Site icon IAI NEWS

Apt. Drs Teguh Sedio Utomo, Dirikan Klinik Bakti Padma Pelayanan Kesehatan Murah Bahkan Gratis

JAKARTA, IAINews – Berangkat dari keluarga kurang mampu, apt. Drs. Teguh Sedio Utomo, kini boleh bersyukur. Klinik murah yang didirikannya, Klinik Bakti Padma, di Blora telah membantu ribuan pasien dari keluarga miskin di sekitarnya.

Klinik Bakti Padma yang didirikannya pada tahun 2015 lalu, berdiri diatas lahan seluas 9.000 meter persegi.

Beroperasi di Jl Blora-Randublatung km. 4, Desa Kaladuwur, Kecamatan Banjarejo, Blora, klinik Bakti Pada memiliki 40 tempat tidur dengan 3 orang dokter, 28 perawat dan bidan serta 15 tenaga administrasi.

‘’Gaji mereka saya bayar dengan uang pribadi, karena klinik tidak memungut biaya cukup untuk itu,’’ ungkap bapak 5 anak, kakek 6 cucu ini saat berbincang dengan IAINews melalui telepon.

Pasien yang datang ke klinik Bakti Padma hanya perlu membayar Rp 50.000 untuk sekali pengobatan, apapun penyakit yang dideritanya, apapun jenis obat yang diberikan.

‘’Bahkan yang tidak mampu digratiskan,’’ ungkap apt Teguh Sedio Utomo yang pernah berkarir sebagai Manager Produksi di PT Gelas Mas Semarang ini.

Menempuh pendidikan dan Fakultas Farmasi UGM sejak tahun 1982, apt. Teguh Sedio Utomo menyelesaikan pendidikannya paling awal dibandingkan rekan-rekan seangkatan lainnya.

Saat ini apt. Teguh Sedio Utomo diusulkan oleh rekan-rekan seangkatannya untuk menerima Farmasi UGM Alumni Awards 2026 dalam katagori Alumni Pelopor Inovasi, Kreativitas dan Berdampak.

Dari Minuman ke Klinik Bakti Padma

Setelah berkarir di PT Gelas Mas Semarang, apt. Teguh Sedio Utomo kemudian menempuh karir di PT Phapros di Sie Komersial, sebelum pindah ke PT Global Multi Parmalab sebagai Manajer Produksi.

Tak puas hanya menjadi seorang pekerja, apt. Teguh Sedio Utomo kemudian mulai mengembangkan sendiri usahanya melalui PT Padma Nutfah dan memproduksi minuman kemasan Lovinton.

‘’Minuman Lovinton ini kalau di Jawa memang tidak terlalu dikenal, tapi sangat populer di berbagai pulau di luar Jawa,’’ ungkap apt. Teguh Sedio Utomo yang sempat menduduki posisi sebagai Ketua Pelti Jateng periode tahun 2012 – 2017 tersebut.

Kesuksesan Lovinton menjadikan kondisi keuangan keluarganya melimpah. Rejeki mengalir tak terbendung. Tapi itu tak membuatnya besar kepala dan lupa siapa dirinya di masa lalu.

‘’Saya datang dari keluarga yang sangat miskin. Masih ingat, waktu SMA saya pernah dihukum oleh guru saya karena tidak memakai seragam pramuka, sesuai jadwal sekolah,’’ kenang apt. Teguh Sedio Utomo.

Ia memang tak memberitahu sang guru bahwa orangtuanya tak mampu membelikannya seragam Pramuka yang layak.

‘’Waktu itu saya terpaksa ke sekolah memakai celana panjang punya ayah saya,’’ tuturnya dengan suara sendu.

Kondisi ekonomi yang begitu buruk tak membuatnya putus harapan. Ia diterima di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.

‘’Selama kuliah saya tidak mampu membayar uang kos, sehingga minta ijin untuk bisa tinggal di apotek milik salah seorang dosen. Membantu membersihkan apotek dan pekerjaan lainnya yang bisa saya kerjakan. Saya tidak meminta upah, cukup ijin tidur dan nasi putih saja,’’ tutur apt. Teguh Sedio Utomo yang saat ini menjadi Pembina Tenis Kagama sejak tahun 2023 dan Pembina Baveti Kabupaten Semarang sejak tahun 2024.

‘’Datang dari keluarga miskin, dan kemudian diberi rejeki yang luar biasa dari Allah, membuat saya kemudian ingin berbagi dengan mereka yang tidak beruntung secara finansial,’’ kata apt. Teguh Sedio Utomo yang kemudian mendirikan Klinik Bakti Padma sebagai wujud rasa syukurnya atas rejeki berlimpah yang diberikan Allah SWT kepada dirinya.

Selama didirikan, Klinik Bakti Padma telah membantu ribuan pasien yang datang berobat hanya dengan biaya Rp 50.000.

‘’Salah satu yang saya ingat, waktu itu ada pasien yang digigit ular yang membutuhkan obat anti bisa seharga Rp 500.000, tapi tetap hanya kita tarik Rp 50.000,’’ paparnya.

Setiap harinya Klinik Bakti Padma menerima 20 – 30 pasien dengan berbagai jenis penyakit.

‘’Salah satu pasien yang sangat berkesan, ada tukang becak muntah darah dibawa ke klinik, analisa dokter tukang becak itu terkena tuberkulosis,’’ kenang apt. Teguh Sedio Utomo.

‘’Saya tanya ke dokter, bisa menangani tidak? Dokternya bilang akan diupayakan. Saya bilang upayakan semaksimal mungkin, apa yang dimiliki klinik keluarkan semua sampai dia sembuh,’’ kata apt. Teguh Sedio Utomo mengenang.

Setelah 5 hari dirawat secara gratis, pasien tersebut sembuh dan pulang ke rumah, tapi tidak lama kemudian dia kembali ke klinik diantar seorang pegawai Pemda Blora.

‘’Waktu itu saya bilang, supaya kedatangan pasien itu diantar oleh polisi, sebab saya khawatir kalau terjadi sesuatu dengan pasien tersebut, saya tidak mau dituntut. Waktu itu saya bilang begitu, karena seharusnya dia dirujuk ke rumah sakit di Pati, tapi pasien itu menolak. Dia bilang, ‘saya tidak mau dirujuk, mau dirawat disini saja, kalau sampai meninggal, saya iklhas meninggal disini’. Jadi saya terpaksa minta bantuan supaya pasien tersebut didampingi polisi,’’ ungkapnya.

Pasien itu akhirnya kembali mendapatkan perawatan di Klinik Bakti Padma sampai sembuh.

‘’Setelah sembuh, saya dengar sudah bisa menarik becak lagi. Tapi setelah itu, saya tidak tahu lagi kabarnya bagaimana,’’ tuturnya.

Ditengah kesibukannya mengembangkan Klinik Bakti Padma, apt. Teguh Sedio Utomo kemudian membuka usaha Kendeng Mortar di bawah PT Energi Hijau Lestari.

Kendeng Mortar adalah semen instan berkualitas tinggi yang diformulasikan khusus dan mengikuti standar konstruksi terbaru serta ramah lingkungan

Dipakai dalam beragam bangunan, seperti hotel, rumah sakit, sekolah, perkantoran dan pabrik.

‘’Kendeng Mortar saya kembangkan, setelah Lovinton berhenti produksi akibat pandemi Covid19. Karena Lovinton banyak dijual di sekolah-sekolah, saat pandemi dan tidak ada yang berangkat sekolah, Lovinton tidak mampu bertahan,’’ tuturnya.

Kendeng Mortar ia kembangkan bersama anak-anaknya.

‘’Anak saya yang nomor satu jadi polisi, yang nomor dua bisnis di Yogya, yang membantu saya yang nomor 3, 4 dan 5,’’ tuturnya bangga.

Sambil memantau bisnisnya, apt. Teguh Sedio Utomo terus mencoba mengembangkan klinik Bakti Padma sekuat tenaganya.

Sayangnya, setelah melayani puluhan ribu pasien sejak tahun 2015, ribuan diantaranya secara gratis, Klinik Bakti Padma terpaksa berhenti beroperasi sejak tahun 2025 lalu.

‘’Setahun terakhir saya kehabisan dana, sehingga terpaksa off dulu. Rejeki saya sedang direm oleh Allah, jadi saya dengan berat hati memberhentikan sementara operasional klinik,’’ tuturnya.

Namun tidak kehabisan akal, Klinik Bakti Padma saat ini justru sedang mengembangkan pelayanan hemodialisa.

‘’Kami bekerjasama dengan seorang dokter untuk memberikan layanan hemodialisa mulai akhir tahun nanti. Dengan sistem bagi hasil, tapi bagian saya nanti akan saya kembalikan kepada pasien. Saat ini konsepnya masih digodok, mudah-mudahan sudah bisa beroperasi paling lambat akhir tahun,’’ harap apt. Teguh Sedio Utomo.

Di tengah situasi saat ini, apt. Teguh Sedio Utomo tetap berupaya untuk berbagi dengan sesama, melalui pelayanan kesehatan murah, bahkan gratis di Klinik Bakti Padma.

‘’Berangkat dari orang miskin, dititipi harta oleh Allah, kewajiban saya harus mengembalikan melalui jalan Allah, tidak ada keinginan apapun. Tugas saya sebagai manusia adalah berubadah, kali ini melalui pelayanan kesehatan murah bahkan gratis untuk yang sama sekali tidak mampu,’’ tuturnya menutup perbincangan.***

 

Exit mobile version