Yogyakarta, IAINews – Program talk show ‘Obatku Obat Kita’ dari Farmasi UII dan Unisi FM telah menjadi benteng informasi kesehatan terpercaya selama 18 tahun, sejak Juli 2007. Program legendaris ini membuktikan relevansinya di penghujung 2025 dengan mengangkat isu genting Perlawanan terhadap Resistensi Antimikroba (AMR).
Tayang perdana pada Juli 2007, program ini kini memasuki akan segera memasuki tahun ke-19 penayangannya. Hal ini membuktikan bahwa informasi yang valid dan edukatif memiliki pendengar fanatiknya sendiri, sehingga pihak Unisi FM berkomitmen mempertahankan eksistensi rubrik ini.
Jejak 18 Tahun Mengawal Informasi
“Obatku Obat Kita” bukan sekadar bincang-bincang biasa. Selama kurun waktu tersebut, para dosen Farmasi UII secara bergantian berperan sebagai narasumber, selalu memberikan pembaruan informasi yang akurat tentang penggunaan obat untuk berbagai keluhan kesehatan.

Program ini juga berfungsi sebagai klarifikator isu. Melalui siaran, Farmasi UII sering mengklarifikasi berbagai isu yang beredar luas di masyarakat, mulai dari penarikan obat yang bermasalah, public warning yang dikeluarkan Badan POM, kebijakan baru yang bersinggungan dengan obat, hingga menangkal berbagai hoax kesehatan yang meresahkan. Kehadiran suara pakar secara rutin telah menjadikan talk show ini sebagai rujukan terpercaya di kalangan pendengar.
Puncak Edukasi 2025: Melawan Kuman Kebal
Menutup tahun 2025, topik yang diangkat dalam siaran “Obatku Obat Kita” sangat relevan dengan isu kesehatan global: Antimicrobial Resistance (AMR), sejalan dengan pelaksanaan World AMR Awareness Week (WAAW) yang baru saja usai.
Talkshow tersebut menampilkan salah satu narasumber dosen Farmasi UII yang akrak disapa penyiar dan pendengarnya sebagai “Lik Sukir” membahas secara komprehensif:
- Pengenalan Antimikroba: Mengingat kembali manfaat besar obat-obatan penyelamat nyawa dan sejarah penemuannya.
- Kedaruratan AMR: Memaparkan data ancaman global, bahaya kuman kebal, dan kerugian besar yang ditimbulkan AMR di berbagai sektor.
- Perilaku Pemicu: Mengupas tuntas perilaku masyarakat yang salah (seperti penggunaan antibiotik untuk virus dan pengobatan tidak tuntas) yang mempercepat resistensi.
- Solusi: Mempromosikan Gerakan Jagareksa Antimikroba melalui Perilaku 3H—Hanya dengan Resep Dokter, Harus Dihabiskan, dan Hindari Berbagi Antimikroba.
Kunci Kesuksesan: Kepercayaan dan Kontinuitas
Pihak Unisi FM menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kualitas konten yang disajikan Farmasi UII. Program yang dikelola dengan baik dan fokus pada kebutuhan informasi publik ini terbukti memiliki daya tahan yang luar biasa. Rubrik ini telah membentuk audiens yang loyal dan kritis terhadap isu kesehatan.

Keberhasilan program “Obatku Obat Kita” membuktikan bahwa sinergi antara akademisi dan media penyiaran adalah strategi yang efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Komitmen 18 tahun dari Farmasi UII tidak hanya mencerminkan dedikasi profesionalisme, tetapi juga kontribusi nyata dalam upaya Jagareksa Antimikroba dan membangun masyarakat yang lebih bijak dalam penggunaan obat.
Jaya terus “Obatku Obat Kita”
Dunia berjuang melawan pandemi informasi yang menyesatkan, sementara suara para Apoteker dan Dosen Farmasi UII melalui Unisi FM terus menjadi oasis pengetahuan yang menenangkan dan memberdayakan. Program ini diharapkan terus jaya, mengudara, menjaga amanah pendidikan publik bagi masyarakat dan generasi mendatang.












