JAKARTA, IAINews – Dari data yang dikumpulkan, ketika seseorang mengidap penyakit hemoroid (wasir/ambeien), diantara mereka akan mengunjungi dokter sebanyak 41 persen, 22 persen diantaranya mencari di internet, 16 persen bertanya pada teman/keluarga, 13 bertanya bertanya pada apoteker dan 8 persen lainnya.
Data tersebut disampaikan Dr. dr. Irsan Hasan, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACC, dokter spesialis penyakit dalam dari FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada webinar bertajuk ‘Haemorrhoids in Practice : Clinical Perspective and the Pharmacist’s Role in Comparing Available Therapies’.
Webinar yang diselenggarakan oleh PP IAI (Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia) melalui PT Pharma Tekno Solusi (PharmaQ) dengan dukungan dari Badiklat IAI, Kemenkes, PT Servier Indonesia dan Ardium ini diselenggarakan pada Sabtu, 28 Februari 2026 melalui aplikasi zoom.
‘’Jadi hanya 13 persen yang bertanya kepada apoteker, ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi apoteker agar dapat memberikan edukasi yang lebih optimal kepada pasien hemoroid. Sebab peran apoteker sebenarnya sangat penting, terutama dalam hal kepatuhan pasien minum obat,’’ tutur Dr. dr. Irsan Hasan yang menyampaikan materi mengenai ‘From Symptoma to Treatment Clinical Approach to Haemorrhoids’.
Dr Irsan Hasan kemudian menyampaikan bahwa penyakit hemoroid adalah pembengkakakn dan peradangan pada pembuluh darah vena di sekitar anus atau rektum bagian bawah.
Kondisi ini umum terjadi akibat peningkatan tekanan, seringkali karena mengejan saat BAB, sembelit, kehamilan atau duduk terlalu lama. Gejala utamanya meliputi pendarahan, gatal dan nyeri di area anus.
Hemoroid terbagi dalam 4 derajat, berdasarkan tingkat keparahan prolaps (benjolan keluar dari anus) dan kemampuannya untuk masuk kembali.
Hemoroid derajat I (tidak menonjol), II (keluar saat BAB, masuk sendiri), III (keluar, harus didorong manual) dan IV (keluar permanen, tidak bisa didorong).
Pengobatan pada hemoroid bertujuan meredakan gejala, mengecilkan pembengkakan, serta mencegah kekambuhan.
Peran Apoteker
Dalam webinar yang sama, Dr. apt. Lusy Noviani, MM, staf pengajar di Universitas Atma Jaya, Jakarta, menyampaikan materi ‘Pharmacological Management of Haemorrhoids : Practical Guidance for Pharmacists’.
Dalam webinar yang dipandu apt. Benny Setiawan, M.Farm-Klin ini, apt. Lusy Noviani menyampaikan, kata kunci peran apoteker adalah penggalian informasi, skrining dan assesment.
‘’Tantangannya adalah, karena hemoroid ini dianggap sebagai penyakit yang tabu, pasien biasanya enggan berbicara secara terbuka,’’ tutur apt. Lusy Noviani.
Karena itu penting bagi apoteker untuk memiliki kemampuan berkomunikasi efektif dan empatik agar pasien bisa terbuka saat berkonsultasi.
Menurut apt. Lusy Noviani, meskipun apoteker tidak memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan diagnosis, namun memiliki kewenangan untuk melakukan swamedikasi dan edukasi terhadap pasien.
Menurut apt. Lusy Noviani, seringkali hemoroid dianggap sepele, rasa malu dan tabu karena membicarakan area anus yang dianggap sensitif dan memalukan.
‘’Pasien cenderung menyimpan keluhan sendiri dan konsultasi medis sering ditunda, karena dianggap akan sembuh sendiri. Akibatnya, kondisi justru makin memburuk,’’ katanya.
Pasien yang datang pun seringkali belum tahu bahwa yang dialaminya adalah gejala hemoroid.
‘’Dalam kondisi seperti ini, ajaklah pasien untuk berbicara di tempat yang lebih pribadi, sehingga bisa menyampaikan keluhan secara lebih terbuka,’’ ungkap apt. Lusy Noviani.
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah perlu minum obat?, apakah kalau nyeri sudah hilang boleh berhenti minum obat?
‘’Seperti disampaikan dr. Irsan bahwa di setiap derajat hemoroid pengobatan sudah perlu dilakukan, disamping perubahan gaya hidup,’’ terangnya.
Pertanyaan lain adalah, apakah kalau nyeri sudah hilang boleh berhenti minum obat?
Faktanya, hemoroid adalah penyakit progresif dan punya kekambuhan, terapi yang tidak optimal dapat berujung progresi/kambuh.
Karena itu wajib bagi apoteker untuk meyakinkan pasien agar minum obatnya sesuai dosis dan durasi yang telah ditentukan oleh dokter.
Pasien juga perlu diedukasi, bahwa kemungkinan hemoroid yang dialaminya berbeda dengan hemoroid yang dialami oleh orang lain, sehingga membutuhkan pengobatan yang berbeda pula.
‘’Apoteker juga harus tahu kapan dapat dilakukan swamedikasi dan kapan harus dirujuk ke dokter,’’ katanya.
Kendala lain adalah mengenai harga. Bagaimana apoteker mampu meyakinkan bahwa kendala harga tidak sebanding dengan ketidaknyamanan, nyeri dan pendarahan yang harus dialami, bila tidak menjalani pengobatan hingga tuntas.
Apoteker harus mampu memilihkan obat yang memiliki evidance based, efikasi dan keamanan tinggi.
Dalam hal ini apt. Lusy Noviani merekomendasikan MPFF (Micronized Purified Flavonoid Fraction), yakni obat golongan venoaktif yang digunakan untuk meredakan gejala dan tanda varises.
MPFF mampu meredakan nyeri dan pendarahan serta menyelesaikan akar masalah hemoroid yakni inflamasi atau peradangan vena.
MPFF berisi beberapa jenis flavonoid yakni diosmin, hesperidin, linarin, isohoifolin dan diosmelin.
Komposisi yang unik menghasilkan efikasi yang lebih baik, sementara mikronisasi yang unik menghasilkan efikasi yang lebih cepat.
‘’Salah satu MPFF adalah Ardium yang memiliki partikel berukuran lebih kecil dari 2 mikron dan diserap 58 persen lebih cepat,’’ terang apt. Lusy Noviani.
Flavonoid unik MPFF bekerja pada inti inflamasi vena. Masing-masing menghasilkan pengurangan 1 gejala hemoroid, kombinasi 5 flavonoid bisa bekerja pada inti inflamasi.
MPFF bekerja pada akar masalah penyakit.
- Mengurangi peradangan vena, meningkatkan tinus vena, memperbaiki aliran darah, mengurangi agregat sel darah merah, hasil akhirnya edema berkurang.
- Menghambat adhesi leukosit : menghambat leukosit menempel di dinding pembuluh, melidungi dari edema.
- Efek mikrosirkulasi : mengurangi peradangan vena, meningkatkan tonus vena, mengurangi gejala hemoroid akut.
Tiga mekanisme kerja ini saling menguatkan, sehingga ujungnya adalah mengurangi gejala hemoroid akut dengan mengurangi peradangan vena dan meningkatkan tonus vena.
Banyak studi yang telah dilakukan dan menghasilkan kesimpulan, bahwa MPFF mampu meredakan nyeri dan perdarahan paska operasi dan memberikan kepuasan optimal baik kepada pasien maupun dokter.
‘’Satu hal yang harus ditekankan oleh apoteker saat menyerahkan obat adalah memastikan pasien meminum obatnya dengan patuh,’’ katanya.
Untuk Ardium dosis yang disarankan adalah 3 tablet sehari untuk 4 hari, 2 tablet sehari untuk 3 hari, dan 1 tablet sehari untuk 2 bulan.
Tak kalah pentingnya adalah memastikan pasien melakukan perubahan gaya hidup untuk mencegah kekambuhan.***
