BANDAR LAMPUNG, IAINews — BBPOM SunMorFe 2025 (Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Sunday Morning Fun Education) memberi warna berbeda di kegiatan Car Free Day (CFD) Bundaran Gajah, Kota Bandar Lampung, pada Minggu, 30 November 2025.
Ribuan warga yang berolahraga pagi dikejutkan dengan hadirnya ratusan apoteker lengkap dengan poster edukasi dan brosur kampanye kesehatan.
BBPOM SunMorFe digelar oleh BBPOM di Bandar Lampung bersama Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Lampung (PD IAI Lampung).
Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Pekan Kesadaran Resistensi Antimikroba Sedunia (World Antimicrobial Resistance Awareness Week/WAAW) serta Kampanye Ayo Buang Sampah Obat dengan Benar (ABSO).
Dengan mengangkat tema “Sehat Bersama BBPOM: Lawan Resistensi Antimikroba dan Buang Sampah Obat dengan Benar”, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penggunaan antibiotik yang tidak tepat serta pentingnya mengelola sampah obat agar tidak mencemari lingkungan maupun membahayakan kesehatan.
Edukasi mengenai resistensi antimikroba dan tata cara pembuangan sampah obat yang aman menjadi inti kegiatan yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan.
Peringatan WAAW: Momen Penting Edukasi Masyarakat
Peringatan Pekan Kesadaran Resistensi Antimikroba Sedunia (World Antibiotic Awareness Week) yang berlangsung secara global setiap 8–24 November menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
Penggunaan antibiotik secara sembarangan dapat memicu bakteri menjadi kebal terhadap obat tersebut, sehingga penyakit semakin sulit disembuhkan, berisiko menimbulkan komplikasi, bahkan berpotensi menyebabkan kematian.
Melalui peringatan ini, BBPOM di Bandar Lampung menekankan pentingnya edukasi AMR agar dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, mengingat praktik penggunaan antibiotik tanpa resep masih sering ditemukan di berbagai daerah.
Secara global, AMR telah menjadi ancaman kesehatan serius. Diperkirakan pada tahun 2050, resistensi antimikroba dapat menyebabkan hingga 10 juta kematian per tahun apabila tidak dilakukan upaya pengendalian yang efektif.
Pada 2019, AMR tercatat terkait dengan hampir 5 juta kematian di seluruh dunia. Di Indonesia, dampaknya juga signifikan.
Pada 2021, sekitar 36.500 kematian diperkirakan secara langsung disebabkan oleh AMR, sementara 147.000 kematian lainnya berkaitan dengan resistensi antimikroba.
Data tersebut menunjukkan urgensi penguatan edukasi dan pengawasan penggunaan antibiotik.
Kepala Balai Besar POM di Bandar Lampung, apt. Bagus Heri Purnomo, S.Si, dalam sambutannya menegaskan bahwa resistensi antimikroba adalah ancaman nyata yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak mutlak diperlukan untuk menekan lajunya.
“Resistensi antimikroba bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga ancaman bagi ketahanan sistem pelayanan Kesehatan,’’ tutur apt. Bagus Heri.
‘’Jika penggunaan antibiotik tidak dikendalikan, kita bisa menghadapi situasi di mana penyakit umum pun sulit disembuhkan. Karena itu, edukasi seperti ini harus terus dilakukan,” ujar Bagus Heri.
Kolaborasi BBPOM dan IAI Lampung: Kekuatan Edukasi dari Para Ahli Obat
Kegiatan BBPOM SunMorFe 2025 ini semakin bermakna dengan hadirnya 293 apoteker dari seluruh Provinsi Lampung yang terjun langsung memberikan edukasi kepada masyarakat.
Kehadiran apoteker dalam jumlah besar ini menjadi salah satu kekuatan penting dalam kampanye kesehatan, mengingat apoteker merupakan garda terdepan dalam memastikan penggunaan obat yang tepat dan aman.
Dari PD IAI Lampung hadir apt. Lilik Koernia Wahidah, S.Farm., MPH, selaku Wakil Ketua 3.
Dalam sesi pembukaan, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebagai bentuk pengabdian organisasi, tetapi juga sebagai wujud komitmen apoteker dalam memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kehadiran ratusan apoteker hari ini menunjukkan bahwa edukasi penggunaan obat merupakan tanggung jawab bersama,’’ tegas apt. Lilik Koernia.
‘’Kami ingin memastikan masyarakat memahami bahwa antibiotik bukan obat untuk segala penyakit, serta mengajak mereka untuk lebih peduli terhadap cara membuang sampah obat yang benar,” jelas apt. Lilik Koernia.
Selain unsur pengurus dan panitia kegiatan dari PD IAI Lampung, hadir pula perwakilan Gabungan Perusahaan Farmasi Provinsi Lampung yang menunjukkan dukungan terhadap gerakan kesehatan masyarakat ini, terutama dalam penyebaran informasi terkait penggunaan obat yang tepat dan pentingnya menjaga lingkungan dari limbah obat.
Rangkaian Kegiatan: Edukasi, Brosur, dan Kampanye di Tengah Keramaian CFD
CFD Bundaran Gajah yang menjadi lokasi kegiatan tampak semarak sejak pagi. Pengunjung yang awalnya datang untuk berolahraga disambut oleh stan edukasi, poster informasi, serta kelompok apoteker yang menyebar ke berbagai titik untuk memberikan edukasi langsung.
Ratusan brosur mengenai bahaya resistensi antimikroba, penggunaan antibiotik rasional, dan kampanye DAGUSIBU Antibiotik dibagikan kepada masyarakat.
DAGUSIBU adalah kampanye edukasi mengenai bagaimana Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat dengan benar.
Dalam kegiatan ini, fokus edukasi diarahkan pada antibiotik dan sampah obat bekas pakai.
Masyarakat diajak untuk memahami bahwa antibiotik hanya boleh didapatkan melalui resep dokter, harus digunakan sesuai dosis, tidak boleh disimpan untuk digunakan kembali tanpa konsultasi, dan perlu dibuang dengan cara yang tepat agar tidak mencemari lingkungan.
Para apoteker menjelaskan kepada masyarakat bahwa membuang obat sembarangan – seperti ke dalam tempat sampah rumah tangga, toilet, atau aliran air – dapat membuat residu obat mencemari lingkungan.
Dalam jangka panjang, hal ini juga dapat memicu resistensi bakteri di alam. Karena itu, masyarakat diajak untuk membawa obat kedaluwarsa atau tidak terpakai ke fasilitas kesehatan atau program pengumpulan sampah obat yang diselenggarakan oleh instansi terkait.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas. Banyak warga yang menghentikan aktivitas olahraga mereka untuk bertanya lebih jauh terkait cara mengenali antibiotik, kapan harus menggunakannya, serta bagaimana cara membuang obat yang benar.
Beberapa warga tampak membawa obat-obatan dari rumah untuk ditanyakan langsung kepada apoteker mengenai kondisi dan kelayakan penggunaannya.
Partisipasi Apoteker: Wujud Pengabdian dan Kepedulian
Keterlibatan 293 apoteker dalam kegiatan ini bukan hanya menjadi kebanggaan IAI Lampung, tetapi juga memberikan nilai tambah besar bagi kualitas edukasi yang diberikan.
Para apoteker yang hadir berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Lampung, mulai dari Bandar Lampung, Metro, Lampung Selatan, hingga Lampung Timur.
Banyak dari mereka mengaku terinspirasi oleh tingginya antusiasme masyarakat dan berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin.
“Kami merasa masyarakat kini semakin peduli terhadap kesehatan, terutama soal penggunaan antibiotik. Banyak yang bertanya hal-hal detail, seperti bagaimana membedakan antibiotik dari obat lain. Ini menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan,” ungkap salah satu apoteker peserta.
Beberapa apoteker lainnya menyampaikan harapannya agar BBPOM dan IAI Lampung dapat menggelar kegiatan lanjutan, karena momentum edukasi langsung di ruang publik seperti CFD memberikan dampak besar dalam penyebaran informasi.
Makna Kegiatan: Langkah Menuju Masyarakat yang Lebih Sadar Obat
BBPOM SunMorFe 2025 bukan sekadar acara peringatan AMR atau kampanye ABSO, melainkan gerakan besar untuk membangun masyarakat yang cerdas dalam menggunakan obat.
Dengan semakin meningkatnya konsumsi obat dan mudahnya akses obat tertentu tanpa pengawasan, kegiatan edukasi seperti ini menjadi penting dalam menekan risiko penyalahgunaan.
Kegiatan ini juga menjadi contoh sinergi nyata antara pemerintah, organisasi profesi, dan pelaku industri farmasi dalam menggerakkan literasi kesehatan di tingkat akar rumput.
Keberhasilan acara ini dapat dilihat dari besarnya jumlah peserta, interaksi aktif masyarakat, serta komitmen apoteker yang hadir.
Di akhir kegiatan, perwakilan BBPOM Lampung dan PD IAI Lampung menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat.
Mereka berharap kegiatan edukasi seperti ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat di berbagai wilayah Lampung.
Pesan utama dari kegiatan ini jelas: gunakan antibiotik secara bijak dan buang sampah obat dengan benar.
Dengan langkah kecil namun konsisten, masyarakat dapat berperan aktif dalam mencegah resistensi antimikroba dan menjaga lingkungan tetap aman dari limbah obat.
Antusiasme masyarakat dan apoteker dalam kegiatan BBPOM SunMorFe 2025 menjadi bukti bahwa edukasi kesehatan yang dikemas dengan pendekatan langsung dan menyenangkan dapat memberikan dampak besar.
Kegiatan ditutup dengan harapan bahwa kolaborasi seperti ini akan terus diperkuat demi mewujudkan masyarakat Lampung yang lebih sehat, cerdas, dan bertanggung jawab dalam menggunakan obat.***


















