Yogyakarta, IAINews – Antimikroba, senjata medis global terancam tumpul, dan dampaknya bisa melumpuhkan sistem kesehatan dunia. Siapa yang harus bertindak? Yogyakarta yang tenang pagi itu menjadi lebih meriah dan ceria ketika para apoteker mengambil perannya sebagai sahabat antimikroba. Mereka tak hanya meracik obat di balik meja, tetapi juga mengayuh sepeda, membawa pesan krusial: Gerakan ‘Jagareksa Antimikroba’
Pemandangan Biru di Pagi Istimewa
Pukul 06.00 WIB, saat kabut tipis masih menyelimuti jalanan dan Tugu Yogyakarta mulai disinari mentari pagi yang indah, para apoteker yang tergabung dalam Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) D.I. Yogyakarta memulai aksi mereka. Mereka adalah “Pasukan Biru” Jagareksa Antimikroba, merujuk pada warna kampanye global World AMR Awareness Week (WAAW), yang diperingati 18-24 November.

Acara bertajuk “Gowes Apoteker Ceria untuk Jagareksa Antimikroba” ini sangat meriah dan penuh semangat. Para Apoteker bersepeda melewati jalan-jalan utama kota, mengubah kegiatan gowes menjadi platform edukasi publik yang efektif.
Ancaman Nyata Kuman Kebal
Aksi Apoteker ini bukan tanpa alasan. Intinya adalah Resistensi Antimikroba (AMR), sebuah kondisi di mana kuman (bakteri, virus, jamur, parasit) tidak lagi mempan dibunuh oleh obat, menjadikannya ‘Kuman Kebal’ atau ‘super bug’.
“Jika AMR terus meningkat, infeksi ringan bisa berubah fatal, perawatan akan menjadi mahal dan memakan waktu, bahkan menyebabkan jutaan kematian secara global setiap tahun. Ini adalah Ancaman GLOBAL Serius,” jelas apoteker Susi, sebagai coordinator acara.
Inilah urgensi dari gerakan “Jagareksa Antimikroba,” yang bermakna Menjaga dan Memelihara Berkah Antimikroba untuk Anak Cucu Kita.
Poster Berbicara: Edukasi Lintas Sektor
Setiap sepeda membawa pesan visual yang kuat, langsung menyasar kebiasaan keliru masyarakat yang menjadi Penyebab Utama AMR:
- Pesan 1: Jangan Salah Sasaran. Poster berbunyi tegas: “ANTIBIOTIK hanya untuk BAKTERI, BUKAN untuk semua penyakit seperti Flu, Pilek, Diare”. Slogan ini memerangi kesalahan paling umum: meminum antibiotik untuk infeksi virus.
- Pesan 2: Peran Apoteker Sentral. Apoteker Djogja mengingatkan: “APOTEKER DJOGJA siap menjaga ANTIMIKROBA. Tanyakan Penggunaan ANTIMIKROBA yang benar pada APOTEKER anda”.
- Pesan 3: Stop Beli Sendiri. Mengedukasi publik agar “TIDAK membeli ANTIMIKROBA Sendiri TANPA RESEP DOKTER” untuk mengatasi Penggunaan Berlebihan (Overuse).
- Pesan 4: Habiskan Tuntas. Melawan Pengobatan Tidak Tuntas dengan seruan: “Jangan Simpan ANTIMIKROBA untuk Persediaan. Gunakan sampai HABIS sesuai ATURAN PAKAI”.
Menjadi Pahlawan AMR: 4 Aksi untuk Masyarakat
Melalui leaflet yang dibagikan, Apoteker PD IAI DIY mengajak masyarakat untuk menjadi “PAHLAWAN AMR” dengan 4 Aksi Mudah:

- Konsul Dokter – Tanya Apoteker: Konsul dokter perlu/tidaknya antimikroba dan tanyakan Apoteker penggunaan yang tepat.
- Habiskan Dosis: Minum obat tepat waktu dan habiskan seluruh dosis.
- Jangan Bagi/Simpan: Jangan pernah menggunakan sisa obat dari yang lalu atau berbagi obat.
- Jaga Kebersihan (Pencegahan): Cuci tangan rutin, masak makanan hingga matang, dan dapatkan vaksinasi lengkap. Pencegahan adalah pengobatan terbaik.
Komitmen One Health dan Keistimewaan Jogja
Aksi “Jagareksa Antimikroba” ini menegaskan kembali komitmen profesi Apoteker dalam pendekatan One Health, yang mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung.

Gowes ditutup dengan penandatanganan komitmen “Community Deal” untuk mendukung Yogyakarta sebagai KOTA BIJAK ANTIMIKROBA. Aksi ini diperkuat dengan slogan lokal yang menyentuh hati: “Jogja dan Antimikroba itu Sama, Keduanya ISTIMEWA. Mari Kita JAGA BERSAMA”.



















