Medan, IAINews — Gelombang bantuan kesehatan terus mengalir ke kawasan terdampak banjir di Aceh Tamiang. Selain dukungan medis dari berbagai instansi, sejumlah apoteker relawan dari Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Sumatera Utara menunjukkan peran pentingnya dalam upaya pemulihan kesehatan masyarakat. Yang menarik, beberapa dari mereka adalah alumni Apoteker Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam (INKES Medistra) yang datang bukan atas paksaan, melainkan panggilan kemanusiaan.
Panggilan Hati di Tengah Banjir
Banjir yang melanda Aceh Tamiang dalam beberapa pekan terakhir telah menciptakan krisis multifaset, mulai dari gangguan akses air bersih, meningkatnya penyakit infeksi, hingga kebutuhan obat-obatan yang mendesak. Dalam situasi ini, kehadiran tim Apoteker Tanggap Bencana (ATB) IAI menjadi salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan non-bedah yang strategis.

Koordinator Tim ATB di lokasi bencana, Apt. Busman Nur, menyatakan bahwa kebutuhan tenaga apoteker di lapangan sangat tinggi karena apoteker memiliki kapabilitas tidak hanya dalam distribusi obat tetapi juga dalam edukasi penggunaan obat yang aman di masa krisis.
“Kita membutuhkan tenaga profesional yang bisa cepat merespons kebutuhan warga, baik dari sisi ketersediaan obat maupun edukasi penggunaan yang benar. Kehadiran teman-teman alumni INKES Medistra sangat membantu tim dalam mempercepat pelayanan dan menciptakan kepercayaan masyarakat terhadap respon kesehatan di lapangan,” jelas Apt. Busman.
Alumni INKES Medistra: Profesionalisme Bertemu Empati
Sejumlah alumni INKES Medistra hadir menjadi bagian dari tim. Di antara mereka:
Apt. Fildza Diah Asfarina, S.Farm. Menyatakan bahwa keterlibatannya bukan semata tugas profesional, tetapi bentuk kepedulian terhadap sesama yang tengah mengalami musibah.
“Ini bukan sekadar tugas profesi; ini panggilan hati. Kita datang ke sini untuk berdiri bersama warga terdampak, memastikan mereka mendapatkan layanan kesehatan yang sebaik-baiknya.”
Apt. Lili Hotmaida Harp, S.Farm. menambahkan bahwa pengalaman ini membuka matanya tentang betapa pentingnya peran apoteker dalam konteks darurat.
“Saya menjadi semakin tertarik dengan peran ATB IAI setelah terjun langsung. Kalau PD IAI Sumut nanti mengadakan pelatihan ATB, saya sangat ingin ikut supaya kompetensi saya makin siap.”

Peran Apoteker di Tengah Krisis Kesehatan
Menurut keduanya, peran apoteker dalam situasi banjir tidak sebatas membagikan obat. Tanggung jawab ATB ternyata lebih dari yang kami bayangkan, mulai dari :
- Screening kebutuhan medis bersama tenaga kesehatan lain : Mengidentifikasi kondisi penyakit yang muncul setelah banjir seperti diare, ISPA, infeksi kulit, hingga resiko penyakit vektor.
- Konseling penggunaan obat : Memberikan edukasi kepada warga tentang cara pemakaian obat yang aman, dosis yang tepat, serta peringatan efek samping, terutama ketika layanan kesehatan penuh dan rawan salah konsumsi obat.
- Koordinasi logistik obat : Membantu tim distribusi dalam memetakan kebutuhan obat di setiap dusun dan desa sehingga suplai lebih tepat sasaran.
Tantangan di Lapangan
Meski penuh semangat, para apoteker relawan menghadapi beberapa kendala di lapangan diantaranya :
- Akses wilayah yang masih terputus akibat genangan air dan infrastruktur rusak, membuat mobilisasi obat dan alat kesehatan terhambat.
- Komunikasi dengan masyarakat, Beragamnya budaya dan bahasa di beberapa desa memerlukan pendekatan komunikasi yang sensitif dan adaptif.
- Risiko kesehatan relawan, Kondisi lingkungan yang lembap dan penuh kontaminan menuntut relawan menjaga kesehatan diri sendiri sambil merawat warga.
Apt. Busman menegaskan bahwa kendala ini justru memperlihatkan kebutuhan sistematis akan pelatihan ATB yang terstruktur dan rutin bagi apoteker, sehingga mereka lebih siap dalam kondisi darurat.
Program ATB IAI digagas sebagai respon organisasi profesi terhadap kebutuhan pelayanan farmasi dalam bencana. Tujuannya antara lain, meningkatkan kapasitas apoteker dalam penanggulangan bencana, menyediakan tenaga apoteker yang siap tanggap darurat, mengintegrasikan peran apoteker dalam tim kesehatan lintas profesi, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan penggunaan obat yang aman pasca bencana
Menurut catatan PD IAI Sumut apt. Sumardi, keterlibatan alumni perguruan tinggi kesehatan seperti INKES Medistra menunjukkan bahwa kurikulum profesi yang kuat juga menanamkan nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial pada lulusannya.
Dampak Nyata di Lapangan
Selama 3 hari terakhir, tim ATB bersama alumni telah melayani ratusan pasien dengan berbagai keluhan pascabanjir. Intervensi apoteker terbukti membantu mengurangi kekhawatiran warga tentang efek samping obat, interaksi obat, dan penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan hal tersebut terkadang menjadi isu yang sering muncul dalam situasi krisis kesehatan.
Kegiatan pelayanan pada korban banjir di tamiang bukan sekadar memberi obat, melainkan membangun ketangguhan kesehatan komunitas di masa krisis. Kolaborasi antara PD IAI Sumut dan alumni INKES Medistra menjadi contoh nyata bagaimana peran profesi kesehatan dapat berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan.
“Ini bukan akhir, tetapi awal komitmen kami untuk terus belajar dan hadir di setiap momen masyarakat membutuhkan,” pungkas Apt. Lili.
Peran apoteker dalam konteks bencana semakin terlihat strategis, tidak hanya sebagai penyedia obat, tetapi sebagai agen edukasi, mitigasi risiko kesehatan, dan pemersatu komunitas dalam kondisi krisis. Kolaborasi lembaga profesi dan perguruan tinggi seperti yang terjadi antara IAI dan alumni INKES Medistra menjadi model respons kemanusiaan yang perlu diperluas ke wilayah lain. (TMN)



















