Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Apoteker Memaknai Maulid Nabi

Penulis: apt. Aulia Rahim, M.Farm (Tim Media Nasional IAI/PD IAI Kalimantan SelatanEditor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

“ADA apa ini? Ada apa ini?,” tanya penduduk langit

Mereka kebingungan melihat kondisi yang terjadi. Semua berhala yang ada di dekat ka’bah dan di seluruh dunia berjatuhan. Api suci yang disembah oleh kaum Majusi yang tidak pernah padam selama lebih dari seribu tahun tiba-tiba padam dalam sekejap. Selain itu, pintu-pintu langit pun ikut tertutup. Malam itu menjadi malam yang sangat istimewa bagi penduduk langit dan penduduk bumi.

Iklan ×

Seorang bayi dilahirkan dalam kondisi bersujud dan sudah dikhitan. Bahkan rumah mereka diliputi cahaya yang sangat terang benderang dan bintang-bintang tampak mendekati rumah tersebut. Bayi  yang kelak akan menjadi pemimpin umat, nabi penutup dari nabi-nabi sebelumnya. Sang suri teladan yang akan dikenang sepanjang masa sejak lahir hingga akhir zaman. Beliau adalah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.

Baca Juga  Diet FODMAP Tanpa Drama, Tips Sukses Biar Perut Tenang dan Hidup Nyaman

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab ayat 21)

Suri teladan itulah yang harus dimaknai dan dicontoh oleh setiap orang termasuk apoteker. Apoteker bisa mencontoh sosok beliau dalam menjalankan berbagai aktivitas keseharian dan pelayanan kefarmasian. Berikut 5 makna yang bisa dipetik oleh apoteker dari kelahiran nabi Muhammad Shalallahu alaihi Wassalam jika dikaitkan dengan pelayanan kefarmasian antara lain:

Pertama, ketulusan dalam memberikan pelayanan. Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan tulus kepada semua orang. Bagi apoteker, hal ini mengingatkan kita bahwa setiap pelayanan yang diberikan kepada pasien harus berlandaskan ketulusan, bukan semata-mata karena kewajiban. Contohnya ketika pasien bertanya terkait aturan pakai dan cara minum obat, maka apoteker dengan sabar dan tulus memberikan penjelasan meskipun pasien mungkin akan bertanya berulang kali. Dengan ketulusan, pasien rasa kepercayaan mereka akan semakin meningkat dan menciptakan hubungan yang harmonis antara apoteker dengan pasien.

Baca Juga  TWIBBON DAN EDUKASI RAISING COMMUNITY AWARENESS WPD 2022

Kedua, amanah dan integritas. Nabi Muhammad mendapatkan gelar Al-Amin yang berarti orang yang terpercaya. Dalam lakukan pelayanan kefarmasian, apoteker memiliki amanah yang besar terkait memastikan obat yang diberikan benar secara rasional. Amanah bagi apoteker berarti tidak menjual obat yang dilarang atau kedaluarsa demi keuntungan pribadi dan menjaga integritas bagi apoteker ialah membangung reputasi yang baik dan menjaga keselamatan pasien. Ketiga, menjadi sumber ilmu yang bermanfaat. Nabi sebagai pembawa wahyu dan menjadi sumber ilmu bagi umat manusia. Apoteker menjadi sumber informasi kesehatan dan kefarmasian yang benar dan terpercaya serta mencegah penyebaran informasi yang keliru tentang obat.

Keempat, kepedulian terhadap kesejahteraan umat. Nabi diutus untuk memperbaiki akhlak dan kesejahteraan umat. Apoteker dituntut agar lebih peduli terhadap kondisi pasien dari segi kesehatan maupun kemampuan ekonomi. Teakhir, menghadirkan harapan dan penyembuhan. Kelahiran Nabi membawa harapan di tengah kegelapan. Apoteker hadir untuk kesembuhan pasien dengan memberikan dukungan dengan diksi positif dan energi positif demi mempercepat proses kesembuhan pasien.

Baca Juga  Apoteker Biasakan 5S

Semoga dengan apoteker memaknai maulid Nabi akan semakin meningkatkan pelayanan kefarmasian dan masyarakat semakin merasakan kehadiran apoteker di tengah-tengah kehidupan mereka. Aamiin.

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90