Rezeki sebagai Amanah di Balik Meja Apotek. Kehidupan seorang apoteker tidak bisa dilepaskan dari urusan niaga dan pelayanan kesehatan. Apoteker sering kali berhadapan dengan target keuntungan materiil yang terkadang berbenturan dengan nilai-nilai idealisme profesi. Apoteker muslim meyakini bahwa rezeki bukan sekadar angka yang tertera dalam laporan keuangan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan keberkahannya. Prinsip halalan thayyiban menjadi kompas utama bagi apoteker dalam menjalankan roda bisnis maupun pengabdian profesionalnya.
Melampaui Sekadar Keuntungan Finansial
Keuntungan yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan keberkahan. Apoteker memahami bahwa harta yang berkah adalah harta yang diperoleh melalui cara yang benar dan memberikan ketenangan batin. Allah memberikan peringatan dalam Surah Al-Baqarah ayat 168: “Ya ayyuhan-naasu kuluu mimmaa fil-ardhi halaalan thayyibaa” (Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi ini yang halal lagi baik). Thayyib dalam konteks kefarmasian berarti obat yang diberikan harus benar-benar berkualitas, bermutu, dan sesuai dengan kebutuhan klinis pasien, bukan sekadar menghabiskan stok gudang demi mengejar omzet.
Integritas dalam Menghadapi Godaan Gratifikasi
Dunia farmasi yang kompleks sering kali menghadirkan godaan berupa kerja sama yang tidak etis atau gratifikasi yang dapat memengaruhi objektivitas profesional. Apoteker yang memegang teguh prinsip keimanan akan menolak segala bentuk praktik yang merugikan pasien atau mencederai sportivitas profesi. Kejujuran dalam merekomendasikan obat merupakan investasi akhirat yang tak ternilai harganya. Rasulullah SAW memberikan jaminan bagi pedagang yang jujur, termasuk praktisi kesehatan, bahwa mereka akan dikumpulkan bersama para nabi dan syuhada di hari kiamat.
Keberkahan Melalui Jalur Pelayanan Sosial
Sedekah melalui profesi merupakan pintu pembuka keberkahan yang sangat lebar bagi seorang apoteker. Memberikan diskon bagi pasien yang kurang mampu atau meluangkan waktu ekstra untuk konseling tanpa tambahan biaya adalah bentuk “zakat profesi” yang nyata. Apoteker percaya bahwa dengan memudahkan urusan hamba Allah yang sedang sakit, maka Allah akan memudahkan segala urusan hidup dan rezekinya. Keberkahan inilah yang membuat harta sedikit terasa cukup, dan harta banyak menjadi manfaat bagi sesama.
Menjemput Rida Tuhan di Ruang Pelayanan
Jalaluddin Rumi mengingatkan bahwa “Apa yang kita cari, juga sedang mencari kita.” Jika apoteker mencari rida Allah melalui pelayanan yang jujur, maka rezeki yang berkah akan datang menjemput dengan cara yang tidak disangka-sangka. Setiap transaksi di apotek yang dibungkus dengan niat ibadah akan bernilai pahala yang mengalir. Apoteker muslim yang menjaga kemurnian rezekinya senantiasa bekerja dengan hati yang tenang, karena ia tahu bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pemberi rezeki (Ar-Razzaq).

