Site icon IAI NEWS

CDOB dan Lingkungan Hidup: Saatnya Distribusi Farmasi Menjadi Bagian dari Solusi

IAINews – Setiap tanggal 5 Juni, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day). Peringatan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong aksi nyata dalam menjaga lingkungan hidup. Berbagai sektor diajak berkontribusi menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan, termasuk sektor kesehatan dan distribusi farmasi.

Ketika membahas isu lingkungan, perhatian masyarakat umumnya tertuju pada industri manufaktur, pertambangan, transportasi, atau pengelolaan sampah rumah tangga. Namun, aktivitas distribusi farmasi masih jarang dikaitkan dengan isu lingkungan. Padahal, sebagai bagian penting dari rantai pasok kesehatan, distribusi farmasi juga memiliki dampak lingkungan yang perlu diperhatikan dan dikelola dengan baik.

Selama ini, pembahasan mengenai Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) lebih banyak berfokus pada aspek mutu, keamanan, dan integritas produk. Hal tersebut tentu tepat karena tujuan utama CDOB adalah memastikan obat yang diterima pasien memiliki mutu yang sama seperti saat produk keluar dari fasilitas produksi.

Namun, menurut saya, sudah saatnya kita melihat CDOB dari perspektif yang lebih luas. CDOB tidak hanya berkontribusi terhadap mutu dan keselamatan pasien, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan.

Hubungan antara CDOB dan lingkungan sebenarnya sederhana. Ketika CDOB diterapkan dengan baik, mutu produk akan terjaga dan risiko kerusakan dapat diminimalkan. Ketika produk tidak rusak, jumlah limbah farmasi yang dihasilkan pun dapat berkurang. Dengan demikian, penerapan CDOB yang baik turut mendukung pengurangan limbah dan menekan dampak terhadap lingkungan.

Dalam operasional sehari-hari, Pedagang Besar Farmasi (PBF) menghasilkan berbagai jenis limbah. Limbah tersebut dapat berupa kemasan, seperti kardus, plastik stretch film, dan bubble wrap. Selain itu, terdapat limbah produk berupa obat kedaluwarsa, produk rusak, atau produk yang harus ditarik dari peredaran (recall).

Tidak kalah penting adalah limbah operasional, seperti kertas, toner printer, dan lampu bekas pakai. Jika tidak dikelola dengan baik, seluruh limbah tersebut berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang tidak diinginkan.

Salah satu contoh nyata kontribusi CDOB terhadap lingkungan adalah penerapan prinsip FEFO (First Expired First Out). Selama ini, FEFO sering dipandang hanya sebagai metode pengelolaan stok. Padahal, prinsip ini juga dapat dilihat sebagai upaya pengurangan limbah.

Dengan memastikan produk yang memiliki tanggal kedaluwarsa lebih dekat didistribusikan terlebih dahulu, risiko produk kedaluwarsa di gudang dapat ditekan. Semakin sedikit produk yang kedaluwarsa, semakin sedikit pula produk yang harus dimusnahkan. Hasil akhirnya adalah pengurangan limbah dan penggunaan sumber daya yang lebih efisien.

Selain FEFO, aspek penyimpanan juga memiliki peran penting. Pengendalian suhu, kelembapan, tata letak, dan penanganan produk sesuai ketentuan CDOB akan membantu mencegah kerusakan produk.

Setiap produk yang berhasil diselamatkan dari kerusakan berarti satu langkah lebih dekat menuju pengurangan limbah farmasi. Dari perspektif lingkungan, pencegahan selalu lebih baik dibandingkan pemusnahan.

Kita juga perlu menyadari bahwa beberapa produk farmasi mengandung zat aktif yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan benar. Produk antibiotik, hormon, dan beberapa obat tertentu dapat berdampak terhadap ekosistem apabila masuk ke lingkungan secara tidak terkendali.

Oleh karena itu, pengelolaan produk rusak, produk kedaluwarsa, dan produk recall harus dilakukan secara bertanggung jawab melalui prosedur yang sesuai dan melibatkan pihak yang memiliki izin pengelolaan limbah.

Di sisi lain, upaya menjaga lingkungan di PBF tidak selalu membutuhkan investasi besar. Langkah sederhana, seperti penggunaan lampu LED hemat energi, digitalisasi dokumen untuk mengurangi penggunaan kertas, pemilahan limbah kemasan, serta optimalisasi rute distribusi, dapat memberikan dampak signifikan apabila dilakukan secara konsisten.

Konsep Green Warehouse dan Green Transportation semakin relevan untuk diterapkan dalam industri distribusi farmasi yang modern dan berkelanjutan.

Ke depan, saya meyakini bahwa keberhasilan distribusi farmasi tidak hanya diukur dari ketepatan pengiriman, tingkat layanan pelanggan, atau pencapaian target bisnis. Organisasi distribusi farmasi juga perlu mulai memperhatikan indikator lingkungan, seperti jumlah produk kedaluwarsa, volume limbah yang dihasilkan, tingkat daur ulang kemasan, hingga efisiensi penggunaan energi.

Apa yang diukur akan lebih mudah diperbaiki, dan apa yang diperbaiki secara konsisten akan menjadi budaya organisasi.

Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia setiap tanggal 5 Juni hendaknya menjadi pengingat bagi seluruh insan distribusi farmasi bahwa menjaga lingkungan bukanlah tanggung jawab pihak lain semata. Kita semua memiliki peran untuk memastikan bahwa aktivitas distribusi yang dijalankan tidak hanya mendukung pelayanan kesehatan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

Pada akhirnya, distribusi farmasi yang berkualitas bukan hanya tentang mengirimkan produk tepat waktu atau menjaga mutu obat sampai ke tangan pasien. Distribusi yang berkualitas juga berarti mengurangi pemborosan, meminimalkan limbah, menggunakan sumber daya secara bijaksana, dan berkontribusi terhadap masa depan yang lebih baik.

Sebagai insan distribusi farmasi, marilah kita menjadikan CDOB bukan hanya sebagai standar kepatuhan, tetapi juga sebagai komitmen untuk menjaga lingkungan. Sebab, setiap produk yang berhasil sampai kepada pasien dalam kondisi baik dan sebelum kedaluwarsa merupakan keberhasilan pelayanan kesehatan sekaligus bagian dari upaya menjaga lingkungan.

Exit mobile version