Site icon IAI NEWS

Agar Sukses Kelola Apotek, Ada Tiga Pilar Utama yang Harus Dipahami Apoteker

JAKARTA, IAINews – Agar sukses mengelola apotek, pengelola apotek harus memahami tiga pilar utama dalam pengelolaannya. Tiga pilar tersebut adalah operasional, keuangan dan sumber daya manusia (SDA).

‘’Tanpa memiliki pemahaman mendalam mengenai ketiga hal tersebut, akan sulit bagi pengelola apotek untuk mengembangkan apoteknya, baik dalam aspek bisnis maupun dalam hal pelayanan kepada masyarakat,’’ ungkap apt. Drs Pujianto, Direktur Utama PT Pharma Tekno Solusi kepada IAINews hari ini.

Apt. Pujianto menyampaikan hal tersebut, berkaitan dengan rencana digelarnya ‘Workshop Pengelolaan Apotek yang Baik dan Profesional’, pada 30 – 31 Januari 2026 di Sekretariat PP IAI, Jl Wijayakusuma No. 17, Jati Pulo, Palmerah, Jakarta.

Workshop diselenggarakan, atas inisiatif Ketua Umum PP IAI, apt Noffendri Roestam, S.Si, yang mengharapkan apoteker pengelola apotek dapat mengembangkan aspek bisnis sekaligus pelayanan kefarmasian di apotek.

Menurut apt Noffendri Roestam, jumlah apotek di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI tahun 2024, pada tahun 2023 tercatat 31.995 apotek yang beroperasi di Indonesia.

‘’Angka ini meningkat sebanyak 1.796 apotek dibandingkan tahun 2020, seperti teratat dalam Profil Kesehatan Indonesia 2021,’’ tutur apt. Noffendri.

Peningkatan jumlah apotek ini di satu sisi memberikan manfaat berupa kemudahan akses masyarakat terhadap obat dan layanan kefarmasian.

‘’Di sisi lain, peningkatan jumlah apotek ini juga berdampak pada semakin ketatnya persaiangan dalam bisnis apotek,’’ terang apt Noffendri.

Kondisi ini menjadi tantangan yang harus dihadapi para apoteker, terutama yang menyelenggarakan bisnis apotek secara perorangan maupun yang mengelolanya secara mandiri.

Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek bisnis, tetapi juga menyangkut pengelolaan sumber daya, strategi pelayanan pasien, manajemen keuangan, serta pemenuhan regulasi yang berkembang.

‘’Dalam situasi ini, apoteker perlu memiliki kapasitas manajerial dan strategi yang tepat guna memastikan keberlangsungan usaha, menjaga mutu pelayanan, serta tetap berdaya saing di tengah dinamika pasar,’’ tandas apt. Noffendri.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia, melalui PT Pharma Tekno Solusi (PharmaQ) akan menyelenggarakan workshop tata kelola apotek yang tidak hanya memberikan teori, tetapi juga mengintegrasikan praktik terbaik melalui pendampingan dari mentor berpengalaman.

‘’Program ini diharapkan dapat membantu apoteker dalam merancang strategi pengelolaan yang komprehensif, profesional dan adaptif terhadap perkembangan zaman,’’ tambah apt. Pujianto.

Dengan demikian apoteker tidak hanya mampu mempertahankan eksistensi bisnis apoteknya, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat secara berkelanjutan.

Peserta Terbatas

Menurut apt. Pujianto, karena workshop bersifat luring, maka peserta akan dibatasi hanya 40 orang tiap batch.

‘’Untuk batch pertama akan diselenggarakan di Jakarta, dengan peserta diharapkan berasal dari Jabodetabek. Batch berikutnya adalah di Medan pada awal Agustus mendatang bersamaan dengan penyelenggaraan Kongres dan PIT IAI 2026,’’ tutur apt. Pujianto.

Sebelum berangkat ke Medan, workshop serupa juga akan diselenggarakan di berbagai wilayah lain di Indonesia.

‘’Yang pasti mentor berasal dari praktisi yang telah berpengalaman puluhan tahun di bidangnya,’’ papar apt. Pujianto.

Mentor yang akan dihadirkan adalah apt. I Gede Purna Yogi Suara, S.Si CEO ApoteKu Group di Bali, apt Drs Juri Waltra pakar dibidang merchandising dan selling skill, serta M Aznan Firmansyah, ST, CEO Apotek Digital.

Apt. I Gede Purna Yogi Suara saat ini sukses mengembangkan 60 apotek di seantero Bali, setelah meninggalkan BUMN tempatnya mengabdi selama ini.

Sementara apt Juri Waltra adalah ahli di bidang merchandising, logistik, distribusi, inventory management dan supplyy chain management yang telah purna tugas dari Kimia Farma Apotek.

Aznan Firmansyah selama ini sukses mengelola Apotek Digital yang memberikan solusi digital dalam pengelolaan apotek di Indonesia.

‘’Workshop ini tidak hanya bermanfaat bagi apoteker, khususnya apoteker pengelola apotek, tetapi juga tenaga kesehatan lain atau pebisnis di bidang apotek yang ingin meningkatkan omset dan pelayanan apotek miliknya,’’ tutur apt. Pujianto.

Dengan biaya hanya Rp 2.500.000, apt Pujianto berharap workshop ini dapat dimanfaatkan maksimal oleh para apoteker dan tenaga kesehatan lain yang ingin meningkatkan profesionalismenya dalam mengemola apotek miliknya.***

Exit mobile version