Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Kasus Keracunan Makanan Kembali Marak, Bagaimana Penanganannya?

Penulis: apt. Aulia Yahya, S.Farm (Tim Media Nasional IAI/PD IAI Sulawesi Selatan)Editor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

KERACUNAN makanan, atau disebut sebagai foodborne illness, merupakan kondisi klinis yang umumnya hanya terjadi pada sistem gastrointestinal dan bersifat self-limited.

Keracunan makanan disebabkan oleh kontaminasi pada makanan atau minuman dengan kontaminan dapat berupa bakteri, virus, parasit, atau bahan kimia.

Iklan ×

Menurut PERMENKES No. 2 Tahun 2013 disebutkan bahwa keracunan makanan adalah seorang yang menderita sakit dengan gejala dan tanda keracunan yang disebabkan mengonsumsi apa saja yang tercemar bahan kimia.

Faktor yang mempengaruhi pada kasus keracunan makanan adalah pengolahan makanan yang terkait dengan ketahanan hidup patogen, persiapan yang lama sebelum makanan dihidangkan, dan kesalahan dalam menyimpan makanan

Salah satu faktor penyebab keracunan makanan adalah terkontaminasi dengan Salmonella. Salmonella adalah genus bakteri enterobakteria Gram-negatif berbentuk tongkat yang mengakibatkan keracunan makanan.

Salmonella bisa berkembang dengan pesat apabila dalam pengolahan bahan dasar makanan tidak benar.

Selama proses produksi yang meliputi pengolahan, pengemasan, transportasi, penyiapan, penyimpanan dan penyajian makanan mungkin terpapar pada kontaminasi mikroba ataupun agen penyebab infeksi atau intoksikasi.

Baca Juga  RDPU Komisi II DPRD Kabupaten Tanah Laut dengan OP Kesehatan : Idealnya Setiap 50 Pasien Puskesmas Dilayani 1 Apoteker

Jika mikroba atau toksin yang dihasilkan mencapai jumlah yang cukup dan dikonsumsi oleh manusia, maka terjadilah keracunan makanan.

Penanganan dan pengolahan makanan jajanan yang tidak higienis dan tidak sesuai dengan ketentuan dapat menyebabkan penyakit akibat makanan. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi silang maupun kontaminasi ulang yang terjadi setelah pemasakan.

Keracunan makanan akan menyebabkan produksi air liur meningkat, rasa terbakar pada tenggorokan, mual-muntah, sakit tenggorokan dan pernafasan, kejang perut, diare, gangguan penglihatan, perasaan melayang, paralysis, demam, menggigil, rasa tidak enak, letih, kelenjar limfe membengkak, wajah memerah dan gatal gatal.

Adapun penanganan keracunan makanan tergantung pada penyebab dan keparahan gejala yang muncul. Umumnya, kondisi ini dapat ditangani di rumah tanpa pengobatan ke dokter.

Berikut adalah pertolongan pertama yang dapat dilakukan di rumah untuk mengatasi keracunan makanan:

Baca Juga  Ini Makna Atraksi “Pepe-Pepeka Ri Makka” Sebagai Tarian Penutup Pada Welcome Dinner Rakernas & PIT IAI 2025

– Penuhi kebutuhan cairan dalam tubuh dengan minum air sedikit demi sedikit.

– Konsumsi makanan secara perlahan dengan mengonsumsi makanan yang hambar (tidak berasa), rendah lemak, dan mudah dicerna, seperti nasi, roti, pisang, atau biskuit.

– Hindari jenis makanan dan minuman tertentu, seperti kafein, alkohol, produk yang mengandung susu, makanan berlemak, makanan yang terlalu manis, makanan pedas, dan makanan yang digoreng.

– Istirahat yang cukup.

– Minum obat diare yang bisa dibeli bebas.

Untuk kondisi tertentu yang memerlukan tindakan medis guna mengatasi keracunan makanan yang lebih serius, biasanya akan diberikan beberapa jenis obat, di antaranya:

  1. Rehidrasi

Rehidrasi bertujuan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat gejala diare dan muntah parah.

Pasien dapat mengonsumsi cairan oralit yang mengandung mineral berupa natrium, kalium, dan kalsium atau mendapatkan infus elektrolit supaya efeknya lebih cepat terasa.

Baca Juga  Isu Kesehatan di Pusaran Arus Politik

Penting juga untuk mengonsumsi makanan berkuah serta minum air mineral. Anak yang masih diberikan ASI bisa disusui lebih lama bila mengalami kondisi ini.

  1. Obat diare

Pasien juga akan diberikan obat diare untuk membantu memadatkan feses yang cair akibat keracunan makan.

Obat diare yang mengandung kaopectate dan aluminium hidroksida umumnya diberikan untuk mengurangi gejala diare yang berlangsung lebih dari beberapa hari.

Jenis obat ini bekerja dengan memperlambat pergerakan usus dan meningkatkan penyerapan air sehingga feses menjadi lebih padat.

  1. Obat antibiotik

Pada kasus keracunan yang disebabkan oleh infeksi bakteri, pasien bisa diberikan obat antibiotik.

Antibiotik umumnya diberikan untuk shigellosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Shigella. Obat ini akan mencegah penyebaran infeksi dan mempercepat pemulihan.

Namun, penggunaan antibiotik harus dilakukan dengan hati-hati. Gunakan obat ini sesuai resep untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90