Kaur IAINews — Peran apoteker tak lagi hanya di balik meja pelayanan obat. Di Kabupaten Kaur, Bengkulu, para apoteker justru turun langsung ke sekolah, menyasar generasi muda dengan edukasi bahaya penyalahgunaan NAPZA, sekaligus berbagi takjil dalam semangat Ramadan.
Pengurus Cabang (PC) Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kaur menggelar program Apoteker Berkurma pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB ini dipusatkan di SMP Negeri 35 Berasrama dan diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri dari siswa dan tenaga pendidik.
Program ini merupakan bagian dari gerakan serentak seluruh cabang IAI se-Provinsi Bengkulu yang berkolaborasi dengan Pengurus Daerah (PD) IAI Provinsi Bengkulu dalam mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan edukatif dan sosial.
Sebelum pelaksanaan, PC IAI Kaur terlebih dahulu menggelar rapat koordinasi untuk mematangkan konsep kegiatan, pembentukan panitia, hingga penentuan lokasi. SMPN 35 Berasrama dipilih karena dinilai strategis untuk menjangkau generasi muda melalui pendekatan edukasi kesehatan.
Kegiatan mengusung dua agenda utama: penyampaian informasi obat terkait bahaya penyalahgunaan NAPZA dan pembagian takjil. Edukasi disampaikan oleh anggota PC IAI Kaur yang bertindak sebagai narasumber dengan pendekatan interaktif.
Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan Ketua PC IAI Kaur yang menegaskan pentingnya keterlibatan apoteker dalam upaya promotif dan preventif, khususnya dalam melindungi generasi muda dari ancaman penyalahgunaan obat.
“Kami ingin apoteker hadir lebih dekat dengan masyarakat, tidak hanya saat sakit, tetapi juga dalam upaya pencegahan,” pesannya.
Kepala SMPN 35 Berasrama dalam sambutannya turut mengapresiasi kegiatan tersebut dan secara resmi membuka acara. Ia menilai edukasi seperti ini sangat penting untuk membekali siswa dengan pemahaman sejak dini mengenai bahaya NAPZA.
Memasuki sesi inti, suasana berubah lebih hidup. Para siswa tampak antusias mengikuti materi yang disampaikan secara komunikatif. Diskusi berlangsung aktif, ditandai dengan banyaknya pertanyaan dari peserta terkait risiko penyalahgunaan obat.
Untuk meningkatkan partisipasi, panitia juga menyiapkan doorprize bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan tepat, menambah semangat dan interaksi selama kegiatan berlangsung.
Menjelang waktu berbuka, rangkaian kegiatan ditutup dengan pembagian takjil kepada seluruh peserta. Momen ini menjadi simbol kebersamaan antara apoteker dan masyarakat dalam menyambut berbuka puasa.
Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi sekaligus penguat sinergi antara profesi apoteker dan dunia pendidikan.
Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari kerja sama seluruh anggota PC IAI Kaur, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Dukungan dan arahan dari PD IAI Provinsi Bengkulu juga menjadi faktor penting dalam kelancaran acara.
Melalui program ini, PC IAI Kaur berharap dapat terus memperkuat peran sosial apoteker di tengah masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya penggunaan obat secara bijak dan bahaya penyalahgunaan NAPZA. (TMN)

