Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

‘Ayo Kenali & Obati TBC Hingga Sembuh’, Partisipasi Apoteker Penyuluh TB di ‘Gass Poll’ Sulsel

Penulis: apt. Yuri Pratiwi Utami.,S.Farm.,M.Si.,C.Herbs (Tim Media Nasional /PD IAI Sulsel) & Dr. apt. Saparuddin Latu., S.Si.,M.Kes (Ketua Apoteker Penyuluh TB PD IAI Sulsel).Editor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

MAKASSAR, IAINews – Melakukan penyuluhan ‘Ayo Kenali & Obati TBC Hingga Sembuh’, Apoteker Penyuluh TB PD IAI Sulawesi Selatan bergabung dalam kegiatan ‘Gas Poll’ oleh Pemprov dan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Acara dengan tema ‘Gerakan Akselerasi Sulsel Percepatan Eliminasi Tuberkulosis’ dilaksanakan pada Minggu, 9 November 2025 mulai jam 06.00 WITA di  lokasi Car Free Day Universitas Hasanuddin.

Iklan ×

Apoteker Penyuluh Tuberkulosis PD IAI Sulsel ambil peran dalam kegiatan ini, turut hadir ketua PD IAI Sulsel, apt Andi Alfian.,S.Si.,M.Si dan jajarannya.

Penyuluhan apoteker penyuluh TB melakukan edukasi ‘Ayo Kenali & Obati TBC hingga Sembuh’, dengan membagikan brosur dan memberikan penjelasan seputar gejala, pencegahan, mengobati TBC secara tuntas.

Apa itu TBC

TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Umumnya menyerang paru-paru, tapi juga bisa menyerang tulang, otak, dan organ lain.

Segera Periksakan diri jika mengalami batuk lebih dari 2 minggu, demam terutama malam hari, berat badan menurun, dan berkeringat dimalam hari.

TBC dapat dicegah dengan  vaksin BCG pada bayi, gunakan masker jika berada ditempat ramai, tutup mulut pada batuk dan bersin, jangan meludah sembarangan dan mendapatkan terapi pencegahan TB (TPT).

Pengobatan TB umumnya melibatkan kombinasi beberapa obat (terapi kombinasi) untuk mencegah resistensi obat dan memastikan eliminasi bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Obat Lini Pertama (First-Line Drugs)

Obat-obat ini membentuk inti dari rejimen pengobatan TB standar dan sangat efektif melawan bakteri yang sensitif terhadap obat.

Isoniazid (INH)

  • Mekanisme Kerja: Ini adalah obat bakterisida yang sangat kuat. Ia bekerja dengan mengganggu sintesis asam mikolat yang merupakan komponen penting dari dinding sel bakteri M. tuberculosis.
  • Bentuk: Biasanya berupa tablet.
  • Efek Samping Utama: Hepatotoksisitas (kerusakan hati) dan neuropati perifer (kerusakan saraf), yang sering diatasi dengan suplementasi Piridoksin (Vitamin B6).
Baca Juga  Langkah Kecil, Perubahan Besar: Edukasi Antibiotik untuk Anak-anak Sekolah Dasar

Rifampicin (RIF)

  • Mekanisme Kerja: Obat bakterisida lain yang sangat penting. Ia menghambat RNA polimerase yang bergantung pada DNA pada bakteri, sehingga mengganggu sintesis protein dan pembelahan sel.
  • Bentuk: Kapsul atau tablet.
  • Efek Samping Utama: Hepatotoksisitas, dan yang paling khas adalah menyebabkan cairan tubuh (air mata, urin, keringat, air liur) berwarna merah-oranye yang tidak berbahaya. Rifampicin juga merupakan induser enzim yang kuat, yang berarti ia dapat mempercepat metabolisme obat lain, mengurangi efektivitasnya (misalnya, kontrasepsi oral, beberapa obat HIV).

Pyrazinamide (PZA)

  • Mekanisme Kerja: Obat bakterisida yang bekerja paling baik di lingkungan asam di dalam makrofag dan lesi inflamasi, di mana bakteri TB sering berada dalam keadaan semi-dormant. Mekanisme pastinya tidak sepenuhnya jelas, tetapi diperkirakan mengganggu fungsi membran sel bakteri.
  • Bentuk: Tablet.
  • Efek Samping Utama: Hepatotoksisitas dan hiperurisemia (peningkatan kadar asam urat), yang dapat menyebabkan artralgia (nyeri sendi) atau, jarang, serangan gout akut.

Ethambutol (EMB)

  • Mekanisme Kerja: Ini adalah obat bakteriostatik, yang berarti ia menghambat pertumbuhan dan reproduksi bakteri (bukan membunuh secara langsung). Ia bekerja dengan mengganggu sintesis arabinogalaktan pada dinding sel bakteri.
  • Bentuk: Tablet.
  • Efek Samping Utama: Efek samping paling serius adalah neuritis optik (peradangan saraf optik), yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan, terutama kesulitan membedakan warna merah dan hijau atau penurunan ketajaman penglihatan. Oleh karena itu, pemantauan penglihatan diperlukan selama pengobatan.
Baca Juga  Unik dan Berbeda. Beginilah Euforia Perayaan Ulang Tahun Cara PD IAI Kalimantan Timur

Obat Lini Kedua (Second-Line Drugs)

Obat-obat ini digunakan terutama untuk mengobati TB yang Resisten terhadap Obat (seperti Multi-Drug Resistant TB atau MDR-TB, yang resisten terhadap Isoniazid dan Rifampicin) atau ketika pasien tidak dapat mentoleransi obat lini pertama karena efek samping.

Pengobatan TB aktif yang sensitif terhadap obat biasanya dibagi menjadi dua fase dan berlangsung setidaknya selama 6 bulan:

  1. Fase Intensif (2 Bulan): Kombinasi 4 obat (Isoniazid, Rifampicin, Pyrazinamide, dan Ethambutol – disingkat HRZE).
  2. Fase Lanjutan (4 Bulan): Kombinasi 2 obat (Isoniazid dan Rifampicin – disingkat HR).

Kunci keberhasilan pengobatan TB adalah kepatuhan pasien dalam meminum obat setiap hari sesuai jadwal selama durasi penuh.

Metode DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course) direkomendasikan untuk memastikan pasien menelan obat mereka di bawah pengawasan tenaga kesehatan.

  • Fluoroquinolones (FQ): Contohnya Levofloxacin atau Moxifloxacin. Mereka adalah pilihan penting untuk MDR-TB dan memiliki aktivitas bakterisida yang baik.
  • Injeksi: Golongan obat yang disuntikkan, seperti Streptomycin (walaupun penggunaannya semakin berkurang) atau Amikacin.
  • Obat Oral Lainnya: Seperti Ethionamide, Cycloserine, atau obat yang lebih baru seperti Bedaquiline dan Delamanid, yang digunakan untuk MDR/XDR-TB (Extensively Drug-Resistant TB) karena mekanisme kerjanya yang unik dan kemampuan untuk memperpendek regimen pengobatan.

Pengobatan Tuberkulosis (TB) harus tuntas

Tiga alasan utama yang saling berkaitan yaitu mencegah resistensi obat, memastikan kesembuhan total, dan menghentikan penularan.

Mencegah Resistensi Obat

Ini adalah alasan paling kritis. Obat TB (terutama Isoniazid dan Rifampicin) membunuh sebagian besar bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan cepat.

Baca Juga  Apt. Abd Khalik Terpilih Sebagai Ketua Pendamping PPH PD IAI Sulawesi Selatan

Namun, selalu ada sejumlah kecil bakteri yang berada dalam kondisi semi-dormant atau berada di tempat yang sulit dijangkau oleh obat (seperti di dalam jaringan paru-paru).

Bakteri yang tersisa inilah yang menyebabkan terjadinya resistensi, bila tidak diobati dengan tuntas.

Memastikan Kesembuhan Total dan Mencegah Kekambuhan

  • Eliminasi Total: Pengobatan yang lengkap adalah satu-satunya cara untuk memastikan semua bakteri, baik yang aktif maupun yang semi-dormant, benar-benar mati.
  • Kekambuhan (Relaps): Menghentikan pengobatan saat gejala sudah hilang akan menyebabkan bakteri yang masih hidup kembali aktif dan berkembang biak. Hal ini mengakibatkan penyakit TB kambuh, dan seringkali penyakit yang kambuh lebih sulit diobati daripada penyakit yang pertama.

Menghentikan Penularan di Masyarakat

  • Penurunan Penularan Cepat: Setelah beberapa minggu pertama pengobatan yang efektif, pasien TB aktif akan cepat kehilangan kemampuan untuk menularkan penyakit kepada orang lain.
  • Risiko bagi Komunitas: Jika pengobatan tidak tuntas dan TB kambuh, pasien akan kembali menjadi sumber penularan bagi keluarga, teman, dan komunitas. Hal ini tidak hanya menyebarkan TB sensitif obat, tetapi juga berpotensi menyebarkan TB yang sudah resisten terhadap obat, yang jauh lebih sulit untuk dikendalikan di tingkat populasi.

Ditemui usai kegiatan, Ketua Apoteker Penyuluh TB PD IAI Sulsel, Dr apt. Saparuddin Latu, S.Si, M.Kes mengungkapkan eksistensi apoteker dalam melakukan edukasi TB.

“Melalui kegiatan ini apoteker penyuluh dapat menunjukkan perannya dan eksistensinya kepada masyarakat dalam melakukan edukasi TB dan bersinergi bersama Pemerintah Provinsi dan kota Makassar dalam mensukseskan zero TB,”  tutup apt. Saparuddin Latu.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90