MAKASSAR, IAI News- Konstipasi atau sembelit merupakan masalah kesehatan yang umum, seringkali mengganggu kualitas hidup penderitanya.
Untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai penatalaksanaannya, Mitra Farma Indonesia bersama Universitas Gadjah Mada RS Akademik menyelenggarakan webinar bertajuk “Penggunaan Bisacodyl dalam Manajemen Konstipasi Tanpa Risiko Ketergantungan”.

Kegiatan webinar yang didukung oleh Opella Healthcare dilaksanakan pada Kamis, 6 November 2025 dengan menghadirkan apt. Yuri Pratiwi Utami., S.Farm.,C.Herbs dan apt. Sera Afdalanita.,S.Farm sebagai pemateri dan Arifah Bachmid., A.Md. Farm., S.Pd sebagai MC dan Moderator.
Penekanan pada Efektivitas dan Keamanan Jangka Panjang
Apt. Yuri yang merupakan praktisi farmasi komunitas dan dosen menjelaskan bahwa Bisacodyl bekerja dengan mekanisme ganda, yaitu merangsang pergerakan usus (peristaltik) dan meningkatkan kadar air dalam feses, sehingga mempercepat proses defekasi.
“Banyak pasien dan bahkan beberapa tenaga kesehatan masih khawatir tentang risiko ketergantungan atau lazy bowel syndrome saat menggunakan laksatif stimulan,” ujar apt. Yuri.
“Namun, berdasarkan data klinis dan pedoman terbaru, penggunaan Bisacodyl sesuai dosis dan indikasi, termasuk untuk jangka panjang jika diperlukan, terbukti aman dan tidak menyebabkan ketergantungan fungsi usus,” tambah apt Yuri.
Webinar ini menekankan bahwa Bisacodyl merupakan pilihan yang andal untuk penanganan konstipasi akut dan kronis, serta sebagai persiapan pengosongan usus sebelum prosedur medis tertentu (seperti kolonoskopi).
Mekanisme Kerja Bisacodyl
Bisacodyl diklasifikasikan sebagai laksatif stimulan (stimulant laxative). Cara kerjanya terutama berfokus pada usus besar (kolon) dan memiliki dua mekanisme aksi utama :
- Stimulasi Gerakan Peristaltik Usus (Peningkatan Motilitas)
Ini adalah mekanisme kerja utama dari Bisacodyl.
- Target Aksi: Bisacodyl, setelah dihidrolisis (diubah) menjadi metabolit aktifnya di usus, bekerja dengan merangsang langsung pleksus saraf (kumpulan saraf) yang terletak di dinding usus besar (kolon).
- Efek: Stimulasi saraf ini memicu peningkatan aktivitas motorik usus, yang dikenal sebagai kontraksi peristaltik. Kontraksi ini adalah gerakan ritmis seperti gelombang yang mendorong isi usus (feses) maju.
- Hasil: Dengan meningkatnya motilitas, waktu transit feses melalui usus besar menjadi lebih cepat. Feses didorong menuju rektum, mempercepat proses defekasi (buang air besar).

2. Peningkatan Akumulasi Air dan Elektrolit (Peningkat Sekresi)
Selain stimulasi gerakan usus, Bisacodyl juga memengaruhi komposisi feses:
- Hambatan Penyerapan: Bisacodyl menghambat penyerapan kembali air dan elektrolit (seperti natrium dan klorida) dari lumen usus besar ke dalam tubuh.
- Peningkatan Sekresi: Pada saat yang sama, Bisacodyl merangsang sekresi air dan elektrolit ke dalam lumen usus.
- Hasil: Akumulasi air di dalam usus besar membuat volume feses meningkat. Feses menjadi lebih lunak dan lebih mudah dikeluarkan, mengurangi rasa sakit dan mengejan yang terkait dengan konstipasi.
Bentuk Sediaan dan Waktu Kerja
Efek Bisacodyl sangat tergantung pada bentuk sediaannya:
- Tablet Oral: Membutuhkan waktu 6–12 jam untuk bekerja, karena tablet harus melewati lambung dan usus halus sebelum mencapai usus besar dan melepaskan metabolit aktifnya.
- Supositoria (Anus/Rektal): Bekerja jauh lebih cepat, biasanya dalam 15–60 menit, karena obat langsung beraksi di rektum dan kolon bagian bawah.
Oleh karena itu, Bisacodyl adalah pilihan yang efektif untuk mengatasi konstipasi akut karena kemampuannya untuk secara aktif mempercepat pergerakan usus dan melunakkan feses.
Namun, karena sifat stimulan, obat ini tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang karena dapat menyebabkan ketergantungan dan kerusakan fungsi usus alami.
Mitigasi Risiko: Menghindari interaksi obat dan mengenali tanda-tanda konstipasi yang memerlukan rujukan ke dokter spesialis.
Interaksi obat terjadi ketika satu zat memengaruhi cara kerja zat lain. Dalam konteks obat konstipasi (laksatif), risiko interaksi perlu diperhatikan, terutama dengan Bisacodyl tablet yang memiliki lapisan enterik.
Interaksi yang Memengaruhi Lapisan Enterik
Bisacodyl tablet dilapisi untuk mencegahnya larut di lambung (lingkungan asam), yang dapat menyebabkan iritasi lambung. Lapisan ini harus utuh hingga mencapai usus basa.
- Antasida (Obat Maag): Obat yang mengandung kalsium atau aluminium hidroksida meningkatkan pH (kebasaan) lambung. Jika diminum terlalu dekat dengan Bisacodyl, antasida dapat melarutkan lapisan enterik di lambung.
- Risiko: Iritasi lambung, kram, mual, dan kegagalan obat untuk bekerja dengan efektif di usus.
- Mitigasi: Beri jarak minimal 1 jam antara meminum Bisacodyl tablet dengan antasida atau obat yang dapat meningkatkan pH lambung lainnya.
- Susu dan Produk Susu: Mirip dengan antasida, susu dapat meningkatkan pH lambung.
- Mitigasi: Hindari mengonsumsi susu atau produk susu dalam waktu 1 jam sebelum atau sesudah meminum Bisacodyl tablet.
Interaksi dengan Obat Diuretik (Peluruh Kencing)
- Risiko: Penggunaan Bisacodyl, terutama dalam jangka panjang atau dosis tinggi, dapat menyebabkan kehilangan kalium (hipokalemia) melalui feses. Jika dikombinasikan dengan diuretik tertentu (seperti furosemide atau hydrochlorothiazide) yang juga menyebabkan hilangnya kalium, risiko hipokalemia menjadi sangat tinggi.
- Gejala Hipokalemia: Kelemahan otot, kram, dan potensi gangguan irama jantung.
- Mitigasi: Pasien yang menggunakan diuretik harus berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum menggunakan laksatif stimulan secara teratur.

Upaya Edukasi Berbasis Bukti
Edukasi berbasis bukti berfokus pada penyampaian informasi yang didukung oleh penelitian ilmiah, bukan sekadar anjuran umum.
Dalam konteks Bisacodyl, edukasi harus mencakup dosis, mekanisme kerja, pencegahan risiko, dan manajemen diri.
Acara ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam menyediakan edukasi kesehatan berbasis bukti (evidence-based) kepada para profesional kesehatan, khususnya dalam manajemen penyakit yang sering dihadapi di layanan primer.
“Diharapkan, melalui edukasi ini, para apoteker dan tenaga kesehatan dapat memberikan konsultasi dan rekomendasi yang lebih tepat dan meyakinkan kepada pasien, sehingga pasien dapat mengatasi konstipasi dengan aman dan kualitas hidup mereka meningkat,” tutup apt. Yuri.***



















