SAMARINDA, IAINews – Kagama Kaltim (Keluarga Alumni UGM Kalimantan timur) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) ‘World Class University’.
Acara yang digelar sebagai Sinergi UGM dan Kagama Kalimantan Timur. diselenggarakan di ruang serbaguna Bankaltimtara, Samarinda, pada Sabtu, 31 Januari 2026, dan dihadiri Lebih dari 120 orang alumni.
Diskusi ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan peringkat UGM ke dalam jajaran 100 besar universitas berkelas dunia.
Narasumber dari UGM Prof. Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA, Akt dan Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., ASEAN Eng.
Hadir sejumlah tokoh antara lain Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur Dra. Sri Wahyuni, M.PP., Wakil Walikota Balikpapan Dr. Ir. H. Bagus Susetyo, MM., dan Kepala BRIDA Kaltim Dr. M. Ir. H. Fitriansyah, ST, MM.
Tampah hadir pula Direktur Operasional & Manajemen Risiko Bankaltimtara Yenny Israwati, SE, MM, Kepala Biro Pemerintahan, Perbatasan dan Otonomi Daerah Setdaprov Kaltim Siti Sugianti, SE, M.Si, serta Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Kabupaten PPU Nicko Herlambang, S.T., M.Si.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Sri Wahyuni, mewakili Gubernur Kaltim, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap berbagai pemikiran dan gagasan yang dilontarkan oleh para akademisi dan alumni UGM.
Menurutnya, ide-ide tersebut tidak hanya mendukung pengembangan almamater, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat Kaltim.
“Kehadiran para tokoh akademik dan alumni UGM ini adalah angin segar bagi Pemprov Kaltim,” ujar Sri Wahyuni.
Lebih lanjut, Sekda menguraikan bahwa struktur perekonomian Kaltim saat ini masih bertumpu pada sektor sumber daya alam, dengan kontribusi kuat dari konstruksi dan pertambangan.
Sejauh ini terlihat tanda-tanda positif dengan mulai bergeraknya sektor industri pengolahan, yang meski baru tumbuh sekitar 2%, menjadi awal yang baik.
Pemprov Kaltim menargetkan kontribusi industri pengolahan dapat mencapai sekitar 40% pada tahun 2045.
“Dalam proses transformasi ekonomi tersebut, dukungan dari alumni UGM dinilai sangat krusial, terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah dan mendorong hilirisasi. Hal ini sejalan dengan upaya peralihan dari ketergantungan pada sumber daya alam tak terbarukan menuju pemanfaatan sumber daya alam terbarukan”, ujar Sekda Provinsi Kaltim.
Prof. Indra Wijaya Kusuma, selaku Kepala Satuan Penjaminan Mutu dan Reputasi Universitas, memaparkan bahwa strategi inti UGM berfokus pada lima aspek utama, yaitu: (a) Penelitian Unggul; (b) Pendidikan Unggul; (c) Pengabdian Unggul; (d) Fasilitas Unggul; serta (e) Lingkungan Kampus yang ramah dan mendukung.
Dr. Hatma Suryatmojo menyampaikan bahwa kemajuan peringkat UGM dalam QS World University Rankings akan diukur melalui survei terstruktur yang dikelola oleh universitas.
Selanjutnya, Hatma Suryatmojo menegaskan target jangka pendek UGM adalah memasuki jajaran 200 besar pada tahun 2026, dengan aspirasi untuk mencapai peringkat 170 besar dunia dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
Focus Group Discussion (FGD) yang digelar UGM bersama Kagama Kaltim tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga wadah strategis merancang kontribusi nyata alumni bagi pembangunan daerah.
Hal ini ditegaskan oleh Ketua Kagama Provinsi Kalimantan Timur, Didiek Anggrat, dan Ketua Kagama Samarinda, Raynold Tumbo Panggalo, usai kegiatan tersebut.
Didiek Anggrat menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat sinergi segitiga antara alumni, universitas, dan pemerintah daerah.
“FGD ini dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan pemikiran akademis, pengalaman praktis alumni, dan kebijakan strategis Pemprov Kaltim,’’ tutur Didiek Anggrat.
‘’Tujuannya agar ide-ide segar dari kampus dan alumni tidak hanya menjadi wacana, tetapi dapat diimplementasikan dalam program pembangunan yang nyata, khususnya dalam mendorong hilirisasi dan transformasi ekonomi,” ujar Didiek Anggrat.
Sementara itu, Ketua Kagama Samarinda, Raynold Tumbo Panggalo, menekankan pentingnya peran alumni dalam konteks lokal dan global secara simultan.
“Tujuan kami di tingkat kota adalah menjabarkan sinergi besar ini ke dalam program yang lebih terukur di Samarinda dan sekitarnya,’’ jelas Raynold Tumbo Panggalo.
‘’Misalnya, dengan mendorong riset terapan UGM yang sesuai dengan potensi unggulan lokal, serta memfasilitasi alumni untuk terlibat dalam project-based collaboration dengan Pemkot dan pelaku usaha,” papar Raynold.
“Mendukung UGM masuk 100 besar universitas kelas dunia bukan hanya tentang prestasi akademik semata, tetapi tentang bagaimana reputasi itu diterjemahkan menjadi dampak sosial-ekonomi di daerah asal alumni,’’ tandas Raynold.
‘’Ketika penelitian dan inovasi dari kampus dapat menyelesaikan masalah riil di Kaltim, itulah indikator keberhasilan yang sesungguhnya,” tegas Raynold.
Acara FGD ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, alumni, dan pemerintah daerah dalam menyongsong Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas.***



















