, Haleon melalui brand Actived merilis modul ‘Batuk dan Pilek dari Perspektif Pasien : Menjawab Keluhan Pasien dengan Edukasi dan Konseling Berbasis Self-Care’ tulisan Dr. apt. Lusy Noviani,MM.

Acara didahului dengan seminar ‘Advancing Respiratory Self-Care in Indonesia : Bridging Clinical Practice and Patient Behavior through Evidence-Based Education’  di The Manor Andara, Kamis, 1 Oktober 2026 lalu.

Seminar yang diikuti oleh 100 apoteker komunitas dari Jabodetabek tersebut menghadirkan dua pembicara, yaitu Dr. apt. Lusy Noviani, MM, Kaprodi Apoteker Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atmajaya serta dr. Ikhsanuddin Qoth’i seorang influencer kesehatan.

Hadir dalam seminar tersebut Ketua PD IAI DKI Jakarta, apt. M. Yamin, M.Farm, Ketua  PD PAFI DKI Jakarta, Jatmiko, S.Si, M.Pharm, dan Ketua Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Indonesia (PDSKKI), dr. Hardiyanto, MKM, Sp. KKLP, SubSp. FOMC.

Dalam seminar tersebut, Dr. apt Lusy Noviani membahas ‘Cough and Cold at the Pharmacy: Assess, Treat, or Refer’.

Apt. Lusy Noviani membahas bagaimana praktik self-care respiratori yang cepat, aman dan berpsat pada pasien.

‘’Saat berhadapan dengan pasien, satu permintaan akan obat batuk dan pilek menyimpan 3 kebutuhan tersembunyi, yaitu keinginan untuk mengurangi gejala, memastikan apakah pilek biasa atau menjuru ke masalah serius, serta bagaimana mengontrol kondisinya sehingga bisa beraktifitas seperti biasa,’’ tutur Lusy Noviani.

Di apotek, apoteker harus mampu melakukan asses (skrining), treat or refer (keputusan) dan educate (edukasi).

Untuk itu, apoteker harus mampu menggali keluhan dominan yang dirasakan pasien dalam 30 detik pertama dengan pertanyaan ‘gejala apa yang dirasakan paling mengganggu’.

‘’Tanyakan apakah batuk kering, berdahak, hidung tersumbat, demam? Sudah berapa lama dirasakan, waspadai red flags seperti sesak, nyeri dada dan demam tinggi,’’ tutur Lusy Noviani.

Apoteker juga perlu membertimbangkan faktor risiko serta usia, kehamilan serta komorbid.

‘’Jangan lupa menanyakan obat apa yang sudah diminum untuk mencegah duplikasi,’’ lanjut apt. Lusy Noviani.

Setelah melakukan assessment, apoteker harus mengambil keputusan, apakah dilakukan self-care atau dirujuk ke dokter.

Ekspektasi Pasien

Sementara itu, dr. Ikhsanuddin Qoth’i di kesempatan yang sama menyampaikan, pasien datang ke fasilitas kesehatan, bukan sekedar membeli obat melainkan memiliki ekspektasi untuk sembuh.

Dalam kesempatan itu, dr. Ikhsanuddin Qoth’i menyampaikan materi berjudul ‘Undeerstanding Patient Behavior in Respiratory Self-Care From Health Information to Health Action’.

Di era digital informasi saat ini, dr. Ikhsanuddin Qoth’i menyoroti perilaku masyarakat yang didasarkan pada narasi yang mereka terima baik dari media sosial, teman atau kerabat atau pengalaman sebelumnya.

‘’Problemnya adalah seringkali terjadi misinformasi sampai gap mengenai pemahaman terhadap informasi tersebut. Sehingga ketika datang mereka tidak hanya membeli obat tetapi ekspektasi,’’ tutur dr. Ikhsanuddin Qoth’i.

Baik apt. Lusy Noviani maupun dr. Ikhsanuddin Qoth’i menyoroti banyaknya masyarakat yang langsung meminta antibiotik untuk menyembuhkan batuk dan pileknya.

‘’Inilah saatnya membangun komunikasi efektif membangun narasi dan gaya komunikasi 2 arah,’’ ungkap dr. Ikhsanuddin Qoth’i.

Apoteker di apotek bertugas memberikan informasi yang benar, tetapi bukan hanya itu, apoteker juga harus mampu membantu pasien melakukan hal yang benar berdasarkan informasi tersebut.

Kampanye Actived

Dalam kesempatan tersebut, Actived juga meluncurkan kampanye ‘Beda Gejalanya, Beda Warnanya’. Sebuah kampanye edukasi baru yang mendorong konsumen untuk memahami gejala mereka sebelum memilih swamedikasi yang paling tepat.

Sementara itu, Dr. apt Lusy Noviani kemudian memberikan beberapa contoh pengobatan berdasarkan gejala yang dirasakan oleh pasien.

Batuk kering (non-produktif) yang dirasakan pasien adalah gatal, kering atau iritasi di tenggorokan tanpa dahak. Pengobatan dilakukan dengan tujuan untuk meredakan iritasi dan menekan refleks batuk. Pilihan terapi adalah antitusif.

Sementara untuk batuk berdahak (produktif) gejala yang dirasakan adalah lendir terasa di dada atau saluran nafas bawah, pengobatan ditujukan untuk membantu pengeluaran dahak (ekspektorasi) dengan pilihan terapi adalah ekspektoran/mukolitik.

‘’Perlu dijelaskan kepada pasien, bahwa ekspektoran atau mukolitik dimaksudkan untuk mengeluarkan dahak, sehingga refleks batuk akan lebih sering terjadi agar dahak bisa dikeluarkan,’’ tutur apt. Lusy Noviani.

Apt. Lusy Noviani juga menegaskan pentingnya mengelola ekspektasi pasien terhadap hasil terapi.

‘’Misalnya disampaikan seperti ini, ‘obat yang kami rekomendasikan dapat meredakan gejala. Perbaikan bisanya bertahap; banyak kasus mulai terasa lebih baik dalam 3 – 5 hari dan umumnya sembuh dalam 7 – 10 hari’. Apoteker juga perlu menjelaskan fungsi obat dengan bahasa sederhana, misalnya menyebabkan kantuk, mengurangi batuk dan melegakan hidung tersumbat,’’ ungkap apt. Lusy Noviani.***

Exit mobile version