MAKASSAR, IAINews – Acara hiburan untuk menyambut kedatangan tamu Rakernas dan PIT IAI 2025 di Kota Makassar Selasa malam 26 Agustus 2025 begitu banyak dan beragam.
Hiburan tersebut sebagai penghormatan dan penyambutan kepada teman sejawat apoteker yang telah hadir dari seluruh Indonesia.
Salah satu hiburan yang menutup kegiatan welcome dinner pada malam itu Adalah Atraksi “Pepe-pepeka Ri Makka”.
Tari Pepe-Pepeka ri Makka ini bukan hanya berupa gerakan dengan iringan musik tradisional, namun disertai dengan atraksi menggunakan api yang disemburkan dari mulut para penari.
Tak berhenti sampai disitu, para penari mengajak beberapa tamu untuk mencoba ’kesaktian’ kebal api.
Tari Pepe-pepeka ri Makka ini dipercaya sudah ada sejak masa Kerajaan Gowa-Tallo di abad ke-16. Pada awalnya, tarian ini berfungsi sebagai sarana dakwah Islam, di mana para penyebar agama memanfaatkan atraksi dan “kesaktian” (kebal api) untuk menarik perhatian masyarakat dan membuktikan kebesaran Tuhan.
Tarian ini juga terinspirasi dari kisah Nabi Ibrahim yang selamat dari api yang membakarnya, berkat mukjizat dari Allah SWT.
Dalam beberapa versi, tari Pepe-pepeka ri Makka ini juga dikaitkan dengan tradisi masyarakat pasca-panen atau ritual penyambutan para pahlawan perang.
Seiring berjalannya waktu, fungsi tarian ini bergeser menjadi pertunjukan hiburan pada acara-acara besar Islam, seperti Maulid Nabi (Maudu’ Lompoa), acara adat, pernikahan, dan penyambutan tamu penting.
Filosofi dan Makna Simbolis
Filosofi di balik tarian Pepe-pepeka Ri Makka sangatlah kaya, mencerminkan nilai-nilai religius, keberanian, dan solidaritas masyarakat Makassar:
“Pepe” (Api) dan “Ri Makka” (di Mekkah): Nama tarian ini sendiri, “api di Mekkah,” adalah simbol dari kisah Nabi Ibrahim. Api di sini tidak melambangkan kehancuran, melainkan kekuatan, keberanian, dan keteguhan iman yang tidak bisa dibakar oleh cobaan.
Keteguhan Iman: Atraksi para penari yang bermain api tanpa terluka melambangkan keteguhan iman seorang Muslim dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan hidup. Dengan keyakinan penuh kepada Tuhan, mereka percaya tidak ada hal yang dapat mencelakai mereka.
Dakwah dan Pesan Moral: Syair atau lantunan yang mengiringi tarian Pepe-pepeka ri Makka seringkali mengandung pesan-pesan moral dan keagamaan. Hal ini menegaskan fungsi awal tarian sebagai media dakwah untuk mengajak masyarakat kepada kebaikan.
Solidaritas dan Kebersamaan: Tarian ini biasanya dibawakan secara berkelompok, yang melambangkan semangat gotong royong dan persatuan dalam menghadapi kesulitan. Gerakan-gerakan yang selaras menunjukkan kekompakan dan solidaritas antar anggota masyarakat.
Tarian Pepe-Pepeka ri Makka adalah tarian tradisional yang berasal dari Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis-Makassar. Tarian ini memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan para jamaah haji yang baru saja pulang dari Tanah Suci Mekkah.
Secara harfiah, “Pepe-Pepeka ri Makka” berarti “terbang-terbang ke Mekkah”, yang merujuk pada semangat dan kegembiraan para jamaah. Tarian ini biasanya ditarikan oleh beberapa penari laki-laki yang mengenakan pakaian khas Bugis-Makassar dan membawa properti seperti tombak atau pedang. Gerakan tariannya energik dan dinamis, seringkali diiringi oleh musik tradisional yang rancak, seperti gendang dan serunai.
Tarian Pepe-Pepeka Ri Makka bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga sebuah ritual sosial yang menunjukkan rasa syukur dan kebersamaan. Saat seorang jamaah haji pulang, biasanya akan diadakan acara penyambutan di mana tarian ini menjadi bagian penting dari perayaan.
Secara keseluruhan, Tari Pepe-Pepeka Ri Makka lebih dari sekadar tarian api. Ia adalah warisan budaya yang menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam, mengajarkan tentang keberanian, keteguhan iman, dan kebersamaan yang menjadi pilar penting dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.***
