Sibolga | IAINews —
Rianiate adalah nama yang lama tenggelam dalam sunyi. Terletak di perbukitan Kabupaten Tapanuli Selatan, desa ini seolah terputus dari dunia sejak banjir besar melanda pada November lalu. Air memang telah surut, tetapi luka, sakit, dan rasa ditinggalkan masih menetap di tubuh dan hati para pengungsi.
Berhari-hari, berminggu-minggu,
tak ada dokter, tak ada obat, tak ada pelayanan kesehatan.
Hingga pada suatu hari, deru kendaraan relawan memecah sunyi perbukitan itu. Tim Relawan Apoteker Tanggap Bencana (ATB) akhirnya tiba menjadi pelayanan kesehatan pertama yang menjangkau posko pengungsi Rianiate sejak bencana melanda.

Tangis pun pecah, beberapa ibu menutup wajahnya dengan kerudung. Seorang lansia memegang tangan relawan erat-erat, seakan takut harapan itu kembali pergi. Anak-anak berdiri diam, menatap penuh rasa ingin tahu dan harap. Bagi mereka, kedatangan ATB bukan sekadar bantuan, melainkan jawaban atas penantian panjang yang nyaris memadamkan harapan.
Selama ini warga hanya bisa bertahan. Demam ditahan, nyeri dipendam, luka dibersihkan seadanya. Mereka tak mengeluh, karena mengeluh pun terasa sia-sia. “Kami kira memang sudah dilupakan,” ujar salah seorang warga dengan suara bergetar.

Koordinator Tim Relawan ATB, Apt. Busman Nur, tak kuasa menahan perasaan saat mendengar langsung kisah-kisah itu. Suaranya melemah, matanya berkaca-kaca. Kata-kata warga menusuk lebih dalam dari medan terberat yang mereka lalui.
“Banyak yang sakit, tapi mereka hanya bertahan. Mendengar itu, hati kami benar-benar hancur,” ujarnya lirih.

Perjalanan menuju Rianiate sendiri bukan perjalanan biasa. Dari Jembatan Batang Toru hingga ke posko pengungsi, relawan harus melewati jalan rusak parah, tanjakan curam, dan lumpur yang masih menganga. Di beberapa titik akses nyaris terputus. Kendaraan berguncang hebat, roda berkali-kali selip, dan ketegangan tak pernah lepas dari perjalanan itu.
Namun semua rasa takut dan lelah runtuh seketika saat relawan melihat warga telah menunggu sejak pagi. Duduk berderet dengan tubuh lemah, mata mereka menatap penuh harap. Seolah berkata: akhirnya kalian datang.
Apt. Busman Nur menegaskan bahwa misi kemanusiaan ini lahir dari kepedulian dan komunikasi erat antara Ketua PC IAI Sibolga dan Ketua PC IAI Tapanuli Selatan. Setelah memetakan kondisi wilayah, Rianiate diputuskan sebagai titik yang paling membutuhkan sentuhan kemanusiaan, sebuah keputusan yang terbukti menyelamatkan banyak harapan.
Di lokasi posko, Camat Angkola Sangkunur, Bapak Daniel Afandi Harahap, telah menunggu sejak pagi. Dengan suara bergetar dan mata yang tak mampu menyembunyikan emosi, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada para relawan.
“Warga kami sudah terlalu lama menunggu. Kehadiran ATB hari ini adalah penguat bagi mereka,” ucapnya lirih.
Di balik suksesnya perjalanan tersebut, tersimpan kisah Arief Prasetio, sang pengemudi relawan. Ia mengemudikan mobil offroad 4×4 menembus medan ekstrem tanpa kepastian kondisi jalan di depan. Setiap tanjakan adalah taruhan, setiap lumpur adalah ujian.
“Kalau kami tidak sampai, siapa lagi?” katanya singkat. Kalimat sederhana yang menyimpan keberanian besar.

Pelayanan kesehatan di Rianiate bukan sekadar kegiatan kemanusiaan. Ia adalah pelukan bagi mereka yang terlalu lama menahan sakit. Ia adalah bukti bahwa para pengungsi tidak sendiri.
Di tengah lumpur, air mata, dan luka pascabencana, ATB hadir membawa lebih dari obat, mereka membawa empati, kepedulian, dan keyakinan bahwa kemanusiaan belum pernah pergi. (TMN)














