DI SEBUAH desa yang dikelilingi pegunungan hijau, hiduplah seorang anak bernama Lili. Sejak kecil, Lili selalu mendengar ucapan lembut dari ayahnya.
“Kamu itu istimewa, Lili. Apa pun yang kamu impikan, kamu bisa meraihnya asalkan kamu mau berusaha!” itulah ajaran ayahnya setiap kali Lili merasa ragu dengan kemampuan dirinya.
Saat Lili tumbuh dewasa, ia selalu mengingat kata-kata tersebut. Ketika lulus sekolah, ia ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, biaya kuliah menjadi salah satu penghalang. Meski begitu, Lili tidak menyerah.
“Saya akan mencari jalan untuk membayar kuliah ini. Saya percaya ada cara,” pikirnya dalam hati.
Dengan optimisme yang ditanamkan sejak kecil oleh ayahnya, Lili mencari berbagai beasiswa dan bahkan bekerja paruh waktu.
Setiap kali ia menghadapi kesulitan dan tantangan, ia teringat akan ajaran ayahnya. Diksi positif yang diajarkan sejak kecil membuatnya mampu melewati masa-masa sulit tersebut.
“Ini hanya tantangan, saya pasti bisa melewatinya,” ucapnya pada diri sendiri.
Cerita Lili menggambarkan bagaimana diksi positif yang diajarkan oleh orang tua sejak usia dini memiliki dampak mendalam dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, termasuk saat ia mengalami masa sulit dan harus berjuang untuk kesehatannya.
Diksi positif yang diajarkan orang tua membentuk fondasi yang kuat bagi kesehatan mental anak. Dalam kisah Lili, ajaran ayahnya menciptakan keyakinan bahwa ia mampu menghadapi rintangan.
Ketika anak mendengar kalimat-kalimat positif, mereka belajar untuk melihat kemungkinan, bukan keterbatasan. Ini menjadi dasar bagi mereka ketika menghadapi permasalahan di kemudian hari.
Ketika dewasa, tantangan akan muncul lebih nyata, baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, hubungan, atau masalah kesehatan.
Diksi positif yang tertanam dalam diri Lili memberikannya kemampuan untuk bertahan. Saat ia menghadapi kesulitan untuk membayar kuliah, ia tidak membiarkan diri terpuruk.
Sebaliknya, ia mengingat ajaran ayahnya dan bertekad untuk tidak menyerah. Dalam situasi sulit, pendekatan positif ini membantunya tetap fokus pada solusi.
Seiring perjalanan hidup, Lili mengalami masalah kesehatan yang memerlukan tindakan medis. Alih-alih terlarut dalam ketakutan dan kecemasan, kembali kepada nilai-nilai positif yang diajarkan orang tua memotivasi Lili untuk tetap optimis.
“Saya akan sembuh, ini hanya sementara. Saya dikelilingi oleh orang-orang yang mendukung saya,” ujarnya. Keyakinan ini menjadi obat jiwa, membantunya menjalani proses pengobatan dengan semangat.
Diksi positif tidak hanya datang dari diri sendiri, dukungan dari orang-orang tercinta juga memainkan peran penting. Dalam cerita Lili, ia mengajak teman-temannya untuk berbicara tentang hal-hal positif ketika mereka berkumpul.
Membangun lingkungan positif bukan hanya membantu Lili, tetapi juga teman-temannya untuk merasakan kekuatan dalam bersatu dan mendukung satu sama lain.
Diksi positif yang diajarkan oleh orang tua bukan sekadar kata-kata, tetapi sebuah panduan hidup yang berharga. Seperti dalam perjalanan Lili, ajaran tersebut dapat memberi kekuatan, harapan, dan kesadaran bahwa setiap tantangan bisa dihadapi dengan semangat yang positif.
Saat kita menghayati diksi positif sejak kecil, kita membekali diri dengan alat yang penting untuk menghadapi berbagai permasalahan hidup di masa depan, termasuk dalam proses kesembuhan dan pengobatan.***



















