JAKARTA, IAINews – Bersamaan dengan penerbitan e-book Buku Skrining Neuropati Perifer, Ikatan Apoteker Indonesia bersama P&G Health juga menerbiatkan Kalender Edukasi Neuropati Perifer yang ditulis oleh Dr. apt. Lusy Noviani,MM dari Fakultas Farmasi Universitas Atmajaya Jakarta.
Kalender Edukasi ini juga dilengkapi dengan panduan penggunaan, sehingga memudahkan apoteker saat menggunakannya dihadapan pasien.
‘’Kalender Edukasi Neuropati Perifer ini merupakan panduan praktis bagi apoteker dalam melaksanakan edukasi, melakukan skrining awal, melakukan pemantauan dan memberikan rujukan,’’ ungkap Dr. apt. Lusy Noviani, MM kepada IAINews.
Terdiri dari dua sisi, yakni sisi pasien dan sisi apoteker. Pada sisi pasien dengan visual sederhana untuk membantu pasien mengenali gejala, memahami faktor risiko dan mengikuti pertanyaan skrining.
‘’Sebagai catatan, Kalender Edukasi Neuropati Perifer ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan anamnesa, pemeriksaan klinis, diagnosis dokter atau pertimbangan terapi oleh apoteker, melainkan hanya sebagai alat bantu edukasi dan skrining awal,’’ tegas Dr. apt. Lusy Noviani.
Pada saat melakukan edukasi, kalender sebaiknya dibuka pada topik yang sama, sehingga pasien melihat visual atau pertanyaan yang sederhana, sementara apoteker melihat poin penjelasan yang lebih lengkap.
Letakkan kalender pada posisi stabil dengan kedua sisi dapat teerlihat jelas oleh masing-masing pihak, mulai percakapan dengan singkat, terarah, tetapi tetap memberikan ruang bagi pasien untuk menjelaskan keluhannya.
Sisi Pasien dan Apoteker
Kalender sisi pasien digunakan untuk menarik perhatian dan memudahkan pemahaman, sementara sisi apoteker untuk mengingatkan pada poin konseling dan tindak lanjut.
Misalnya pada halaman Kenali Gejalanya, sisi pasien berupa gambar gejala yang dirasakan oleh pasien, seperti kesemutan kebas, otot melemah dan refleks menurun. Pasien ditanya apakah merasakan salah satu gejala tersebut.
Di sisi apoteker, diberikan panduan bagaimana apoteker menjelaskan bahwa neuropati perifer bukan proses penuaan yang normal, sampaikan agar tidak mengabaikan gejala dan bahwa penanganan dini sangat penting.
Di halaman tersebut memberikan panduan agar apoteker mendorong pasien untuk mengkontrol kadar gula darah, patuh mengonsumsi obat dan melakukan gaya hidup sehat.
Penggunaan bahasa pada sisi pasien lebih ringkas, sederhana, berorientasi pada pengalaman pasien. Sementara pada sisi apoteker menggunakan bahasa yang lebih terstruktur dan dapat memuat informasi pendukung.
Pasien diminta untuk melihat gambar/pertanyaan dan merespons saat komunikasi berlangsung, sementara apoteker memandu percakapan, menggali informasi lalu merangkum.
Tujuan akhir dari komunikasi yang dibantu dengan kalender edukasi ini adalah pasien memahami apa yang perlu diperhatikan dan dilakukan, sementara apoteker dapat menentukan edukasi, pemantauan atau rujukan yang sesuai.
‘’Prinsipnya, gunakan sisi pasien sebagai pemicu percakapan, bukan sebagai materi yang dibacakan kata demi kata,’’ pesan Dr. apt Lusy Noviani.
Dr. apt. Lusy Noviani kemudian juga berpesan, agar saat komunikasi dilakukan, apoteker dapat menciptakan suasana yang menjaga privasi pasien, terutama saat membahas penyakit penyerta, obat rutin, konsumsi alkohol atau faktor risiko lain.
‘’Gunakan bahasa yang netral dan tidak menghakimi. Hindari menyimpulkan diagnosis hanya berdasarkan satu gejala atau satu hasil skrining,’’ pesan apt. Lusy Novinai kemudian.
Menurut Dr. apt. Lusy Noviani, diterbitkannya Buku Skrining dan Kalender Edukasi Neuropati Perifer ini merupakan upaya untuk dapat melakukan deteksi dini dan penanganan yang tepat untuk mencegah komplikasi.
Komplikassi seperti luka kaki, jatuh, kecacatan dan penurunan kualitas hidup dapat terjadi akibat neuropati perifer yang tidak terdeteksi secara dini.
Neuropati perifer merupakan gangguan pada saraf perifer atau sistem saraf tepi. Kerusakan tersebut mengganggu fungsi saraf tepi dalam mengirimkan sinyal dari organ ke otak atau sebaliknya.
Beberapa faktor risiko neuropati perifer diantaranya seseorang yang berusia 50 tahun ke atas, menderita diabetes, memiliki berat badan berlebih atau obestias, menderita tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, merokok, melakukan gerakan berulang akibat tuntutan pekerjaan dan memiliki keluarga yang juga menderita neuropati perifer.
Neuropati perifer dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi jika tidak ditangani dengan baik.
Beberapa diantaranya adalah peningkatan risiko jatuh dan cedera, pada neuropati yang menyebabkan lemah otot atau gangguan keseimbangan.
‘’Bisa menyebabkan penurunan kualitas hidup akibat keterbatasan dalam bergerak,’’ tutur Dr. apt. Lusy Noviani.
Akibat mati rasa, penderita dapat mengalami cidera atau luka bakar yang berat karena terlambat disadari, bahkan bisa menyebabkan infeksi, gangrene atau kematian jaringan hingga amputasi.***
