Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Meja Buka Puasa: Ruang “Recharge” Jiwa dan Etos Klinis Apoteker

Penulis: apt. Yulianto, M.P.HEditor: apt. Yulianto, M.P.H
banner 120x600
banner 468x60

Seni Menukar Penat Menjadi Berkat Apoteker yang berpraktik di garis depan pelayanan sering kali menghadapi dinamika yang menguras energi, mulai dari kesesuaian farmakoterapi dalam resep hingga menghadapi berbagai keluhan pasien yang kompleks. Beban tanggung jawab ini jika dipikul sendirian tentu akan terasa sangat berat. Momen buka puasa bersama apoteker hadir bukan sekadar untuk kumpul-kumpul dan makan bersama, melainkan sebagai oase untuk saling berbagi beban.

Pertemuan tersebut menjadi ruang katarsis di mana seorang apoteker dapat bercerita mengenai tantangan klinisnya dan menemukan bahwa ia tidak sendirian. Tindakan saling menguatkan antar-sejawat adalah perwujudan nyata dari hadits Nabi SAW: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain” (HR. Bukhari dan Muslim).

Iklan ×

Diskusi “Daging”: Dari Farmakoterapi hingga Masa Depan Profesi

Baca Juga  Mengapa Pengawasan Campak dan Rubela Masih Lemah? Temuan Penting dari Studi Terbaru

Buka bersama yang bermakna adalah yang diisi dengan “diskusi daging” pembahasan yang bernas dan substantif. Meja makan dapat menjadi sarana apoteker saling memperbarui informasi mengenai kasus farmakoterapi terbaru, mendiskusikan penyesuaian dosis yang unik, hingga berbagi informasi tentang obat-obat baru yang masuk ke pasaran. Forum informal ini sering kali lebih efektif daripada seminar formal dalam memecahkan problem klinis di lapangan.

Momen ini pun dapat menjadi waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri: sejauh mana dampak pelayanan yang telah diberikan kepada masyarakat? Apakah apoteker hari ini sudah menjadi teladan yang baik bagi generasi mendatang? Refleksi ini penting agar profesi apoteker terus relevan dan dihormati sebagai garda terdepan kesehatan.

Baca Juga  Ketika Aspirin Dipertanyakan, Konseling Halal di Balik Meja Apotek Rumah Sakit

Meneladani Ibnu Al-Baithar dalam Semangat Berbagi

Kita dapat meneladani sosok Ibnu Al-Baithar, ilmuwan farmasi muslim terbesar di abad pertengahan. Beliau tidak hanya mengumpulkan ribuan data tanaman obat secara mandiri, tetapi juga sangat gemar berdiskusi dan mengajar sejawatnya agar ilmu tersebut bermanfaat bagi umat. Semangat kolaborasi ini harus dihidupkan kembali di meja-meja buka puasa kita.

Ramadhan mengajarkan bahwa ilmu dan rezeki yang dibagikan tidak akan berkurang, melainkan justru akan bertambah keberkahannya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11 bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Puasa sebagai Booster Etos Kerja dan Ketaqwaan

Baca Juga  Pil KB Bikin Jerawatan? Kenali Jenis dan Potensi Efeknya pada Kulit Anda

Makna puasa yang sesungguhnya adalah pengendalian diri dan peningkatan kualitas kerja, jika di bulan Ramadhan apoteker mampu menjaga integritas meski dalam keadaan lapar dan dahaga, maka seharusnya etos kerja pasca-Ramadhan menjadi jauh lebih kuat.

Buka bersama harus menjadi momentum untuk menyamakan visi dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Setiap apoteker yang pulang dari acara buka bersama harus membawa “oleh-oleh” berupa inspirasi baru dan semangat yang diperbarui untuk kembali mengabdi di tempat praktik masing-masing. Apoteker yang keren tidak hanya membawa ketaqwaan kepada Allah tidak di atas sajadah sja, namun memanifestasikan diri dalam ketelitian meracik obat dan keramahan melayani umat. Inilah hakikat apoteker yang rahmatan lil ‘alamin.

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90