Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Ketika Aspirin Dipertanyakan, Konseling Halal di Balik Meja Apotek Rumah Sakit

Penulis: apt. Bisma, S.Si (Tim Media Nasional PP IAI/PD IAI Sumatra Utara)Editor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

DI RUANG farmasi rumah sakit, seorang pasien paruh baya tampak ragu sambil menggenggam resep yang baru diterimanya dari dokter penyakit dalam. Di kertas resep itu tertera satu nama obat yang sangat umum, aspirin.

Namun, yang membuatnya berhenti bukanlah dosis atau efek sampingnya, melainkan satu pertanyaan sederhana yang kini semakin sering terdengar di ruang-ruang pelayanan kesehatan,
“Apakah obat ini halal?”

Iklan ×

Pertanyaan itu menjadi pembuka dari sebuah percakapan yang menggambarkan transformasi profesi apoteker masa kini, yang bukan sekadar penjaga obat, tetapi juga penyambung antara sains dan nilai spiritual pasien.

Dimulai dari Kebutuhan Pasien yang Ingin Tenang

“Permisi, Bu Apoteker, saya boleh bertanya? Dokter memberi saya resep Aspirin. Tapi saya ingin tahu dulu, apakah obat ini halal?” tanya sang pasien dengan nada hati-hati.

Apoteker tersenyum ramah, lalu menjawab lembut, “Tentu, Pak. Pertanyaan seperti itu sangat baik. Banyak pasien lain juga mulai memperhatikan hal ini, dan tugas kami adalah membantu memberikan penjelasan yang jelas dan ilmiah.”

Kalimat sederhana itu seolah menghapus jarak antara pasien dan tenaga kesehatan. Dalam suasana konsultasi yang hangat, apoteker mulai menjelaskan bagaimana Aspirin sebenarnya diproduksi melalui jalur kimia murni, bukan dari bahan hewani.

Sains di Balik Kehalalan Aspirin

Baca Juga  Sebutir Tablet dan Tauhid yang Terjaga: Apoteker Mengantar Pasien Menjemput 'As-Syafi'

“Secara kimia,” jelas apoteker, “Aspirin dibuat dari reaksi antara asam salisilat dan anhidrida asetat.

Kedua bahan itu berasal dari senyawa kimia. Kedua bahan ini tidak melibatkan unsur hewan ataupun tumbuhan.

Prosesnya juga murni sintesis, seperti proses produksi yang dilakukan di laboratorium industri farmasi.”

Sang pasien tampak penasaran. “Berarti benar-benar dari bahan kimia, Bu? Tidak ada unsur hewan sama sekali?”

“Betul, Pak,” jawab sang apoteker dengan yakin. “Bahkan bahan pelarut yang digunakan dalam prosesnya, seperti toluena atau etanol industri, bukan berasal dari sumber hewani.

Setelah reaksi selesai, semua sisa bahan dibersihkan sehingga hanya tersisa kristal murni asam asetilsalisilat, zat aktif dalam Aspirin.”

Penjelasan ilmiah itu disampaikan dengan bahasa sederhana, jauh dari kesan menggurui. Di titik ini, apoteker menjadi penerjemah sains agar bisa dipahami oleh siapa pun, tanpa kehilangan ketepatan ilmiahnya.

Lebih dari Sekadar Halal, Keselamatan Pasien Tetap Utama

Namun, apoteker tidak berhenti di sana. Ia melanjutkan konseling sebagaimana biasanya, menjelaskan cara minum dan efek samping obat.

“Selain soal halal, Bapak juga perlu tahu cara pakainya. Aspirin sebaiknya diminum setelah makan, jangan dikunyah bila tablet bersalut enterik, dan hindari alkohol karena dapat menambah risiko perdarahan lambung,” ujar sang apoteker dengan nada tegas tapi bersahabat.

Baca Juga  Pahlawan Berdiksi Positif

Pasien mengangguk pelan. “Saya sempat dengar kalau Aspirin bisa bikin lambung perih?”

“Benar, Pak,” jawab apoteker. “Itu karena efeknya menghambat enzim di lambung. Tapi jangan khawatir, kalau diminum sesuai anjuran dokter dan setelah makan, risikonya bisa dikendalikan.”

Dalam momen ini, ilmu farmakologi dan etika pelayanan berpadu harmonis. Apoteker tidak hanya menjawab soal halal, tapi juga memastikan pasien memahami keamanan penggunaan obatnya.

Mengedukasi Tanpa Menghakimi

Setelah mendengar penjelasan itu, ekspresi wajah pasien berubah. Ia tampak lebih tenang. “Jadi sebenarnya Aspirin ini aman ya, Bu? Baik dari sisi medis maupun kehalalan?”

“Sangat aman, Pak,” jawab apoteker. “Dari sisi bahan aktifnya, tidak ada indikasi berasal dari hewan. Jadi Bapak bisa mengonsumsinya dengan tenang. Dan kalaupun masih ragu, kami bisa bantu cari informasi tambahan tentang produsennya.”

Apoteker kemudian menambahkan, “Yang penting, kami tidak memberi fatwa, Pak. Kami memberi data dan penjelasan ilmiah. Keputusan akhir tetap di tangan Bapak sesuai keyakinan pribadi.”

Dialog sederhana itu menegaskan satu hal penting, konseling halal bukanlah pengajaran agama, tetapi bentuk penghormatan terhadap otonomi pasien, sekaligus pembuktian bahwa apoteker mampu memberikan pelayanan yang holistik.

Refleksi Profesi, Antara Sains, Etika, dan Empati

Baca Juga  7 Makna Berkurban bagi Apoteker dari Sisi Kesehatan

Percakapan itu mungkin hanya berlangsung sepuluh menit, namun maknanya jauh melampaui durasinya.

Di era Jaminan Produk Halal (JPH) dan farmasi berbasis nilai (value-based pharmacy), kemampuan apoteker untuk menjelaskan source of origin obat menjadi kompetensi yang sangat relevan.

Bukan hanya pasien Muslim yang membutuhkannya. Banyak pasien non-Muslim juga tertarik mengetahui asal-usul bahan obat dari sisi etika, keberlanjutan, atau keamanan lingkungan. Dalam hal ini, apoteker berdiri di garis depan sebagai komunikator sains yang humanis.

Semangat Profesi

Kisah kecil di ruang konseling itu mengingatkan kita bahwa konseling halal bukan persoalan agama, tetapi pelayanan berpusat pada pasien (patient-oriented care) yang lahir dari profesionalisme dan empati.

Apoteker tidak sekadar menjamin keamanan obat, tetapi juga menghadirkan ketenangan batin bagi pasien yang ingin tahu lebih jauh tentang apa yang ia konsumsi.

Sudah saatnya kita, para apoteker, memperkuat pemahaman ilmiah tentang source of origin obat dan bahan farmasi. Karena pengetahuan ini tidak hanya menjawab kebutuhan pasien Muslim, tetapi juga menjadi nilai tambah bagi seluruh pasien tanpa memandang latar belakang keyakinan.

Dengan ilmu, integritas, dan empati, apoteker bukan hanya memastikan obat itu aman,  tetapi juga membuat pasien merasa aman.

Apoteker menjamin obat, mencerahkan pilihan.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90