Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Apoteker Super Senior Yang Menginspirasi

Penulis: apt. Aulia Yahya, S.Farm (Tim Media Nasional IAI/PD IAI Sulawesi Selatan)Editor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

SEBAGAI profesi yang sudah berumur, keberadan Farmasis atau Apoteker telah melahirkan banyak sosok tokoh yang berpengaruh dan mempunyai sumbangsih terhadap dunia kesehatan. Kisah dan karya-karya mereka terekam jelas dalam jejak sejarah yang terus dikenang dan diceritakan di setiap generasi.

Bagi Farmasis atau Apoteker generasi belakangan, sangat penting mengenal mereka sebagai “Super Senior” yang dapat memberikan inspirasi.

Iklan ×

Berikut ini disarikan sejumlah sosok tokoh farmasi yang patut dijadikan sebagai idola :

Yuhanna Ibnu Masawayh (777-857 M)

Orang Barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawayh merupakan anak seorang apoteker. Dalam kitab yang ditulisnya, Ibnu Masawayh membuat daftar sekitar 30 macam aromatik.

Salah satu karya Ibnu Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.

Muhammad Ibnu Zakariya Ar-Razi

Al-Razi atau disebut juga Rhazes menurut Sharif Kaf. Al-Ghazal dalam tulisannya, The Valuable Contributions of Al-Razi: The History of Pharmacy during The Middle Ages, menjadi satu di antara ilmuwan yang mempelopori berdirinya apotek pertama di Baghdad pada 754 M.

Apoteker pertama dalam peradaban Barat baru muncul pada Abad ke-14 yaitu seorang Inggris bernama Geoffrey Chaucer (1342-1400), apoteker lalu menyebar ke daratan Eropa dari Abad ke-15 hingga ke-19.

Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.

Baca Juga  PSPPA UMW Siap Menyukseskan UKMPPAI OSCE

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar. Selain itu, dalam bidang farmasi Ar-Razi berkontribusi dalam pembuatan peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.

Abu Hasan ‘Ali bin Sahl Rabban at-Tabari

At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah Al-Mu’tasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari dalam bidang farmakologi adalah dengan menulis sejumlah kitab.

Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Salah satu babnya membahas tentang pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya.

Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)

Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopeia. Kontribusinya dalam bidang farmakologi dan farmasi juga terbilang mata besar.

Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan dan remedies for ailments. Sumbangannya untuk pengembangan farmakologi dan farmasi dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin.

Aby Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi (864-930 M)

Al-Jami fi Al-Tibb (Kumpulan Makanan dan Obat-obatan yang Sederhana) atau disebut juga Kitab Al-Jami’ li Mufradat Al-Adweya wa Al-Aghtheya (dibawa ke Barat dan diterjemahkan menjadi The Complete [book] in Simple Medicaments and Nutritious Items) merupakan sumbangsih utama Al-Baitar.

Baca Juga  Simposium Maturasi Industri Farmasi Dipersembahkan Hisfarin PIT IAI 2024

Dalam kitab risalah tersebut Al-Baitar mengupas beragam tumbuhan berkhasiat obat yang berhasil dikumpulkannya di sepanjang pantai Mediterania antara Spanyol dan Suriah.

Kitab tersebut sangat populer dan merupakan kitab paling terkemuka mengenai tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan Arab. Kitab ini menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad 16.

Tak kurang dari seribu tanaman obat dipaparkannya dalam kitab itu. Seribu lebih tanaman obat yang ditemukannya pada abad ke-13 M itu berbeda dengan tanaman yang telah ditemukan ratusan ilmuwan sebelumnya.

Capaian yang berhasil ditorehkan Al-Baitar sungguh mampu melampaui prestasi Dioscorides.

Al-Zahrawi (936-1013 M)

Bapak ilmu bedah modern ini juga ikut andil dalam membesarkan farmakologi serta farmasi. Dia adalah perintis pembuatan obat dengan cara sublimasi dan distilasi.

Ibnu Sina (980-1037 M)

Ibnu Sina, juga dikenal sebagai Avicenna, adalah seorang ilmuwan muslim yang memberikan kontribusi besar pada bidang farmasi dan kedokteran.

Karyanya yang paling terkenal, Al-Qanun fi al-Tibb (The Canon of Medicine), menjadi rujukan utama dalam dunia medis selama berabad-abad, baik di dunia Barat maupun Timur.

Ia juga dikenal karena pemahamannya tentang berbagai jenis obat-obatan, prinsip resep obat, dan pentingnya dosis yang tepat.

Dalam kitabnya yang fenomenal, Canon of Medicine, Ibnu Sina juga mengupas tentang farmakologi dan farmasi. Ia menjelaskan lebih kurang dari 700 cara pembuatan obat dengan kegunaannya. Ibnu Sina menguraikan tentang obat-obatan yang sederhana.

Baca Juga  Apa Itu Narkotika?

Abu Ar-Rayhan Al-Biruni (973-1051 M)

Al-Biruni mengenyam pendidikan di Khwarizm. Beragam ilmu pengetahuan dikuasainya seperti astronomi, matematika, filsafat dan ilmu alam.

Ia memulai melakukan eksperimen ilmiah sejak remaja. Ilmuwan Muslim yang hidup di zaman keemasan Dinasti Samaniyaah dan Ghaznawiyyah itu turut memberi kontribusi yang sangat penting dalam farmakologi dan farmasi.

Melalui kitab As-Sydanah fit-Tibb, Al-Biruni mengupas secara lugas dan jelas mengenai seluk-beluk ilmu farmasi.

Kitab penting bagi perkembangan farmakologi dan farmasi itu diselesaikannya pada tahun 1050 – setahun sebelum Al-Biruni tutup usia.

Dalam kitab itu, Al-Biruni tak hanya mengupas dasar-dasar farmasi, namun juga meneguhkan peran farmasi serta tugas dan fungsi yang diemban seorang famakolog.

Abu Ja’far Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)

Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami’ Al-Adwiyyah Al-Mufradah.

Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodologi, eksperimen serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.

Tentu masih banyak lagi tokoh lain yang belum disebutkan. Semoga bisa memantik minat dan semangat literasi secara pribadi masing-masing.

Toh, harapannya semakin banyak tokoh yang kita kenal makan semakin luas pula wawasan yang akan dimiliki.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90