KOTA KUPANG, IAI News — Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Nusa Tenggara Timur (PD IAI NTT) melakukan audiensi dengan Ketua Tim Penggerak (TP) PKK sekaligus Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi NTT di Kupang, Senin (25/5/2026). Pertemuan ini menandai kick-off resmi rangkaian kegiatan menuju Konferensi Daerah (Konferda) PD IAI NTT 2026, sekaligus mematangkan kolaborasi program strategis pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk persiapan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IAI NTT.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak mencapai kesepakatan untuk bersinergi menjalankan aksi nyata di tengah masyarakat melalui program Kampung ASK ME DAGUSIBU. Program ini mengusung tema “Apoteker Sahabat Keluarga Mengedukasi Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang Obat dengan Benar.”
Melalui program ini, edukasi terkait penggunaan obat yang rasional akan dilakukan secara door-to-door, dengan mendatangi langsung rumah-rumah warga untuk memberikan pemahaman mengenai cara memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat secara benar.

Kolaborasi ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya praktik penggunaan obat yang belum sesuai di masyarakat, termasuk rendahnya pemahaman tentang pengelolaan obat kedaluwarsa.
“Masih banyak masyarakat yang belum tahu cara membuang stok obat yang telah kedaluwarsa dengan benar,” ujar Ketua TP PKK Provinsi NTT, Ibu Mindriyati Astiningsih, yang juga merupakan seorang apoteker.
Program edukasi ini dinilai sejalan dengan agenda PKK dan Posyandu Provinsi NTT dalam meningkatkan kapasitas pengurus dan kader kesehatan masyarakat. Sebagai langkah awal, Kelurahan Tarus dan Kelurahan Merdeka di Kota Kupang telah ditetapkan sebagai lokus percontohan (pilot project) pelaksanaan Kampung ASK ME DAGUSIBU.
Implementasi teknis dari kerja sama ini akan dituangkan dalam bentuk perjanjian kerja sama resmi dan ditindaklanjuti melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek). Bimtek bagi pengurus PKK dan kader posyandu direncanakan berlangsung pada Juni 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).
Bimtek ini bertujuan membentuk tim relawan edukasi obat, di mana apoteker berperan sebagai fasilitator, sementara kader dan relawan masyarakat menjadi ujung tombak penggerak edukasi secara mandiri di wilayah masing-masing.
Untuk menjangkau wilayah yang luas di NTT, pelaksanaan Bimtek direncanakan dibagi berdasarkan regional, meliputi daratan Timor, Flores, dan Sumba. Program ini juga akan masuk dalam agenda Rapat Koordinasi TP PKK Provinsi NTT pada Juni 2026.
Selain penguatan edukasi di posyandu, kolaborasi ini juga akan diperluas melalui berbagai kegiatan publik, termasuk Gebyar Hari Anak Nasional 2026 pada Juli mendatang. Tak hanya itu, PD IAI NTT bersama TP PKK dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT juga merencanakan peluncuran podcast kolaboratif sebagai media edukasi kesehatan yang lebih luas dan adaptif terhadap perkembangan digital.
Sebagai bentuk komitmen formal, PD IAI NTT dan TP PKK Provinsi NTT sepakat untuk menandatangani Nota Kesepahaman (MoU). Penandatanganan tersebut direncanakan berlangsung pada salah satu momentum besar, seperti saat pelaksanaan Bimtek, peringatan World Pharmacists Day (WPD), atau dalam rangkaian Konferda dan PIT IAI NTT 2026.
Pertemuan strategis ini dihadiri langsung oleh Ketua TP PKK dan TP Posyandu Provinsi NTT, jajaran Kelompok Kerja (Pokja) dan Kabid IV TP PKK Provinsi NTT, serta delegasi PD IAI NTT yang meliputi Ketua PD IAI NTT, Ketua Panitia Konferda dan PIT IAI NTT 2026, anggota Dewan Pengawas, serta Majelis Kode Etik Apoteker Indonesia (MKEAI).
Melalui sinergi ini, PD IAI NTT dan TP PKK Provinsi NTT berharap literasi masyarakat terhadap penggunaan obat yang benar semakin meningkat, sehingga tercipta keluarga yang lebih sehat, cerdas, dan mandiri dalam pengelolaan obat di rumah tangga.













