Makassar, IAINews — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terus mempercepat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) melalui kegiatan pemeriksaan aktif di seluruh kabupaten dan kota. Pada tahun 2025, pemerintah menargetkan 45.472 kasus TBC dapat ditemukan dan diobati sebagai bagian dari langkah strategis menuju eliminasi TBC pada tahun 2030.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, melaporkan bahwa hingga November 2025 capaian penemuan kasus baru TBC telah mencapai sekitar 52,4 persen dari target tahunan.
“Dinas Kesehatan Sulsel optimistis capaian ini dapat meningkat pada dua bulan terakhir tahun ini melalui pemeriksaan aktif di daerah-daerah dengan capaian rendah,” ujar Yusri di Makassar, Jumat (7/11).
Sebagai langkah strategis, pemerintah provinsi menggunakan portable X-ray di 13 kabupaten dan kota dengan tingkat temuan rendah. Penggunaan alat ini memungkinkan pemeriksaan langsung di lapangan tanpa pasien harus datang ke rumah sakit, sehingga mempercepat deteksi dini kemungkinan infeksi TBC. Portable X-ray tersebut dimanfaatkan untuk skrining aktif di wilayah yang jauh dari layanan kesehatan atau dengan tingkat penemuan kasus yang masih rendah.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sulsel, 13 daerah dengan capaian penemuan kasus TBC terendah antara lain Tana Toraja (22%), Toraja Utara (27%), Soppeng (30%), Enrekang (31%), Luwu Utara (34%), Bone (34%), Bulukumba (37%), Pinrang (37%), Luwu Timur (38%), Sidrap (39%), Barru (40%), dan Gowa (41%).
Sementara itu, daerah dengan capaian tertinggi adalah Makassar (100%), disusul Palopo (96%), Parepare (92%), Bantaeng (88%), dan Takalar (58%).

Yusri menjelaskan, untuk mencapai target eliminasi TBC, diperlukan koordinasi dan komunikasi lintas program di seluruh daerah. Setiap desa akan diberikan target penanganan TBC sesuai pembagian wilayah yang telah ditetapkan, dengan melibatkan kepala desa, lurah, dan camat sebagai bagian dari indikator kinerja pemerintah kabupaten dan kota.
Lebih lanjut, Yusri mengakui bahwa penanganan TBC masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya stigma sosial dan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap penyakit tersebut. Karena itu, Dinas Kesehatan Sulsel terus melakukan edukasi melalui pendekatan persuasif guna meningkatkan kesadaran serta kesabaran masyarakat dalam menjalani proses pengobatan hingga tuntas.
“Mari kita dukung program penanggulangan TBC dan tingkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini serta pengobatan yang tuntas,” pungkas Yusri.
Dengan langkah-langkah percepatan yang tengah dilakukan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan optimistis target eliminasi TBC pada 2030 dapat tercapai sesuai rencana, sekaligus memperkuat derajat kesehatan masyarakat di seluruh wilayah Sulsel. (TMN)



















