Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Bahan Alam Punya Peran Penting untuk Kesehatan Reproduksi

Penulis: apt. Yuri Pratiwi Utami, ,S.Farm.,M.Si.,C.Herb ( Tim Media Nasional IAI /PD IAI Sulawesi Selatan)Editor: apt. Dra Tresnawati
apt. Yuri Pratiwi Utami saat menjadi pemateri dalam Kuliah Pakar di Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Ternate
banner 120x600
banner 468x60

TERNATE, IAI News – Trend ‘back to nature’ yang sedang menggejala di dunia saat ini juga merambah dunia kebidanan dan Kesehatan reproduksi. Sejumlah bahan alam diketahui memiliki kandungan zat aktif yang mampu mengkondisikan rahim agar siap untuk hamil.

Hal itu disampaikan apt. Yuri Pratiwi Utami, S.Farm, M.Si, C.Herbs, seorang apoteker dan pakar di bidang farmasi bahan alam saat memberikan materi dalam Kuliah Pakar di Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Ternate, 15 November 2025 lalu.

Iklan ×

Kuliah Pakar kali ini mengangkat topik mengenai peran bahan alam dalam pencegahan dan perawatan masalah kesehatan reproduksi.

apt. Yuri Pratiwi Utami saat menjadi pemateri dalam Kuliah Pakar di Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Ternate

Selain apt Yuri, hadir pula pakar di bidang gizi yakni Pramitha Sari.,S,gz., M.H.

Kuliah pakar yang berlangsung secara daring ini diikuti oleh 256  termasuk mahasiswa dan dosen Jurusan Kebidanan.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya wawasan mahasiswa mengenai integrasi pengobatan modern dan tradisional, khususnya dalam konteks kesehatan reproduksi yang menjadi fokus utama pendidikan kebidanan.

Apt. Yuri  memaparkan secara mendalam potensi besar dari berbagai tanaman obat Indonesia (bahan alam) yang telah teruji secara ilmiah memiliki khasiat dalam menjaga keseimbangan hormon, mengatasi masalah menstruasi, hingga mendukung pemulihan pasca persalinan.

Apt. Yuri menekankan bahwa pemanfaatan bahan alam harus didasarkan pada bukti ilmiah (evidence-based practice) dan pengetahuan yang memadai, terutama mengenai dosis, interaksi, dan potensi efek samping.

“Peran bahan alam bukan hanya sebagai alternatif, tetapi dapat menjadi terapi komplementer yang sangat efektif. Para calon bidan perlu dibekali pengetahuan ini agar dapat memberikan edukasi yang holistik kepada masyarakat. Indonesia kaya akan biodiversitas, dan kita harus mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab,” ujar apt. Yuri.

Baca Juga  Pemilihan Kontrasepsi Berbasis Progestin Aman untuk Ibu Menyusui, Optimalkan Peran Apoteker

Menurut apt Yuri, tren “back to nature” adalah pergeseran global di mana masyarakat semakin menunjukkan minat dan kembali menggunakan produk, praktik, dan gaya hidup yang dianggap lebih alami, minimal diproses, dan berasal dari sumber daya alam. Dalam konteks kesehatan, tren ini mendorong peningkatan minat pada Pengobatan Komplementer dan Alternatif (KOM/ALT).

Karakteristik Tren Kesehatan “Back to Nature”

Dikatakan, saat ini banyak orang mencari pendekatan kesehatan yang tidak hanya mengatasi gejala, tetapi juga melihat individu secara keseluruhan (pikiran, tubuh, dan jiwa).

Kekhawatiran terhadap efek samping obat kimia mendorong pencarian alternatif yang dianggap lebih aman dan lembut.

Sementara itu muncul pengakuan terhadap nilai tradisional yang telah teruji secara empiris selama berabad-abad, seperti Jamu di Indonesia atau Traditional Chinese Medicine (TCM).

Lebih lanjut apt Yuri mengatakan, Indonesia menghadapi tantangan spesifik dalam kesehatan reproduksi yang seringkali memerlukan lebih dari sekadar intervensi farmakologis, di sinilah pendekatan holistik menjadi krusial dalam Asuhan Kebidanan.

Pendekatan holistik, kata apt. Yuri,  berarti melihat pasien sebagai kesatuan utuh. Dalam kebidanan, ini mencakup integrasi antara ilmu medis modern dengan perawatan komplementer berbasis budaya dan alam untuk mencapai hasil yang optimal:

Dalam hal ini, apt Yuri mencontohkan diperlukannya integrasi bahan alam dengan menggunakan herbal seperti kunyit (anti-inflamasi untuk Dismenore), jahe (peredam mual), atau daun sirih (antiseptik untuk kebersihan organ intim) sebagai pendukung terapi medis.

Baca Juga  Memutuskan Rantai Penularan Tuberkulosis dengan Penatalaksanaan Penyakit TB

Dalam hal kearifan local dengan mengintegrasikan praktik seperti pijat tradisional (untuk melancarkan sirkulasi pascapartum), aromaterapi (untuk manajemen kecemasan/stress), atau konsumsi jenis makanan/minuman tradisional tertentu selama kehamilan dan nifas.

Dukungan psikososial dilakukan dengan memberikan perhatian pada aspek emosional, spiritual, dan lingkungan sosial ibu, yang sangat memengaruhi siklus haid, kehamilan, dan pemulihan pascapartum.

Dengan mengintegrasikan tren “back to nature” dan pengobatan komplementer, bidan dapat memberikan asuhan yang tidak hanya aman secara klinis tetapi juga menghargai budaya, lebih personal, dan memberdayakan pasien untuk mengelola kesehatan reproduksi mereka secara alami dan berkelanjutan.

Dalam penyampaiannya, apt. Yuri memaparkan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia menawarkan potensi besar sebagai terapi komplementer untuk berbagai masalah reproduksi wanita, mulai dari masalah hormonal hingga infeksi.

Apt. Yuri menekankan perlunya validasi ilmiah agar pemanfaatan bahan alam dapat diterapkan dalam praktik kebidanan yang aman (Evidence-Based Practice).

“Kita memiliki warisan alam luar biasa. Tugas kita adalah memadukannya dengan ilmu kefarmasian agar khasiatnya terjamin, dosisnya terukur, dan keamanannya teruji,” tegas apt. Yuri.

Memahami Mekanisme Aksi Bahan Alam dalam Sistem Reproduksi

Memahami peran bahan alam memerlukan tinjauan pada bagaimana senyawa bioaktif bekerja pada tingkat seluler dan hormonal untuk mempengaruhi fungsi sistem reproduksi. Aksi bahan alam secara garis besar dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya.

Fungsi Anti-inflamasi dan Analgesik

Masalah seperti dismenore (nyeri haid) dan endometriosis seringkali melibatkan peningkatan produksi mediator inflamasi, terutama prostaglandin.

Senyawa aktif, seperti kurkumin dari kunyit (Curcuma longa) atau gingerol dari jahe (Zingiber officinale), bekerja dengan menghambat jalur enzim cyclooxygenase (COX) dan lipoxygenase (LOX), yang bertanggung jawab atas sintesis prostaglandin dan leukotrien.

Baca Juga  Gelar Cosmoblazture Event, HIASKOS PD IAI Sumbar Gaungkan Literasi Kosmetik Aman bagi Remaja

Senyawa aktif kurkumin dan gingerol ini mampu menurunkan inflamasi, meredakan nyeri dan berpotensi memperbaiki lingkungan rahim yang kurang kondusif untuk kehamilan.

Fungsi Adaptogenik dan Penyeimbang Hormon

Bahan adaptogenik membantu tubuh beradaptasi terhadap stres fisik maupun psikologis, yang sangat memengaruhi poros HPA (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal) dan pori-pori HPG (Hypothalamic- Pituitary-Gonadal). Stres kronis dapat mengganggu siklus ovulasi dan kesuburan.

Bahan alam seperti daun kelor (Moringa oleifera) atau rempah tertentu dapat menormalkan kadar kortisol dan mendukung fungsi kelenjar adrenal, secara tidak langsung membantu menstabilkan pelepasan hormon reproduksi (estrogen dan progesteron).

Bahan alam jenis ini penting dalam manajemen PCOS dan masalah kesuburan yang dipicu oleh stres.

Fungsi Antioksidan dan Antiseptik

Antioksidan melawan stres oksidatif yang dapat merusak sel telur dan sperma, sementara antiseptik mencegah infeksi pada saluran reproduksi.

Senyawa fenolik dan flavonoid dalam daun sirih (Piper betle) atau teh hijau menetralkan radikal bebas. Daun Sirih juga mengandung minyak atsiri yang memiliki efek antibakteri dan antijamur.

Senyawa ini digunakan untuk menjaga kebersihan dan mencegah infeksi pascapartum serta meningkatkan kualitas sel reproduksi.

Masih banyak tanaman lainnya yang dipaparkan pada materinya yang digunakan untuk pencegahan dan perawatan masalah kesehatan reproduksi.

Selain itu apt. Yuri juga menjelaskan bagaimana aspek keamanan, pentingnya standarisasi dan pengawasan penggunaan produk herbal.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90