Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Inovasi Apoteker: Manajemen Risiko Antihipertensi Kini Lebih Mudah dengan Aplikasi “Pantau Tensi”

Penulis: apt. Febbyasi Megawaty Rangka, M.Farm (Tim Media Nasional IAI/PD IAI Banten)Editor: apt. Erie Gusnellyanti, S.Si, MKM
cek tensi mandiri
banner 120x600
banner 468x60

Tangerang, IAINews – Hipertensi masih menjadi ancaman serius yang dijuluki “silent killer”, namun kini masyarakat memiliki cara baru untuk menghadapinya. Dalam sebuah program hibah berbasis pemberdayaan masyarakat, apoteker Universitas Pelita Harapan (UPH) memperkenalkan aplikasi “Pantau Tensi” yang dirancang khusus untuk membantu warga melakukan manajemen risiko antihipertensi. Dengan fitur pencatatan mandiri tekanan darah, grafik riwayat kesehatan, hingga pengingat minum obat, aplikasi ini hadir sebagai terobosan digital yang mempermudah pengendalian hipertensi di tingkat keluarga. Dukungan alat ukur tensi gratis dan edukasi langsung dari apoteker membuat inovasi ini semakin relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 27 September 2025, melalui hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah Ditjen Riset dan Pengembangan Kemendikdiksaiantek. Skema yang digunakan adalah Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Kontrak utama tercatat pada nomor 120/C3/DT.05.00/PM/2025 dan kontrak turunan 1063/LL3/DT.06.01/2025. Demikian penjelasan dari Ketua Pelaksana, apt. Febbyasi Megawaty Rangka, M.Farm, selaku dosen Program Studi Diploma III Farmasi UPH.

Iklan ×

Apoteker Hadir di Tengah Masyarakat

Program ini merupakan kelanjutan dari PKM yang sudah dilakukan sebanyak tiga kali. Data sebelumnya menunjukkan prevalensi tekanan darah tinggi cukup tinggi di RW 03: tahun 2019 dari 36 peserta terdapat 14 orang (38,89%) pra-hipertensi; tahun 2022 dari 62 peserta terdapat 23 orang (37,09%) hipertensi tingkat 1; dan tahun 2024 dari 94 peserta terdapat 32 orang (34,04%) pra-hipertensi.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan inovatif yang mudah diakses masyarakat, mengingat keterbatasan ekonomi serta kurangnya kebiasaan pemantauan tensi secara rutin,” ujar Febby, yang juga pengurus IAI Banten.
“Langkah awal dilakukan dengan penyuluhan tentang hipertensi dari patofisiologi penyakit, obat dan gaya hidup agar mencegah terjadinya penyakit kronis,” lanjutnya.

Baca Juga  Meriahkan World Pharmacy Day, PD IAI Jambi Gelar Senam Massal dan Edukasi DAGUSIBU

Ketua RW 03, Heru Siswanto, menyampaikan apresiasinya karena program ini sejalan dengan kebutuhan warga.

“Semoga kerja sama sebagai desa binaan dengan UPH terus berlanjut untuk peningkatan kesehatan warga dan pengobatan gratis sangat dibutuhkan karena untuk warga. Alat ini bisa menunjang kegiatan kader Posbindu juga,” tutur Heru di hadapan Panitia UPH dan peserta masyarakat yang berasal dari delapan RT dengan rata-rata 11–12 orang per RT.

Agenda kegiatan meliputi penyuluhan hipertensi, pembagian 50 unit OMRON HEM 7120 untuk penderita hipertensi, pemeriksaan kesehatan, serta layanan pengobatan gratis dari Puskesmas Binong.

Ketua RW 03 Binong

Sebelum penyuluhan, dilakukan skrining terhadap 100 warga. Skrining dilakukan oleh 2 mahasiswa D3 Farmasi yaitu Laurencia Chrisiana Eliasari dan Devika Inah Habeahan. Hasilnya: 16 orang hipertensi tingkat 2 (≥160/140 mmHg), 17 orang hipertensi tingkat 1 (140–159/90–99 mmHg), 38 orang pra-hipertensi (120–139/80–89 mmHg), 25 orang normal (<120/80 mmHg), dan 4 orang hipotensi (<90/60 mmHg).

Edukasi Hipertensi dan Keterlibatan Apoteker

Materi mengenai hipertensi disampaikan oleh apt. Jessica Novia, M.Sc., dosen Diploma III Farmasi UPH. Materi dapat diakses juga oleh warga melalui e-buletin hipertensi di https://bit.ly/BuletinHipertensi . Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, dengan banyak warga bertanya soal penggunaan obat antihipertensi. Apoteker menekankan pentingnya kepatuhan, bahwa obat hipertensi harus diminum secara terus-menerus sesuai resep dokter, dan tidak boleh dihentikan hanya karena gejala berkurang.

Baca Juga  Apoteker Punya Peran Penting dalam KIE Farmakovigilans

Pesan utama yang dibawa adalah PATUH: Periksa tensi secara rutin, Atasi penyakit dengan pengobatan sesuai resep, Taati pola makan sehat, Usahakan aktivitas fisik, dan Hindari rokok & alkohol.

cek tensi mandiri

Sementara itu, materi tentang pemantauan tekanan darah mandiri (home blood pressure monitoring atau HBPM) dibawakan oleh Diana Intan Gabriella Lusiana, M.Biomed., dosen D4 Teknik Laboratorium Medis UPH. Peserta diperkenalkan dengan konsep TEKAN: Teratur ukur tekanan darah, Evaluasi hasil, Konsistensi gaya hidup, Alat sesuai standar, serta Nyaman & aman. Salah satu peserta bahkan maju memperagakan cara menggunakan alat digital OMRON HEM 7120 di depan peserta lainnya.

Inovasi Aplikasi “Pantau Tensi” dan Keberlanjutan Program

Bagian penting dari kegiatan ini adalah pengenalan aplikasi “Pantau Tensi”. Aplikasi ini dirancang oleh apt. Febbyasi Megawaty untuk membantu masyarakat mencatat tekanan darah secara mandiri dan konsisten. Fitur yang tersedia meliputi input manual tensi, grafik riwayat tekanan darah, edukasi singkat berbasis teks, serta pengingat untuk mengukur tensi dan mengonsumsi obat. Data pasien dapat terekam dengan baik, sehingga meminimalisir risiko tensi naik atau turun akibat dosis obat yang tidak lagi sesuai. Aplikasi ini akan merekam semua data pasien asalkan dilakukan secara konsisten untuk menghindari tekanan darah meningkat ataupun menurun jika dosis obat tidak sesuai lagi.

Baca Juga  Apa Itu Narkotika?

Aplikasi dapat diunduh melalui APKPURE dengan nama Tensi Care Mobile untuk Android, dan melalui https://tensi-care.nubiprotech.com untuk iPhone. Pengenalan aplikasi ini dibawakan oleh Kevin Adithya Beda, mahasiswa Diploma III Farmasi UPH. Penggunaan aplikasi oleh peserta masyarakat langsung  dipandu oleh dua mahasiswa lainnya yaitu Aditya Douglas Akay dan Muhamad Damar.

Manajemen Risiko Antihipertensi dengan Aplikasi TensiCare

Warga penerima alat tensi dipantau melalui grup WhatsApp dengan bantuan dua kader Posyandu Lansia. Pembagian alat dilakukan berdasarkan hasil skrining, khusus bagi warga dengan tensi di atas 130/80 mmHg (pra-hipertensi hingga hipertensi tingkat 2). Selanjutnya, tim PKM UPH bersama kader Posbindu akan melakukan tiga kali kunjungan ke rumah warga untuk memastikan penggunaan alat dan pencatatan aplikasi berjalan konsisten.

Dengan kombinasi edukasi, pembagian alat gratis, pendampingan kader, serta aplikasi digital, program ini menjadi contoh nyata penerapan manajemen risiko antihipertensi berbasis komunitas. Kolaborasi apoteker, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat diharapkan mampu menjadi model berkelanjutan dalam pengendalian hipertensi di Indonesia. Solusi ini relevan dengan permasalahan keterbatasan pencatatan tekanan darah secara berkala sehingga dibutuhkan keterlibatan secara aktif dan kerjasama keluarga dalam mengoperasionalkan alat “Pantau Tensi”.

Masyarakat Binong Tangerang

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90