Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Belajar dari Maya, Fokus pada Diksi Positif untuk Kesembuhan

Penulis: apt. Aulia Rahim, M.Farm (Tim Media Nasional IAI/PD IAI Kalimantan SelatanEditor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

DI SEBUAH kota kecil yang dikelilingi oleh pegunungan hijau, hiduplah seorang wanita bernama Maya. Maya adalah sosok yang ceria, selalu dikelilingi oleh tawa teman-temannya.

Namun, segalanya berubah ketika ia didiagnosis dengan penyakit autoimun. Ketika berita itu datang, seolah-olah dunia Maya runtuh.

Iklan ×

Rasa cemas dan kesedihan menyelimuti hidupnya. Setelah menerima diagnosis tersebut, Maya menghabiskan berhari-hari dalam kebingungan dan ketakutan.

Namun, di tengah keterpurukannya, ia teringat akan nasihat ibunya yang selalu menekankan pentingnya kata-kata positif.

“Kata-kata memiliki kekuatan, Maya. Mereka bisa menyembuhkan atau bahkan menyakiti,” kata ibunya. Maya pun mulai merenungkan kembali kata-kata tersebut.

Suatu malam, sambil duduk di balkon rumahnya, Maya menuliskan semua perasaan dan pikiran yang mengganggu benaknya.

Namun, kali ini ia membuat keputusan untuk mengganti setiap frasa negatif dengan frasa positif. Alih-alih menulis, “Aku tidak ingin merasa sakit,” ia menggantinya dengan, “Aku ingin merasakan energi dan kekuatan yang ada dalam diriku.” Rasanya, seperti melepaskan beban dari pundaknya.

Baca Juga  Apoteker Seorang Guru

Maya kemudian mulai melakukan eksperimen sederhana. Setiap pagi, ia mulai merapal afirmasi positif.

“Aku adalah pejuang. Tubuhku kuat dan mampu sembuh”.

Dia menempelkan catatan tersebut di cermin kamar mandi, radio, dan di atas meja makan.

Setiap kali ia melihat atau mendengar kalimat tersebut, Maya merasakan semangat baru mengalir dalam dirinya.

Tidak hanya afirmasi, Maya juga mulai mendengarkan podcast dan membaca buku tentang kesembuhan dan kesehatan.

Setiap konten yang ia konsumsi menekankan pentingnya menjaga pikiran positif. Maya mulai berfokus pada hal-hal kecil yang bisa ia syukuri, seperti dentingan suara burung di pagi hari, kehangatan sinar matahari, dan senyuman orang-orang terkasih.

Proses kesembuhannya bukanlah hal yang mudah. Ada kalanya ia merasa terpuruk kembali saat gejala penyakit muncul.

Baca Juga  Menjadi Apoteker yang Jujur

Namun, setiap kali ia terjatuh, Maya berusaha untuk bangkit dengan kekuatan kata-kata positif.

“Ini hanya tantangan, bukan akhir dari segalanya,” dia katakan pada dirinya. “Aku masih memiliki banyak hal untuk diperjuangkan”.

Selama perjalanan ini, Maya juga menemukan dukungan dari komunitas. Dia bergabung dengan kelompok pendukung di mana orang-orang saling berbagi pengalaman dan memberikan suntikan semangat satu sama lain.

Di sana, dia menyaksikan kekuatan komunitas yang saling mendukung melalui diksi positif dan dorongan satu sama lain.

Waktu berlalu, dan berkat ketekunan serta fokus pada pikiran dan diksi positif, kondisi Maya mulai membaik.

Dokter yang merawatnya terkejut dengan perkembangan yang pesat. “Kamu melakukan lebih dari sekadar mengikuti pengobatan,” kata dokter dengan senyum. “Sikap mental positifmu berperan besar dalam proses kesembuhan ini.”

Baca Juga  Memaknai WPD 2025, Apoteker Bukan Sekedar Penjual Obat

“Hidup kita ditentukan oleh pikiran yang kita pilih,” ujar Maya dengan bersemangat. “Dengan memilih diksi positif, kita tidak hanya mengubah cara kita berpikir, tetapi juga cara kita hidup!”

Dari cerita ini, kita belajar bahwa fokus pada diksi positif bukan hanya sebuah teknik, melainkan sebuah perjalanan menuju kesembuhan yang melibatkan pikiran, perasaan, dan tindakan.

Kekuatan kata-kata adalah kunci, mereka bisa membangun atau menghancurkan. Ketika kita memilih untuk berbicara dengan penuh kasih dan harapan, sebagaimana Maya lakukan, jalan menuju kesembuhan akan menjadi lebih cerah.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90