JAKARTA, IAINews – EPIC Webinar Series 1 tahun 2026 yang membahas mengenai manajemen PPOK, sukses dilaksanakan dengan lebih dari 700 peserta yang antusias mengikuti kegiatan secara daring hingga akhir kegiatan. Mereka antusias menyampaikan pertanyaan untuk memperdalam materi.

Dengan dua narasumber, Dr. Dr. Susanthy Djajalaksana, SpP(K) dan apt Indri Mulyani Bunyamin, S.Farm, MARS, webinar kali ini dipandu oleh apt. Muhammad Thariq Nadhafi, S.Farm, M.Farm.Klin.
EPIC Webinar Series kali ini bertajuk Essential Role of Pharmacist In Asthma COPD Care ‘Pendekatan dan Kolaborasi yang Tepat untuk Management PPOK’.
Dr. Susanthy Djajalaksana, staf pengajar Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Univesitas Brawijaya, Malang ini, dalam kesempatan itu menguraikan mengenai ‘PPOK Bukan Asma : Menggali Lebih Dalam Perbedaan Tatalaksana’.
‘’PPOK merupakan salah satu tantangan kesehatan global yang semakin mendapatkan perhatian, merupakan kelompok penyakit paru kronik yang progresif dan umumnya tidak dapat disembuhkan, melibatkan gangguan aliran udara ke paru-paru,’’ tutur dr Susanthy mengawali materi.
Gejala utama PPOK adalah sesak nafas, batuk kronis dan peningkatan produksi dahan. Dua bentuk paling umum dari PPOK adalah bronkotis dan emfisema, meskipun sering kali keduanya terjadi bersamaan.

‘’Penyakit ini berkembang secara progresif dan dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup yang siginifikan,’’ terangnya.
Diagnosis PPOK memerlukan evaluasi medis yang cermat. Pemeriksaan fisik, tes fungsi paru dan gambaran radiologi digunakan untuk mengonfirmasi diagnosis.
Tes fungsi paru meliputi spirometri yang mengukur kapasitas paru dan aliran udara. Selain itu, kiteria diagnosis juga mencakup riwayat gejala pernapasan yang kronis, seperti batuk, produksi dahak dan sesak nafas.
Pengelolaan PPOK melibatkan pendekatan beragam yang mencaku perubahan gaya hidup, terapi farmakologi dan rehabilitas paru.
Merokok adalah salah satu faktor risiko utama, dan penghentian merokok adalah langkah kunci perubahan gaua hidup dalam menghentikan progresivigtas penyakit.
Sementara terapi farmakologi melibatkan bronkodilator dan kortikosteroid untuk mengendalikan gejala PPOK. Selain itu, rehabilitas paru dan program olahraga juga telah terbukti membantu memperbaiki kualitas hidup pasien.
Sementara itu, pembicara kedua, apt Indri Mulyani Bunyamin, S.Farm, MARS menyampaikan materi ‘Mengapa Peran Apoteker Penting dalam Tatalaksana PPOK?’.

Dalam sesi tersebut, apt. Indri Mulyani Bunyamin menyampaikan peran apoteker dalam mengedukasi pasien PPOK dan bagaimana pasien dapat mematuhi terapi yang diberikan.
‘’Sangat penting bagi apoteker memberikan edukasi bagaimana pasien harus mematuhi terapi yang telah diberikan oleh dokter,’’ ungkap apt. Indri Mulyani Bunyamin.
Apt. Indri Mulyani Bunyamin juga menyampaikan pentingnya PIO (Pelayanan Informasi Obat), melakukan konseling dan monitoring yang harus dilakukan oleh apoteker.
Hal ini dibutuhkan untuk memastikan pasien mendapatkan terapi yang tepat serta cara menggunakan inhalernya dengan tepat.
Webinar yang diselenggarakan atas kerjasama PT Pharma Tekno Solusi (PharmaQ) dengan Badiklat IAI ini mendapatkan dukungan penuh dari PT APL (Anugrah Pharmindo Lestari) dan Respimat Soft Mist Inhaler.
Respimat Soft Mist Inhaler adalah alat inhaler cair tanpa propelan (bebas CFC) yang menghasilkan kabut lambat dan lembut, memudahkan obat mencapai paru-paru secara efektif.
Menggunakan teknologi TOP (Turn, Open, Push) atau putar, buka dan tekan, inhaler ini dirancang untuk kemudahan penggunaan.
Cara penggunaan Respimat dengan 3 langkah utama adalah Putar, pastikan penutup tertutup, putar dasar transparan sesuai arah panah hingga berbunyi klik, buka penutup mouthpiece kemudian hembuskan nafas, letakkan mouthpiece di mulut, tarik napas dalam dan lambat sambil menekan tombol dosis. Ulangi langkah tersebut jika diperlukan dosis kedua.
Kelebihan Respimat Soft Mist Inhaler ini adalah dapat diisi ulang hingga enam kali, sehingga ramah lingkungan.
Apt. Indri Mulyani Bunyamin juga mengingat beberapa hal yang penting untuk diperhatikan, yang perlu disampaikan oleh apoteker kepada pasien.
‘’Sebagai apoteker kita perlu memastikan pasien telah melakukan persiapan dengan baik sebelum menggunakan inhalernya, yaitu inhaler baru harus disiapkan dengan memasukkan kartritd dan melakukan priming (menyemprot ke udara) sekitar 3 kali hingga kabut terlihat,’’ urai apt. Indri Mulyani Bunyamin.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah memperhatikan indikator di samping. Jika warna kuning, dosis hampir habis, jika warna merah, kartrid harus segera diganti.
Penting juga untuk menjaga kebersihan dengan membersihkan mouthpiece dengan tisu kering secara rutin. Tidak kalah penting adalah saat penyimpanan, jangan mengocok inhaler.***















