Yogyakarta, IAINews – Suasana Auditorium Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Senin, 29 September 2025 bergetar oleh semangat 225 mahasiswa baru. Mereka terlihat antusias dan berbinar menyimak studium generale yang bersama Romo Sukir, seorang public health pharmacist yang mengajak para mahasiswa baru menyusuri sejarah luhur hingga gerbang revolusi teknologi yang tak terhindarkan.
Dari Cawan Hygieia ke Janji Kepercayaan Global
Romo Sukir memulai dengan story telling yang mengharu biru, membawa para mahasiswa kembali ke akar profesi. Ia mengisahkan keabadian Dewi Hygieia dan Cawan Hygieia (Bowl of Hygieia) yang menjadi simbol farmasi, mengingatkan bahwa profesi ini berpondasi pada kemuliaan pelayanan kesehatan.
Bukti bahwa Apoteker adalah profesi dengan martabat tinggi di mata masyarakat global dipaparkan dengan kisah kebangkitan apoteker komunitas di Inggris dengan gerakan “Think Pharmacy First,” semangat melayani apoteker Kanada yang diusung dalam slogan “Doing More For You,” hingga konsistensi apoteker Amerika Serikat yang selalu menempati posisi 3 besar sebagai profesi terpercaya dalam survei tahunan Gallup.

Pesan intinya jelas: profesi Apoteker adalah profesi mulia yang dibangun di atas dasar kepercayaan dan keilmuan tinggi. Berdasarkan pengalaman masa lampau beradaptasi dengan revolusi industry, hari ini apoteker menghadapi gelombang revolusi teknologi melalui kecerdasan buatan (AI) dan diharapkan apoteker mampu beradaptasi untuk eksistensi dan kemanfaatanya bagi masyarakat
Peringatan Keras: AI Takkan Gantikan Apoteker, Tapi…
Romo Sukir melontarkan sebuah provokasi keras: “AI adalah suatu keniscayaan. AI tidak akan pernah menggantikan peran Apoteker, namun Apoteker yang tidak mengikuti perkembangan teknologi, tidak mau bersiap dan belajar mengenai AI pasti akan digantikan oleh AI!”
Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan didukung oleh data nyata dari terobosan yang terjadi di laboratorium dan industri farmasi global.
- INSILICO MEDICINE: Perusahaan ini membuktikan percepatan yang gila-gilaan dalam penemuan obat. Mereka berhasil membawa obat yang sepenuhnya didesain dan ditemukan oleh AI—yaitu Rentosertib untuk Fibrosis Paru Idiopatik (IPF)—hingga ke uji klinis fase II, memangkas proses yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun menjadi hanya dalam hitungan bulan.
- EXSCIENTIA: Perusahaan ini memegang rekor dunia! Berkolaborasi dengan Sumitomo, Exscientia berhasil membawa kandidat obat (DSP-1181) dari nol hingga masuk ke uji klinis pada manusia hanya dalam waktu 12 bulan, sebuah kecepatan yang tak terbayangkan dalam metode konvensional.
AI, oleh Romo Sukir, disajikan sebagai perpanjangan akal yang mampu menganalisis data rekam medis untuk dosis yang optimal, memprediksi kerusakan mesin pabrik (predictive maintenance), dan bahkan mendesain kampanye kesehatan yang tepat sasaran menggunakan Generative AI.
Kompas Moral di Era Algoritma
Kuliah ditutup dengan resonansi filosofis yang kuat, mengingatkan para mahasiswa bahwa di tengah gelombang algoritma dan data, mereka tidak boleh kehilangan jiwa mereka.
“Ilmu pengetahuan bisa menemukan obat, tapi hanya jiwa manusia yang bisa memberikan penyembuhan,” ujar Romo Sukir, menatap langsung ke 225 pasang mata yang kini dipenuhi inspirasi.
Ia memungkasi kuliah perdananya dengan pesan yang mendalam, sebuah kompas bagi perjalanan akademik dan profesional mereka: “Jadikan teknologi sebagai perpanjangan akal, tapi jangan pernah lupakan jiwa sebagai kompasnya.”

Kuliah Perdana yang dimoderatori oleh Sendy Fahru Suhendra, mahasiswa baru 2025 ini menjadi pembuka wawasan bagi calon Apoteker UMY dan sebagai panggilan bertindak bagi seluruh generasi farmasis muda: untuk menjadi pelayan kesehatan yang unggul dalam teknologi, namun tetap berakar kuat pada empati dan moralitas manusia. Masa depan Apoteker ada di tangan mereka, dan mereka kini dibekali dengan tantangan serta alat untuk membangunnya.



















