TEGAL, IAINews – Pemahaman Dagusibu siswa SMK ternyata dapat ditingkatkan dengan penyuluhan yang tepat. Pemahaman Dagusibu ini penting sebagai bagian dari upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
Kegiatan penyuluhan itu dilakukan oleh tim dosen Program Studi Diuploma III Farmasi Politeknik Harapan Bersama bekerjasama dengan Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (PC IAI) Kota Tegal.
Acara pengabdian masyarakat di SMK Al Amin Tegal ini merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan penggunaan obat yang rasional. Kegiatan ini bertema ‘Pemberian Edukasi Gema Cermat (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat) Melalui Program ‘Tanya 5 O’’.
Sebanyak 36 siswa siswi kelas X dan XI jurusan Farmasi dan Teknik Komputer Jaringan SMK Al Amin Tegal mengikuti kegiatan yang dilaksanakan selama 2 jam sejak pukul 08.00 pagi tersebut.
‘’Kegiatan ini dimulai dengan pengisian pre-test oleh para peserta untuk mengukur pemahaman awal mereka, ‘’ tutur apt. Rizki Febriyanti, M.Farm, staf pengajar Program Studi Diploma III Farmasi Politeknik Harapan Bersama.
Apt Rizki bersama timnya, yakni Apt Sari Prabandari, S.Farm, MM, Kusnadi, M.Pd dan 3 mahasiswa yakni Febrilliani Kharisma Kesaya, Irdelia Wahyu Puspitasari dan Dian Ayu Laely kemudian melakukan sosialisasi dan pemaparan materi edukasi.
Apt Rizki adalah juga seorang Agen of Change (AoC) dari perwakilan PC IAI Kota Tegal. Materi yang disampaikan mencakup empat topik utama dalam Gema Cermat, yaitu penggolongan obat, Dagusibu (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang obat dengan baik dan benar), penggunaan obat rasional dan penggunaan antibiotic bijak serta Tanya 5 O.
Dalam kesempatan itu, apt Rizki menjelaskan mengenai definisi dan penggolongan obat. Obat digolongkan menjadi obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras dan narkotika.
Apt Rizki juga menjalaskan bagaimana cara mendapatkan obat dengan benar untuk menghindari risiko penggunaan obat yang tidak rasional.
Mengenai Dagusibu, apt Rizki mengupas bagaimana cara mendapatkan obat dengan benar, penggunaan berbagai jenis obat seperti obat minum, suppositoria, obat oles, inhalasi, dan lain-lain.
Selain itu, disampaikan juga cara menyimpan obat yang baik untuk menjaga kualitas dan cara membuang obat yang benar agar tidak disalahgunakan.
Dalam kesempatan itu, dijelaskan juga mengenai penggunaan obat rasional dan penggunaan antibiotik secara bijak.
Apt Rizki menekankan pentingnya penggunaan obat sesuai resep dan anjuran dokter. Dia juga menggugah kesadaran akan resistensi antibiotik yang disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
Di bagian akhir, apt Rizki mengajarkan mengenai apa saja yang harus diketahui saat mendapatkan obat dari fasilitas kesehatan.
‘’Saat menerima obat, kita harus Tanya 5 O dan cari informasi pada kemasan. Cari lima hal penting yang harus diketahui saat mendapatkan obat,’’ kata apt Rizki.
Ke 5 O tersebut adalah, apa nama dan kandungan obat, khasiat atau indikasi obat, dosis obat, cara penggunaan obat, dan efek samping obat.
Sebelum penyuluhan disampaikan, dilakukan penilaian melalui kuesioner pre-test dan setelah penyuluhan diberikan post-test yang terdiri dari sepuluh pertanyaan.
Hasil rata-rata pre-test peserta adalah 7,11, sementara hasil rata-rata post-test mencapai 9,0.
‘’Membandingkan pre test dan post test ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman sebesar 26,7%,’’ papar apt Rizki.
‘’Peningkatan ini menunjukkan bahwa peserta memperoleh dan menerima informasi dengan baik. Karakteristik responden yang sebagian besar berlatar belakang pendidikan SMA turut mempengaruhi kemudahan penerimaan informasi baru,’’ tambah apt Rizki.
Peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan obat yang benar diharapkan dapat mengurangi risiko kesalahan penggunaan obat dan meningkatkan kesejahteraan hidup.
Kegiatan ini berhasil memberikan pengetahuan praktis kepada para peserta mengenai cara memilih, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan tepat.
Acara ini juga mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan obat yang rasional.
Diharapkan, edukasi semacam ini dapat diterapkan di lebih banyak sekolah untuk menciptakan masyarakat yang lebih cerdas dalam menggunakan obat.***



















