Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Air Bersih Masih Jadi Barang Mewah, IAI Turun Tangan Salurkan Toren untuk Warga Korban Banjir Aceh Tamiang

Penulis: apt. Busman NurEditor: Busman Nur
banner 120x600
banner 468x60

Aceh IAINews — Di balik narasi pembangunan dan perbaikan infrastruktur, akses terhadap air bersih masih menjadi kemewahan bagi sebagian warga Aceh, terutama pascabencana banjir. Kondisi tersebut kembali terlihat nyata di Kampung Seunebok Aceh, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, di mana warga hingga kini masih kesulitan memperoleh air bersih untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.

Padahal, berdasarkan berbagai kajian kesehatan masyarakat, keterbatasan air bersih pascabencana berbanding lurus dengan meningkatnya risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare, infeksi kulit, hingga gangguan saluran pencernaan.

Iklan ×

Air bersih bukan sekadar kebutuhan domestik, melainkan faktor kunci dalam menjaga kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.

Menjawab kondisi tersebut, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) melaksanakan Penyaluran Air Bersih dan Toren Penampungan Air pada Senin, 5 Januari 2026. Kegiatan ini bukan sekadar aksi sosial, tetapi respons darurat terhadap kebutuhan kesehatan warga yang belum sepenuhnya terjangkau layanan air bersih pasca banjir.

Ketua Pengurus Daerah (PD) IAI Aceh, apt. Tedy Kurniawan Bakri, M.Farm, menjelaskan bahwa Kampung Seunebok Aceh dipilih karena minimnya infrastruktur air bersih setelah banjir menerjang wilayah tersebut. Selama ini, warga sangat bergantung pada bantuan donasi air bersih dari relawan yang distribusinya belum merata, serta beberapa titik sumur bor yang sepenuhnya bergantung pada pompa air listrik.

Baca Juga  ATB Menembus Sunyi Lubuk Sidup, Daerah yang Pernah Terisolir Berhari-hari

“Ketika listrik padam, pasokan air ikut terhenti. Ini bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi berisiko langsung terhadap kesehatan warga, terutama dalam menjaga kebersihan dan sanitasi,” jelasnya.

Ketergantungan terhadap listrik dan bantuan darurat menunjukkan rapuhnya sistem penyediaan air bersih di wilayah terdampak. Kondisi ini membuka pertanyaan serius tentang efektivitas pemulihan layanan dasar pascabencana, mengingat air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar untuk mencegah krisis kesehatan lanjutan.

IAI mencatat, persoalan serupa juga terjadi di sejumlah desa di Aceh Timur, Aceh Utara, hingga Aceh Tengah. Pascabanjir, banyak wilayah mengalami gangguan pasokan air bersih dalam jangka waktu panjang. Situasi ini meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap penyakit berbasis air, yang kerap muncul beberapa minggu hingga bulan setelah bencana, ketika perhatian publik mulai mereda.

Baca Juga  Pelantikan dan Rakerda PD IAI Aceh: Menguatkan Peran Apoteker dalam Menyikapi Tantangan RUU Kesehatan

Dalam program ini, IAI merencanakan penyaluran 25 unit toren air ke empat kabupaten terdampak. Dua unit toren telah lebih dahulu dipasang di Kampung Seunebok Aceh, sementara 10 unit lainnya dijadwalkan menyusul dalam pekan ini ke berbagai titik rawan krisis air bersih.

Toren penampungan air yang disalurkan ke Aceh Tamiang oleh Ketua PD IAI Aceh bersama Tim.

Toren-toren tersebut dirancang sebagai penampungan cadangan agar warga tetap memiliki akses air bersih saat listrik padam atau pompa air tidak berfungsi.

Berbeda dari bantuan yang bersifat simbolis, IAI menegaskan bahwa penyaluran toren dilakukan bersamaan dengan upaya memastikan ketersediaan air bersih benar-benar dapat dimanfaatkan. Toren tidak hanya ditempatkan, tetapi dihubungkan dengan sumber air yang ada agar dapat berfungsi optimal dan berkelanjutan, sehingga mampu mendukung perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat.

Kegiatan kemanusian tersebut melibatkan PD IAI Aceh, PC IAI dari berbagai kabupaten/kota, serta Tim Satgas Universitas Syiah Kuala (USK). Kolaborasi lintas profesi ini memperlihatkan bahwa persoalan air bersih bukan hanya isu teknis, tetapi persoalan kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan terpadu.

Baca Juga  Dalam Rangka Menyongsong Tahun Ke 2 Implementasi ISO 27001 PP IAI Terima Kunjungan Auditor Eksternal

Bagi warga Kampung Seunebok Aceh, kehadiran toren air membawa perubahan nyata. Selama ini, mereka harus menyesuaikan kebutuhan mandi, memasak, hingga mencuci dengan jadwal listrik yang tidak menentu. Kini, dengan adanya penampungan air, mereka memiliki cadangan yang lebih aman dan stabil.

“Kami sudah lama kesulitan air. Kalau listrik mati, air ikut mati. Sekarang ada penampungan, kami masih bisa menjaga kebersihan dan kesehatan keluarga,” ujar seorang warga.

Penyaluran toren air ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti pada pembersihan lumpur dan perbaikan fisik. Selama akses air bersih belum terpenuhi secara sistemik, risiko krisis kesehatan akan terus membayangi warga. Selama pula masyarakat masih bergantung pada kepedulian komunitas dan organisasi profesi untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar, maka persoalan air bersih pascabencana masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum selesai. (TMN)

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90