Site icon IAI NEWS

Gelatin dalam Obat, Antara Fungsi Farmasetika dan Urgensi Jaminan Halal

GELATIN bukan sekadar bahan pengisi atau pembentuk kapsul. Ia memainkan peran fungsional yang menentukan mutu sediaan.

Dalam formulasi, gelatin membantu membentuk cangkang kapsul yang mudah larut di lambung, memperbaiki kohesi tablet ketika digunakan sebagai binder, serta memberikan tekstur dan stabilitas pada sediaan semisolid dan mikroenkapsulasi.

Bagi apoteker yang meracik, memilih gelatin yang ideal berarti menyeimbangkan sifat fisikokimia pasien menerima produk yang stabil dan memiliki ketersediaan hayati sesuai tujuan terapeutik.

Masalah utama yang sering muncul adalah berkaitan dengan sumber gelatin. Secara industri, gelatin dapat berasal dari kulit dan tulang sapi, kulit babi, atau kadang dari ikan.

Proses ekstraksi melibatkan kondisioning asam atau alkali, hidrolisis kolagen, pemurnian, dan pengeringan.

Masing-masing tahap ini menghadirkan potensi risiko kehalalan. Penggunaan bahan penolong seperti enzim proteolitik, antifoam, atau filter aid berbasis hewani dapat memperkenalkan unsur non-halal.

Kontaminasi silang di fasilitas multi-produk juga menjadi ancaman nyata ketika lini produksi tidak dipisah atau cleaning validation tidak memadai.

Peran Apoteker dalam Menjamin dan Menjelaskan

Selain aspek kehalalan, interaksi gelatin dengan zat aktif dan kondisi penyimpanan memengaruhi mutu sediaan.

Gelatin bersifat higroskopis dan sensitif kelembapan sehingga dapat mempercepat degradasi obat yang labil terhadap air.

Untuk obat seperti rifampisin yang sensitif terhadap kelembapan dan reaksi Maillard dengan gula reduksi, pilihan eksipien dan kontrol proses menjadi sejumlah pertimbangan teknis yang tidak bisa diabaikan.

Seorang apoteker harus memahami bahwa jaminan mutu dan jaminan halal saling terkait, kegagalan dalam satu aspek berimplikasi pada aspek lain.

Apoteker memegang posisi strategis sebagai pemberi informasi ilmiah kepada pasien.

Ketika pasien bertanya tentang kehalalan kapsul atau sediaan, apoteker tidak hanya menyampaikan jawaban normatif tetapi menelusuri bukti seperti sertifikat halal pemasok, material declaration, CoA, MSDS, serta flowchart proses produksi.

Apoteker perlu menjelaskan dengan bahasa yang tenang dan data-terbukti apakah gelatin berasal dari sumber halal, apakah ada risk of cross-contamination, dan apa langkah mitigasi yang dilakukan pabrik.

Langkah praktis verifikasi yang harus diketahui apoteker

Dalam praktik klinis dan rumah sakit, apoteker harus meminta dokumentasi pendukung dari farmasi komersial atau distributor bila diperlukan.

Verifikasi tingkat hulu meliputi penelusuran spesies sumber, bukti penyembelihan untuk sumber hewani, pernyataan non-use of porcine processing aids, serta bukti segregasi fasilitas dan cleaning validation.

Bila dokumen masih memberi ruang keraguan, apoteker dapat merekomendasikan alternatif sediaan tanpa gelatin atau sediaan yang menggunakan pengganti nabati seperti HPMC.

Dalam memberikan konseling, apoteker harus transparan tentang apa yang diketahui dan apa yang belum dapat dibuktikan.

Menyampaikan risiko secara objektif, menawarkan alternatif yang sahih medis, dan mencatat preferensi agama pasien dalam rekam pelayanan adalah praktik yang profesional.

Keputusan akhir penggunaan obat tetap berada pada pasien setelah mempertimbangkan manfaat klinis dan nilai keyakinan mereka.

Kapasitas apoteker untuk menelusuri asal bahan harus terus diasah. Keterampilan membaca CoA, memahami proses manufaktur sederhana, dan melakukan komunikasi efektif dengan pemasok menjadi bagian esensial dari praktik modern.

Di era regulasi halal yang semakin ketat, apoteker yang mahir dalam isu source of origin menjadi aset penting bagi fasilitas pelayanan kesehatan.

Gelatin adalah contoh nyata bagaimana ilmu farmasi bertemu dengan nilai sosial dan agama.

Bagi apoteker, tanggung jawab ilmiah dan etis ini membuka ruang untuk memberikan layanan yang komprehensif, aman, efektif, dan menghormati keyakinan pasien.

Teruslah mendalami source of origin sebagai landasan kuat dalam konseling obat halal, ini bukan hanya memenuhi tuntutan regulasi, tetapi juga wujud kepekaan profesional yang menghargai pasien secara utuh.***

Exit mobile version